Arkeologi Daerah Ekonomi Ekonomi & Bisnis Esport Gaya Hidup Global Headline Hiburan Hukum & Kriminal Kesehatan Lifestyle & Hiburan Nasional Olahraga Pemerintahan Politik Sains & Teknologi Teknologi Wisata Wisata & Kuliner

WALHI Mengungkap Tiga Dampak Negatif Penggunaan Plastik Sekali Pakai.

Aryanti Sasamu • 2023-07-04 15:53:48
Ilustrasi sampah plastik.
Ilustrasi sampah plastik.

JAGOSATU.COM, Jakarta - Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI), organisasi yang berfokus pada kampanye Polusi dan Perkotaan, menyebutkan ada tiga kerugian yang disebabkan oleh penggunaan plastik sekali pakai, yaitu kerugian kesehatan, lingkungan, dan finansial.

Menurut Abdul Ghofar, perwakilan dari WALHI, polusi plastik yang dihasilkan oleh penggunaan plastik sekali pakai memiliki kontribusi yang signifikan terhadap risiko kesehatan, terutama karena paparan zat kimia yang terkandung dalam plastik.

"Ada tambahan zat kimia beracun agar plastik keras, lunak, dan berwarna.

Jika plastiknya digunakan untuk kemasan makanan tertentu atau barang tertentu, itu ada potensi paparan ke kita secara langsung," kata Ghofar kepada JAGOSATU.COM pada Selasa.

Selain itu, Ghofar menjelaskan bahwa tubuh juga dapat terkontaminasi oleh mikroplastik, yaitu pecahan kecil plastik yang tidak dapat terurai dan berasal dari plastik yang tercecer di lingkungan.

Baca Juga: Para Ahli Menyarankan Mulai Mengonsumsi Suplemen Kolagen Sejak Usia 20 Tahun.

"Plastik tercecer ke lingkungan, tidak bisa terurai, jadi pecahan-pecahan kecil mikroplastik, lalu dikonsumsi oleh ikan dan lain sebagainya, lalu kita makan, dan mikroplastik masuk ke tubuh kita.

Temuannya sudah banyak, mikroplastik dalam darah, di dalam plasenta, udara, dan sebagainya," ujar Ghofar.

Ghofar juga menjelaskan mengenai kerugian lingkungan, bahwa sekitar 12 juta ton sampah di Indonesia pada tahun 2022 merupakan sampah plastik, yang sebagian besar merupakan plastik sekali pakai.

"Sampah plastik tersebut mencemari sungai, laut, dan pesisir kita, mengancam ekosistem flora dan fauna, serta menurunkan kualitas lingkungan, termasuk kualitas udara," tambahnya.

Lebih lanjut, ia menyebutkan bahwa plastik sekali pakai juga memberikan kontribusi terhadap perubahan iklim, karena terbuat dari minyak dan gas bumi.

Dalam konteks kerugian finansial, Ghofar menyatakan bahwa ada biaya ekstra yang harus ditanggung oleh pemerintah dan masyarakat dalam menangani permasalahan sampah plastik.

"Ini jarang dibahas, ada yang namanya eksternalitas, yaitu kerugian yang muncul tidak dari proses produksinya tapi dari proses pasca penggunaan.

Harus memikirkan pengumpulannya, bersih-bersih pantainya, pembersihan plastik untuk didaur ulang, untuk bersih-bersih sungainya, pemulihan ekosistem, dan lain sebagainya," jelas Ghofar.

Baca Juga: Penting untuk Mengoles Ulang Tabir Surya Setiap Dua Jam Sekali dalam Sehari.

Ghofar menekankan pentingnya momentum Hari Bebas Kantong Plastik Sedunia yang diperingati pada 3 Juli sebagai kesempatan untuk menyoroti bahwa penggunaan kantong plastik, terutama yang sekali pakai, telah menjadi masalah global yang harus ditangani secara serius.

Pemerintah Indonesia telah mengimplementasikan prinsip 3R (reduce, reuse, recycle) untuk mengelola sampah plastik, tetapi Ghofar berpendapat bahwa langkah-langkah tambahan diperlukan, termasuk peraturan yang membatasi penggunaan plastik sekali pakai guna mengurangi konsumsi plastik sekali pakai yang berlebihan di masyarakat.

"Catatan kami menunjukkan bahwa ada 100 kabupaten/kota dan dua provinsi yang telah menerapkan peraturan pembatasan plastik sekali pakai, yang mayoritas melarang penggunaan kantong belanja sekali pakai.

Inilah saat yang tepat untuk mendorong perubahan dari masyarakat," pungkas Ghofar.(antara)

Editor : Aryanti Sasamu
#plastik sekali pakai #bahaya plastik #Hari Bebas kantong plastik sedunia