Jagosatu.com
Bulan September sering dianggap sebagai momen penuh romansa, tapi kenyataannya tak selalu begitu.
Banyak pasangan justru mengalami perpisahan di bulan ini sehingga muncul istilah musim putus cinta.
Fenomena ini bukan sekadar mitos, karena ada penjelasan ilmiah yang bisa mendukungnya.
Menurut para ahli psikologi, perubahan suasana hati bisa dipengaruhi oleh faktor lingkungan sekitar.
Di bulan September, transisi dari musim panas ke musim gugur di negara empat musim ikut memengaruhi mood.
Perubahan suhu dan berkurangnya paparan sinar matahari bisa membuat orang lebih mudah merasa murung.
Kondisi murung ini sering membuat seseorang lebih emosional dalam menghadapi hubungan percintaan.
Dilansir dari Liputan6 – banyak penelitian menemukan pola meningkatnya putus cinta pada bulan ini.
Salah satu alasannya adalah efek psikologis dari masuknya periode aktivitas baru setelah liburan musim panas.
Orang cenderung menata ulang prioritas hidup, sehingga hubungan yang tak kuat bisa goyah.
Selain itu, faktor media sosial juga punya peran besar dalam tren perpisahan September.
Unggahan teman sebaya atau tren viral bisa menimbulkan perbandingan yang memicu ketidakpuasan.
Menurut pakar hubungan, September sering jadi bulan refleksi karena mendekati akhir tahun.
Pasangan mulai mempertanyakan apakah hubungan mereka layak dipertahankan atau harus diakhiri.
Di sisi lain, adanya tekanan akademik dan pekerjaan setelah liburan juga menambah stres emosional.
Stres yang menumpuk ini seringkali menjadi pemicu konflik kecil yang membesar.
Fenomena ini akhirnya melahirkan istilah “September Breakup Season” di kalangan masyarakat global.
Namun, bukan berarti semua hubungan akan berakhir di bulan September.
Banyak pasangan justru menjadikan bulan ini sebagai momen memperkuat komitmen.
Yang terpenting adalah komunikasi sehat agar hubungan bisa bertahan di musim apa pun.
(m)
Editor : ALengkong