Jagosatu.com - Kabar mengejutkan datang dari salah satu restoran cepat saji paling legendaris di dunia, Pizza Hut, yang baru-baru ini mengalami pukulan telak di Inggris.
Pizza Hut di Inggris terpaksa harus mengambil keputusan pahit untuk menutup puluhan restorannya.
Sebanyak 68 gerai restoran dan 11 lokasi layanan antar (delivery sites) di Inggris dikabarkan akan ditutup permanen, dilansir dari The Guardian dan detikFinance.
Keputusan besar ini diambil setelah perusahaan operator waralaba Pizza Hut di Inggris, yaitu DC London Pie Limited, resmi dinyatakan bangkrut atau masuk dalam proses administrasi.
Administrasi adalah istilah resmi di Inggris yang hampir sama dengan pailit atau bangkrut, di mana sebuah perusahaan tidak mampu lagi membayar utang-utangnya dan dikendalikan oleh administrator untuk restrukturisasi atau likuidasi.
Tentu saja, penutupan besar-besaran ini membawa dampak yang sangat menyedihkan bagi para pekerja di sana.
Diperkirakan, ada sekitar 1.210 pekerja yang terancam kehilangan pekerjaan mereka atau terkena PHK (Pemutusan Hubungan Kerja), dilansir dari Tirto.id.
Kejadian ini terjadi karena DC London Pie Limited tidak mampu lagi menahan tekanan biaya operasional yang disebut-sebut "membabi buta" di Inggris.
Salah satu penyebab utama keruntuhan ini adalah kenaikan biaya operasional yang sangat tinggi, termasuk biaya tagihan energi yang membengkak.
Selain itu, kenaikan upah staf dan iuran jaminan sosial karyawan (employer social security contributions) juga ikut membebani keuangan perusahaan.
Kondisi ini diperparah dengan melemahnya daya beli konsumen di Inggris.
Banyak warga Inggris yang sedang kekurangan uang karena krisis, sehingga mereka mengurangi kegiatan makan di luar rumah (dining out), menurut The Straits Times.
Industri casual dining—istilah untuk restoran santai yang harganya tidak terlalu mahal seperti Pizza Hut—menjadi yang paling terpukul karena konsumen memilih memasak di rumah.
Ironisnya, operator waralaba ini, DC London Pie, baru saja mengambil alih bisnis restoran Pizza Hut di Inggris hanya sembilan bulan yang lalu.
Mereka mengambil alih 139 restoran dari waralaba sebelumnya yang juga mengalami kesulitan finansial, dilansir dari Bradford Telegraph and Argus.
Namun, takdir berkata lain, investasi baru tersebut tidak mampu membendung arus kerugian yang terus terjadi.
Langkah administrasi yang diambil DC London Pie ini adalah upaya terakhir untuk menyelesaikan masalah utang yang menumpuk.
Untungnya, ada sedikit kabar baik di tengah kekacauan ini yang berhasil menyelamatkan sebagian karyawan.
Pemilik merek Pizza Hut secara global, yaitu perusahaan raksasa hospitality Amerika Serikat, Yum! Brands, bergerak cepat.
Yum! Brands adalah perusahaan induk yang sangat besar, pemilik dari merek-merek terkenal seperti KFC dan Taco Bell.
Melalui skema yang disebut pre-pack administration deal, Yum! Brands memutuskan untuk membeli kembali sisa operasi di Inggris.
Skema ini adalah cara cepat menjual aset perusahaan yang bangkrut sebelum dilikuidasi total.
Aksi penyelamatan ini berhasil mengamankan 64 restoran Pizza Hut yang masih menguntungkan dan bagus.
Secara keseluruhan, aksi Yum! Brands ini menyelamatkan nasib 1.277 pekerja, dilansir dari The Guardian.
Ini berarti lebih dari separuh pekerja yang terancam PHK masih bisa bernapas lega karena pekerjaan mereka diselamatkan oleh pemilik merek global.
Namun, bagi 1.210 karyawan dari 68 gerai yang ditutup, mimpi buruk PHK tetap menjadi kenyataan.
Beberapa restoran yang ditutup tersebar di berbagai kota besar, seperti Brighton, Bristol, Hull, Leeds, dan Edinburgh.
Penutupan ini menunjukkan betapa sulitnya industri restoran di Inggris menghadapi tekanan ekonomi pasca-pandemi dan inflasi tinggi.
Para analis menyebutkan bahwa persaingan dari rival Neapolitan atau restoran pizza yang lebih kontemporer juga ikut mengikis pasar Pizza Hut.
Neapolitan Rivals adalah istilah untuk restoran pizza yang menawarkan pengalaman makan lebih modern, seringkali berfokus pada pizza otentik Italia yang dimasak di oven kayu.
Pizza Hut, yang dikenal sebagai tempat makan keluarga (family dining out) sejak dibuka pertama kali pada tahun 1973 di Inggris, kini harus menyesuaikan diri dengan tren baru.
Nicolas Burquier, Managing Director dari Yum! Brands Eropa dan Kanada, mengatakan bahwa akuisisi ini bertujuan untuk melindungi pengalaman tamu dan pekerjaan di lokasi yang masih memungkinkan.
Fokus utama mereka saat ini adalah menjamin kontinuitas operasional di lokasi yang diakuisisi.
Pihak administrator, FTI Consulting, juga berjanji akan membantu karyawan yang terkena PHK agar mendapatkan dukungan yang mereka butuhkan.
Kisah Pizza Hut di Inggris ini menjadi contoh nyata dari tantangan yang dihadapi oleh bisnis-bisnis besar dalam menghadapi krisis ekonomi.
Kenaikan harga bahan baku, biaya tenaga kerja, dan menurunnya pengeluaran konsumen menjadi kombinasi maut yang membuat raksasa casual dining ini terpuruk.
Ini menjadi pengingat bagi bisnis di mana pun bahwa model bisnis lama harus terus berinovasi agar bisa bertahan.
Banyak perusahaan besar lain, seperti Amazon, juga melakukan PHK, menunjukkan bahwa gelombang PHK massal benar-benar melanda dunia saat ini.
Meskipun Yum! Brands berhasil menyelamatkan sebagian besar operasi, hilangnya 68 gerai tetap menandai akhir dari sebuah era bagi merek ikonik ini di Inggris.
Pizza Hut kini harus berjuang keras dengan 64 gerai yang tersisa untuk memenangkan kembali hati konsumen muda.
Perusahaan perlu memutuskan apakah akan mengandalkan nostalgia atau berinvestasi besar-besaran untuk mengejar tren konsumen yang lebih cerdas dan modern.
Tentu, semoga para pekerja yang terkena dampak PHK bisa segera mendapatkan pekerjaan baru.
Krisis ini adalah pelajaran berharga bagi seluruh industri hospitality di dunia.
VYR
Editor : Toar Rotulung