Jagosatu.com – Pasar saham Inggris mengalami kejutan besar setelah saham perusahaan periklanan WPP anjlok tajam pada 30 Oktober 2025.
Harga saham WPP turun hingga 15% dan mencapai titik terendah sejak tahun 1998.
Menurut laporan The Guardian, penurunan ini disebabkan oleh pemangkasan target pendapatan perusahaan untuk tahun 2025.
WPP menyatakan bahwa permintaan iklan global menurun drastis di tengah ketidakpastian ekonomi dan perlambatan konsumsi.
CEO WPP, Mark Read, mengakui bahwa perubahan tren belanja iklan digital menjadi salah satu penyebab utama turunnya pendapatan.
Sektor teknologi dan otomotif disebut sebagai klien terbesar yang memangkas pengeluaran iklan mereka.
Penurunan belanja iklan global juga terlihat di beberapa pasar utama seperti Amerika Serikat dan Eropa.
Baca Juga: Indonesia Izinkan Amman Mineral Ekspor Tembaga Lagi! Larangan Dicabut, Ekonomi Tambang Bergairah
Analis dari Barclays mengatakan bahwa hasil keuangan WPP menjadi “sinyal bahaya” bagi industri periklanan internasional.
Di sisi lain, saham-saham pesaing seperti Publicis dan Omnicom juga ikut melemah setelah laporan tersebut dirilis.
Pasar FTSE 100 pun terhenti dari tren kenaikan selama dua minggu berturut-turut karena sentimen negatif dari sektor periklanan.
Dilansir dari Reuters, investor kini menunggu hasil kuartalan perusahaan teknologi besar yang menjadi penggerak belanja iklan global.
Beberapa investor menyebut situasi ini mirip dengan krisis tahun 2001 saat dot-com bubble meledak dan belanja iklan menurun tajam.
Namun, WPP berjanji akan melakukan restrukturisasi bisnis dan memperkuat layanan berbasis AI serta analitik data.
Perusahaan ini berharap dapat memulihkan margin keuntungan pada semester pertama tahun 2026.
Meskipun demikian, banyak investor ritel Inggris yang panik dan menjual saham mereka secara besar-besaran.
Situasi ini sempat membuat indeks FTSE 100 turun lebih dari 0,8% pada akhir perdagangan.
Kepala analis di London Stock Exchange menyebut bahwa pasar sedang “menyesuaikan ekspektasi terhadap realitas ekonomi digital”.
Sementara itu, beberapa analis menilai penurunan WPP hanya bersifat sementara karena fundamental perusahaannya masih kuat.
Investor jangka panjang diimbau untuk tetap tenang dan menunggu hasil kinerja kuartal selanjutnya.
WPP sendiri mengaku optimis bahwa pasar iklan global akan kembali pulih setelah kondisi ekonomi membaik pada 2026.
(J)
Editor : ALengkong