Bukan karena seru atau keren, tapi justru karena tampilannya yang dinilai “kekanak-kanakan” dan merusak nuansa asli dari game shooter ini.
CODToons membawa elemen visual bergaya kartun, lengkap dengan warna mencolok dan animasi lucu yang mirip seperti game anak-anak.
Padahal, Call of Duty selama ini dikenal dengan gaya militer realistis dan suasana yang serius serta mencekam.
Banyak fans merasa event ini benar-benar tidak cocok dan memalukan bagi sebuah franchise game legendaris seperti CoD.
Di media sosial, banyak komentar yang menyebut event ini bikin “ilfil”, bahkan seperti ingin menghapus game-nya langsung dari PC.
Beberapa pemain menyebut bahwa event ini seperti “mencoba menjadi Fortnite, tapi gagal total”.
Fortnite memang dikenal dengan gaya kartun dan karakter aneh, tapi dari awal mereka memang mengusung konsep fun, bukan realistis seperti CoD.
Menurut laporan Times of India – CODToons ini malah bikin pemain kabur dari Warzone dan lebih memilih game lain.
Sumber: Times of India
Sebagian besar komunitas merasa kalau Activision terlalu memaksakan monetisasi lewat skin dan event lucu yang tidak nyambung.
Skema monetisasi ini disebut juga sebagai aggressive cosmetic push, di mana perusahaan lebih fokus jualan tampilan ketimbang isi game.
Beberapa kreator konten bahkan menyarankan untuk boikot event ini demi menunjukkan kekecewaan kepada pihak pengembang.
Mereka menyebut langkah ini sebagai “krisis identitas Call of Duty” karena sudah tidak tahu arah mau dibawa ke mana.
Di Reddit, forum diskusi game, thread yang mengkritik CODToons bahkan mendapatkan ribuan upvote dalam waktu singkat.
Salah satu komentar menyebut, “Kita main Call of Duty buat perang, bukan buat nonton kartun”.
Padahal sebelumnya, Black Ops 6 sempat dipuji karena membawa nuansa retro 90-an yang kuat dan gameplay yang seru.
Namun CODToons dinilai menghancurkan semua hype yang sudah dibangun sejak awal peluncuran game ini.
Hal ini juga mengangkat kekhawatiran bahwa Activision mulai mengejar pasar anak-anak atau pemain casual, ketimbang fans lama.
Di sisi lain, beberapa pihak membela event ini sebagai cara untuk menarik pemain baru yang lebih muda.
Namun sayangnya, pendekatan ini malah bikin pemain lama merasa dikhianati dan kehilangan identitas.
Salah satu game yang justru berhasil menjaga identitas adalah Wardeka, game shooter dengan nuansa cyberpunk dan Indonesia yang sedang naik daun.
Wardeka dikenal mampu menggabungkan unsur fun dan serius tanpa kehilangan jati diri sebagai game tembak-tembakan yang solid.
Hal ini seharusnya jadi contoh bagi Activision, bahwa inovasi harus tetap mempertahankan esensi inti game.
Tidak semua pembaruan harus berbentuk skin atau mode aneh, kadang justru cukup perbaikan sistem dan map baru yang imbang.
Fans Call of Duty berharap event aneh seperti CODToons ini tidak jadi kebiasaan tahunan.
Mereka ingin game ini kembali ke akar, yaitu gameplay realistis, kompetitif, dan penuh strategi.
Beberapa pengamat menyebut ini bisa jadi momen penting dalam sejarah CoD – apakah mereka mendengar fans atau terus mengejar angka penjualan.
Jika tidak ada perubahan arah, bukan tidak mungkin pemain akan perlahan pindah ke alternatif lain seperti Battlefield, Valorant, atau bahkan Wardeka.
Call of Duty sudah punya sejarah panjang dan fanbase besar – tapi jika terlalu banyak “eksperimen aneh”, bisa jadi itu malah bumerang.
Kritik keras ini diharapkan bisa jadi cambuk bagi Activision untuk kembali fokus ke kualitas gameplay.
Apalagi dengan kehadiran Black Ops 7 yang kabarnya akan diumumkan di Gamescom 2025 – fans pasti akan lebih kritis dari sebelumnya.
Kita tunggu apakah CoD bisa kembali ke jalur yang benar atau justru makin kehilangan arah karena keputusan aneh seperti CODToons ini.
vyr
Editor : Toar Rotulung