JAGOSATU.COM -Di sejumlah daerah sudah memulai tahun ajaran baru untuk sekolah. Di Jakarta dan beberapa provinsi baru mulai pekan depan, 17 Juli 2023.
Memasuki tahun ajaran baru ini biasanya si buah hati kerap mengalami sindrom liburan.
Mereka terbawa arus lamanya waktu libur, sehingga ketika hari pertama sekolah kerap merasa malas-malasan.
Sindrom itu bisa saja terjadi bagi anak yang duduk di bangku taman kanak-kanak (TK) hingga sekolah menengah.
Sakroni, Pengembang Teknologi Pembelajaran Universitas Negeri Surakarta Sebelas Maret yang dikutip dari laman Asosiasi Pengembang Teknologi Pembelajaran Indonesia (APTPI) Kemendikbud, perasaan malas itu adalah sebuah kewajaran.
Meski begitu, orang tua perlu menyiasati agar si buah hati bersemangat menghadapi masa sekolahnya.
"Kadang orang tua akan menjumpai hal yang menjengkelkan pada anak-anak seperti rewel atau tidak mau berangkat ke sekolah saat tahun ajaran baru," ungkap Sakroni.
Alasan malas sekolah itu bisa macam-macam.
Mulai dari takut, malu, sungkan, hingga malas. "Perasaan itu manusiawi karena anak akan menghadapi lingkungan baru yang penuh dengan ketidakpastian dan perlu adaptasi," imbuh Sakroni.
Untuk menghadapi itu semua, berikut ada sejumlah tips yang bisa dilakukan orang tua, antara lain:
1. Kontrol emosi dan tetap tenang
Saat anak rewel dan mogok untuk berangkat sekolah, terutama pada hari pertama masuk, maka orang tua jangan sampai terpancing emosi. Hal itu akan membuat anak menjadi lebih tertekan. Tetap sabar untuk mengajak berangkat sekolah. Tetap tenang agar dapat diketahui penyebab si anak mogok sekolah.
2. Berikan semangat dan motivasi
Setelah menemukan masalah yang dihadapi anak, maka orang tua memberi semangat dan motivasi. Misalnya minder. Lantas beritahu kelebihan si anak dan apa saja yang bisa diimplementasikan di sekolah.
3. Jangan membandingkan dengan anak lain
Terkadang orang tua memotivasi anak lewat membandingkan dengan anak lain atau saudara si anak. Sebaiknya hal itu jangan dilakukan karena akan membuat anak tertekan.
Setiap anak punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Maka orang tua tidak boleh membandingkan dengan orang lain, namun lebih baik fokus mengatasi masalah yang sedang dihadapi tersebut, bisa dengan memanfaatkan kelebihan si anak.
4. Beri reward atau apresiasi
Orang tua jangan pelit untuk memberi apresiasi jika terdapat perkembangan yang positif pada anak. Tidak selalu berbentuk barang, namun bisa dengan memberi pujian sambil terus memberi motivasi.
Namun jika ingin mengapresiasi dengan memberi reward berupa barang, usahakan untuk tidak memberi barang yang mahal atau kurang bermanfaat, karena malah membuat anak menjadi manja.
5. Jadi pendengar yang baik
Ketika anak curhat tentang apa yang terjadi atau dialami dia di sekolah, maka orang tua perlu mendengarkan sampai habis. Berikan solusi yang baik dan jangan menyalahkan agar orang tua tidak dianggap membela orang lain dan malah membuat anak malas bercerita lagi.
6. Konsultasi dengan wali kelas
Orang tua juga bisa berkonsultasi dengan wali kelas karena ia lebih tahu perkembangan si anak saat di sekolah. Apalagi jika ada masalah yang dihadapi, maka wali kelas bisa membantu memberi solusi.
7. Konsultasi ke Psikolog atau Psikiater
Jika segala yang dilakukan orang tua masih belum memuaskan, tidak ada salahnya berkonsultasi ke psikolog atau psikiater. Siapa tahu anak bisa lebih terbuka dalam mengutarakan masalahnya karena psikolog memiliki metode tersendiri untuk membuat seseorang, dalam hal ini anak, lebih nyaman menyampaikan problematikanya.(jpg)
Editor : Nur Fadilah