Jagosatu.com - China mencatat rekor mengejutkan setelah tidak mengimpor satu pun kedelai dari Amerika Serikat selama bulan September 2025.
Data dari General Administration of Customs China menunjukkan angka impor nol dari AS pada bulan tersebut.
Padahal, selama ini Amerika adalah salah satu pemasok kedelai terbesar untuk China.
Sebagai gantinya, China mengalihkan pembelian kedelai ke negara-negara Amerika Selatan seperti Brasil dan Argentina.
Menurut laporan The Star Malaysia, keputusan ini terkait dengan upaya China untuk mengurangi ketergantungan pada pasokan dari Amerika.
Langkah ini juga dianggap sebagai bagian dari strategi perdagangan baru China di tengah tensi ekonomi dengan Washington.
Baca Juga: China Kelelahan Bersaing! Fenomena ‘Involution’ Bikin Ekonominya Tersendat
Kedelai merupakan bahan penting untuk pakan ternak dan produksi minyak nabati di China.
Dengan permintaan yang terus meningkat, langkah mengganti sumber impor ini menarik perhatian pasar global.
Para petani di Amerika Serikat mulai khawatir karena ekspor kedelai mereka bisa turun drastis.
Menurut U.S. Department of Agriculture (USDA), sekitar 60% ekspor kedelai AS biasanya dikirim ke China setiap tahun.
Jika China terus menurunkan pembelian, dampaknya bisa besar bagi pendapatan petani di wilayah Midwest AS.
Di sisi lain, Brasil dan Argentina mendapatkan keuntungan karena ekspor mereka ke China meningkat tajam.
Harga kedelai di pasar internasional pun ikut naik karena perubahan jalur perdagangan ini.
Menurut analis dari Reuters, langkah China bisa memicu perubahan besar dalam rantai pasok pangan global.
Bahkan, beberapa ekonom memperkirakan bahwa ketegangan perdagangan antara China dan AS bisa kembali meningkat.
Meski begitu, pemerintah China mengklaim bahwa keputusan tersebut murni alasan ekonomi, bukan politik.
China ingin memastikan pasokan yang lebih stabil dengan harga yang lebih kompetitif.
Namun, pengamat internasional menilai langkah ini tetap memiliki dampak politik yang kuat.
Hubungan dagang China dan Amerika yang sudah renggang bisa semakin tegang akibat kebijakan baru ini.
Pemerintah AS kemungkinan akan menekan Beijing untuk membuka kembali akses ekspor kedelai di masa depan.
Sementara itu, negara-negara produsen lain seperti Kanada dan Paraguay ikut mencoba mengambil peluang pasar baru ini.
Banyak pakar memperkirakan situasi ini bisa bertahan hingga akhir tahun 2025 jika tidak ada kesepakatan dagang baru.
Di sisi pasar saham, perusahaan agribisnis seperti Cargill dan Archer Daniels Midland (ADM) mulai terdampak oleh ketidakpastian ini.
Namun, beberapa investor melihat peluang baru di Amerika Selatan karena kenaikan permintaan dari China.
Krisis kedelai ini menunjukkan betapa sensitifnya rantai pasok global terhadap keputusan perdagangan antarnegara besar.
Jika kondisi ini terus berlanjut, bisa jadi harga pangan dunia ikut naik di awal 2026.
(J)
Editor : ALengkong