Jagosatu.com - Dunia finansial kembali dibuat tegang setelah peringatan keras datang dari Bank of England (BoE) soal tanda-tanda krisis seperti tahun 2008.
Gubernur BoE mengatakan ada “gema mengkhawatirkan” dari krisis keuangan global yang pernah mengguncang dunia hampir dua dekade lalu.
Peringatan itu muncul setelah dua perusahaan kredit swasta besar di Amerika Serikat mengalami gagal bayar utang.
Menurut laporan dari The Guardian, kejadian itu membuat pasar kredit swasta mengalami gejolak besar dan memicu kepanikan investor.
Pasar kredit swasta sendiri adalah tempat perusahaan besar meminjam uang di luar sistem perbankan resmi.
Sistem ini memang membantu perusahaan mendapatkan dana cepat, tapi risikonya jauh lebih tinggi karena tidak diawasi seketat bank.
Menurut pakar ekonomi dari London School of Economics, sistem kredit swasta bisa menjadi “bom waktu” jika terus tumbuh tanpa kontrol.
Gubernur BoE, Andrew Bailey, memperingatkan bahwa apa yang terjadi di AS bisa berdampak luas ke seluruh dunia.
Ia menilai banyak negara sudah mulai menghadapi tekanan likuiditas dan kenaikan suku bunga yang membuat utang sulit dibayar.
Dilansir dari The Guardian, Bailey menyebut bahwa kondisi ini mirip seperti awal mula krisis sub-prime tahun 2008.
Pada waktu itu, banyak lembaga keuangan kolaps karena gagal bayar pinjaman properti yang kemudian menular ke seluruh dunia.
Kali ini, ancamannya datang dari pasar kredit swasta yang nilainya sudah mencapai triliunan dolar AS.
Investor besar seperti dana pensiun dan perusahaan asuransi kini mulai berhati-hati mengurangi eksposur mereka di sektor ini.
Beberapa analis bahkan menyebut pasar ini sebagai “shadow banking system” atau sistem perbankan bayangan yang tidak terlihat tapi punya pengaruh besar.
Bank of England menyerukan agar lembaga keuangan internasional mulai memperketat pengawasan terhadap aktivitas kredit swasta.
Menurut data BoE, jumlah pinjaman berisiko tinggi meningkat 17% sepanjang tahun 2025 dibanding tahun sebelumnya.
Hal ini bisa menjadi sinyal bahwa banyak perusahaan mulai kesulitan mencari dana dari sumber resmi dan beralih ke pembiayaan alternatif.
Kondisi itu berpotensi memicu “efek domino” jika satu perusahaan besar gagal bayar dan menular ke lembaga lain.
Pasar keuangan global kini sedang memantau perkembangan ini dengan sangat hati-hati.
Peringatan BoE juga menjadi sinyal bagi bank sentral lain untuk lebih waspada dalam menetapkan kebijakan moneter.
Jika krisis seperti 2008 benar-benar terulang, dampaknya bisa menghancurkan banyak sektor ekonomi, termasuk lapangan kerja dan investasi.
Namun beberapa analis masih optimis, karena sistem keuangan saat ini lebih kuat dibanding 17 tahun lalu.
Walau begitu, BoE tetap mengingatkan agar dunia tidak terlena, karena krisis sering datang saat semua orang merasa aman.
Situasi ini kembali membuktikan bahwa ekonomi global memang rapuh dan saling terhubung sangat erat.
Sekali ada masalah di satu negara besar, efeknya bisa menyebar dengan cepat ke seluruh dunia.
Kini, perhatian dunia tertuju pada AS dan Bank of England: apakah mereka mampu mencegah “gema krisis” itu jadi kenyataan?
(J)
Editor : ALengkong