Arkeologi Daerah Ekonomi Ekonomi & Bisnis Esport Gaya Hidup Global Headline Hiburan Hukum & Kriminal Kesehatan Lifestyle & Hiburan Nasional Olahraga Pemerintahan Pertanian Politik Sains & Teknologi Teknologi Wisata Wisata & Kuliner

Mendorong Ekonomi Sirkular sebagai Upaya Pemerintah dalam Mengurangi Sampah.

Aryanti Sasamu • Jumat, 7 Juli 2023 | 09:01 WIB
ilustrasi - Pemulung memilah sampah plastik di tempat pembuangan akhir (TPA) Air Sebakul di Kota Bengkulu, Provinsi Bengkulu, Selsa (4/7/2023). ANTARA FOTO/Muhammad Izfaldi/tom.
ilustrasi - Pemulung memilah sampah plastik di tempat pembuangan akhir (TPA) Air Sebakul di Kota Bengkulu, Provinsi Bengkulu, Selsa (4/7/2023). ANTARA FOTO/Muhammad Izfaldi/tom.

JAGOSATU.COM Jakarta - Asisten Deputi (Asdep) Pengelolaan Sampah dan Limbah Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marves) Rofi Alhanif menyampaikan bahwa pemerintah terus mendorong pengelolaan sampah menuju ekonomi sirkular guna mengurangi jumlah sampah.

"Apabila kita mengelola sampah dengan baik, seperti anorganik dan kertas yang memiliki potensi ekonomi jika dikelola dengan baik dalam konteks ekonomi sirkular, ini adalah hal yang sedang kita gencarkan saat ini, yaitu pengelolaan sampah agar dapat dimasukkan ke dalam ekonomi sirkular," ujar Rofi dalam sebuah diskusi virtual pada Kamis.

Rofi menyatakan bahwa sekitar 50 persen sampah berasal dari sisa makanan yang tidak terkelola, baik dari rumah tangga maupun pasar tradisional.

Oleh karena itu, sampah tersebut dapat menjadi potensi sampah bernilai ekonomi dalam konsep ekonomi sirkular.

Selain itu, terdapat juga limbah tekstil, limbah konstruksi atau puing bangunan, limbah plastik perdagangan, dan limbah elektronik.

Pemanfaatan sampah dalam ekonomi sirkular, kata Rofi, berpotensi menghasilkan peningkatan Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 593-638 triliun pada tahun 2030.

Baca Juga: BMKG Prediksi Hujan Lebat di Tiga Kecamatan Tanah Bumbu Sampai Sore Hari

Selain itu, ini juga memberikan manfaat bagi lingkungan dengan mengurangi limbah sebesar 18-52 persen dan emisi karbon dioksida sebesar 126 juta ton pada tahun 2030.

Rofi menyatakan bahwa pemerintah memiliki target untuk mengelola 70 persen sampah dan mengurangi sampah dari sumbernya sebesar 30 persen pada tahun 2025.

Hal ini bertujuan untuk meminimalisir jumlah sampah yang mencemari laut sebesar 70 persen.

"Jika target pengurangan sampah dapat tercapai, maka akan mengurangi kebocoran sampah plastik ke laut," ucapnya.

Berdasarkan data tahun 2021, sekitar 50 persen sampah telah terkelola dengan baik, sedangkan 41 persen diantaranya telah dikirim ke tempat pembuangan akhir (TPA).

Sementara itu, 15,64 persen sampah dikelola melalui bank sampah atau oleh pihak swasta, dan 35 persen sisanya dikelola oleh masyarakat dengan cara dibakar, ditimbun di tanah, atau dibuang ke selokan.

Pola perilaku ini merupakan keprihatinan mengenai akhir dari sampah yang berakhir di laut.

Rofi menjelaskan bahwa terdapat beberapa cara untuk mencegah penumpukan sampah, yaitu dengan melibatkan peran aktif masyarakat dan menerapkan pendekatan terintegrasi dari hulu ke hilir.

Baca Juga: Harga Minyak Mentah Ditutup Beragam di Tengah Pertumbuhan Ekonomi yang Positif

"Penting untuk mengintegrasikan pendekatan dari hulu ke hilir, yaitu dengan mengubah perilaku masyarakat, menangani sampah sesegera mungkin dari sumbernya, menerapkan prinsip 3R (reduce, reuse, recycle), ekonomi sirkular, dan mencegah sampah berakhir di tempat pembuangan akhir," ujar Rofi.

Kerja sama antara berbagai sektor seperti bank sampah, pelaku bisnis, akademisi, dan masyarakat diharapkan dapat mengurangi sampah yang masuk ke lingkungan.

Selain itu, pemanfaatan teknologi untuk mengubah sampah menjadi energi listrik melalui Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSA) juga diharapkan dapat dilakukan.(antara)

Editor : Aryanti Sasamu
#ekonomi sirkular #pengelolaan sampah #Sampah