Jagosatu.com - Isu penggunaan Kecerdasan Buatan atau AI (Artificial Intelligence) untuk membuat aset visual di dalam game besar kembali memicu keributan panas di kalangan komunitas gamer.
Activision, sebagai perusahaan induk dari franchise besar Call of Duty, sedang jadi sasaran kritik tajam dari para pemain setia.
Kritik ini muncul setelah game terbaru mereka, Call of Duty: Black Ops 7 (CoD BO7), dirilis dan banyak pemain mulai menemukan kejanggalan dalam beberapa gambar di dalamnya.
Kejanggalan yang paling mencolok ada pada calling cards dan emblem, yaitu gambar reward kosmetik yang didapatkan pemain setelah menyelesaikan misi atau tantangan tertentu.
Pemain menemukan gambar-gambar tersebut memiliki ciri khas hasil AI generatif yang sering kali bermasalah, seperti anatomi yang salah, khususnya pada bagian tangan manusia.
Contoh paling viral adalah penampakan gambar tangan dengan jari yang berlebihan (excessive phalanges), bahkan ada yang jelas-jelas terlihat memiliki enam jari di satu tangan (IconEra).
Fenomena visual yang aneh dan tidak wajar ini membuat para gamer yakin bahwa aset tersebut dibuat tanpa sentuhan akhir atau pengawasan serius dari seniman profesional (human artist).
Aset visual yang kualitasnya rendah dan tampak sloppy (istilah gaul untuk hasil yang ceroboh dan tidak rapi) ini langsung dijuluki sebagai "AI Slop" oleh komunitas gamer (Creative Bloq, Reddit).
AI Slop sendiri adalah istilah yang dipakai untuk menyebut konten digital yang dibuat oleh AI dengan cepat dan mengutamakan kuantitas tanpa peduli substansi atau kualitas (Source Title: AI slop - Wikipedia, penjelasan lebih detail: Ini adalah aset filler yang dianggap buruk, yang diproduksi oleh AI yang memprioritaskan kecepatan dan kuantitas di atas substansi dan kualitas).
Banyak pemain merasa kecewa dan marah karena mereka membayar harga penuh untuk game AAA (istilah industri untuk game dengan budget besar), tetapi justru mendapat artwork yang terlihat seperti hasil generator gambar gratisan.
Rasa kecewa ini juga dipicu karena calling cards dan emblem dulunya adalah reward yang spesial, yang menunjukkan keterampilan dan kerja keras seniman yang membuatnya (IconEra).
Activision akhirnya mengeluarkan pernyataan resmi dan mengakui bahwa studio mereka memang menggunakan berbagai alat digital, termasuk AI, untuk mendukung tim mereka (Gizmologi).
Namun, mereka tetap bersikeras bahwa seniman manusia masih memimpin dan memfinalisasi konten tersebut.
Pernyataan dari Activision tersebut justru tidak meredakan amarah komunitas, sebab hasil akhir yang ditemukan pemain terlihat jelas tidak difinalisasi dengan benar oleh seniman (human artist).
Kritik ini bukan yang pertama kalinya, karena game Call of Duty sebelumnya, seperti Black Ops 6 di tahun 2024 dan Modern Warfare 3 di tahun 2023, juga pernah menghadapi backlash serupa terkait penggunaan aset AI (IconEra, IGN).
Masalah ini menyentuh isu yang lebih besar di industri gaming, yaitu tentang etika, transparansi, dan masa depan seniman di tengah masifnya adopsi teknologi AI generatif.
Banyak pemain khawatir perusahaan game besar kini mencoba memotong biaya produksi art dengan mengganti atau mengurangi peran seniman (artist) dan mengandalkan tool AI yang lebih murah.
Penggunaan AI tanpa transparansi yang jelas dianggap sebagai pengkhianatan terhadap standar kualitas yang selama ini dijunjung oleh franchise sebesar Call of Duty.
Bahkan, beberapa review di platform Steam menunjukkan reaksi yang sangat keras dari pemain, memberikan skor 0 dan menyebut game ini sebagai "sampah murni yang penuh dengan AI slop" (TechEDT).
Kontroversi ini juga membuat Call of Duty: Black Ops 7 menjadi salah satu game dengan user-rated terburuk di Metacritic, yang menunjukkan betapa terpolarisasinya reaksi pemain.
Intinya, gamer ingin efisiensi dalam pengembangan, tetapi mereka sama sekali tidak mau menerima penurunan kualitas visual yang jelas terlihat.
Mereka menuntut agar Activision lebih transparan dan bertanggung jawab, karena masalah ini dianggap mencerminkan kurangnya perhatian terhadap detail (attention to detail) di dalam game.
Bagi banyak pemain, insiden jari enam ini adalah simbol bahwa industri game raksasa sedang mengabaikan ekspresi kreatif manusia demi penghematan anggaran yang agresif.
Ini adalah cerminan dari ketegangan yang lebih besar di industri, di mana biaya game naik, tetapi kualitas aset justru dipertanyakan dan dianggap menurun.
Padahal, gamer merasa sudah membayar harga premium untuk pengalaman game berkualitas terbaik, bukan untuk artwork yang janggal dan low-effort (berkualitas rendah dan dibuat tanpa usaha).
Kini, semua mata tertuju pada Activision untuk melihat langkah konkret apa yang akan mereka ambil untuk mengembalikan kepercayaan pemain terhadap kualitas visual franchise ini.
(DB)
Editor : Toar Rotulung