Arkeologi Daerah Ekonomi Ekonomi & Bisnis Esport Gaya Hidup Global Headline Hiburan Hukum & Kriminal Kesehatan Lifestyle & Hiburan Nasional Olahraga Pemerintahan Politik Sains & Teknologi Teknologi Wisata Wisata & Kuliner

Gubernur The Fed Stephen Miran Desak Pemangkasan Suku Bunga, Pasar Langsung Geger

ALengkong • 2025-11-13 10:15:23

Photo
Photo

Jagosatu.com – Gubernur Federal Reserve, Stephen Miran, kembali menjadi sorotan setelah menyerukan pelonggaran kebijakan moneter AS.

Menurut laporan dari IndoPremier News, Miran menilai kebijakan The Fed saat ini terlalu ketat untuk kondisi ekonomi AS yang sudah melambat.

Ia menilai The Fed terlalu fokus pada data inflasi yang disebutnya “lagging”, atau tertinggal dari kondisi nyata di lapangan.

Miran mengatakan, jika kebijakan tidak segera dilonggarkan, pasar tenaga kerja bisa terpukul lebih dalam.

Istilah kebijakan moneter “ketat” berarti suku bunga tinggi dan peredaran uang di masyarakat dibatasi.

Hal itu biasanya dilakukan untuk menekan inflasi, tetapi efek sampingnya bisa memperlambat pertumbuhan ekonomi.

Baca Juga: Ekonomi Digital ASEAN Meledak! 2025 Jadi Tahun Pemantik Revolusi Bisnis Online

Menurut Miran, inflasi AS sebenarnya sudah mulai menurun sejak awal 2025.

Namun The Fed belum menurunkan suku bunga karena masih menunggu data inflasi resmi yang baru keluar beberapa bulan kemudian.

Keterlambatan data ini membuat keputusan The Fed tidak sinkron dengan kondisi pasar sebenarnya.

Beberapa analis mendukung pandangan Miran karena ekonomi AS memang menunjukkan tanda-tanda pelemahan konsumsi rumah tangga.

Tingkat pengangguran juga sedikit naik, menandakan daya beli masyarakat mulai turun.

Jika bunga tinggi terus dipertahankan, kredit akan semakin mahal dan investasi baru bisa menurun.

Miran mengusulkan agar suku bunga mulai diturunkan secara bertahap sebelum akhir 2025.

Ia menilai langkah ini penting agar pasar saham dan real estate tidak jatuh terlalu dalam.

Namun, sebagian anggota The Fed masih menilai kebijakan ketat harus dijaga sampai inflasi benar-benar stabil di bawah 2 %.

Perdebatan ini membuat pasar global menunggu sinyal jelas dari rapat Federal Open Market Committee (FOMC) berikutnya.

Pelaku pasar menilai, jika The Fed turun bunga, maka dolar AS bisa melemah dan negara berkembang diuntungkan.

Termasuk Indonesia yang bisa mendapat aliran modal asing baru.

Kebijakan The Fed selalu menjadi patokan karena memengaruhi arah ekonomi dunia.

Oleh karena itu, pernyataan Miran langsung membuat pasar saham dan obligasi bereaksi cepat.

Investor kini menanti apakah Ketua The Fed, Jerome Powell, akan menanggapi usulan Miran itu dalam waktu dekat.

(J)

Editor : ALengkong
#ekonomi as #Suku Bunga #Kebijakan Moneter #Federal Reserve #Inflasi