Arkeologi Daerah Ekonomi Ekonomi & Bisnis Esport Gaya Hidup Global Headline Hiburan Hukum & Kriminal Kesehatan Lifestyle & Hiburan Nasional Olahraga Pemerintahan Politik Sains & Teknologi Teknologi Wisata Wisata & Kuliner

Peringatan WALHI, Daur Ulang Tidak Cukup untuk Mengatasi Masalah Sampah Plastik.

Aryanti Sasamu • 2023-07-04 16:25:07
lustrasi - Pekerja melakukan proses penarikan benang filamen dari olahan limbah botol plastik bekas untuk pembuatan fiber dacron di Pabrik PT Inocycle Technology Group di Pasar Kemis, Kabupaten Tanger
lustrasi - Pekerja melakukan proses penarikan benang filamen dari olahan limbah botol plastik bekas untuk pembuatan fiber dacron di Pabrik PT Inocycle Technology Group di Pasar Kemis, Kabupaten Tanger

JAGOSATU.COM, Jakarta - Pengkampanye Polusi dan Perkotaan dari Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI), Abdul Ghofar, mengungkapkan bahwa daur ulang saja tidaklah cukup untuk mengatasi masalah sampah plastik.

Menurutnya, hanya sekitar 9-12 persen dari produk plastik yang dapat didaur ulang, sedangkan sisanya mencemari lingkungan, membakar menjadi polusi udara, dan menjadi mikroplastik yang tersebar di mana-mana.

"Bergantung pada daur ulang saja sama sekali tidaklah cukup, karena sekitar 90 persen plastik yang diproduksi berakhir mencemari lingkungan, terbakar menjadi emisi gas beracun, dan menjadi mikroplastik," kata Ghofar kepada JAGOSATU.COM pada hari Selasa.

Ghofar menjelaskan bahwa upaya daur ulang harus disertai dengan langkah-langkah lainnya.

Pada tahun 2022, negara-negara di Jseluruh dunia sepakat untuk membuat perjanjian yang dikenal sebagai Global Plastic Treaty untuk menangani masalah sampah plastik.

Perjanjian tersebut menekankan penanganan sampah plastik dari hulu ke hilir. Di hulu, upaya yang ditekankan adalah pembatasan produksi plastik.

"Jenis plastik seperti polistirena, styrofoam, sachet, dan tas kresek harus dilarang, atau bahkan sudah dilarang di beberapa negara dan seharusnya juga dilarang di negara-negara lain termasuk Indonesia," ungkap Ghofar.

"Pencemaran tidak dapat diatasi jika sumber pencemarannya tidak dibatasi," tambahnya.

Baca Juga: Teknik Sandwich dengan Retinol untuk Mengatasi Kulit Sangat Kering.

Di sisi lain, Ghofar mengatakan bahwa perlu ada upaya untuk mendorong bisnis yang lebih ramah lingkungan, seperti mengganti kemasan sachet dengan kemasan yang lebih mudah didaur ulang atau terurai secara alami.

"Pelaku usaha yang terlibat dalam rantai plastik, baik sebagai bahan baku maupun kemasan produk, harus beralih dan tidak lagi menggunakan jenis plastik tertentu seperti polistirena, sachet, atau multilayer sachet," ujarnya.

Sementara di hilir, perlu ditingkatkan upaya pengumpulan sampah plastik guna meningkatkan tingkat daur ulang.

"Masalah selama ini adalah orang sering berbicara tentang produk yang dapat didaur ulang, tetapi tidak dibicarakan siapa yang mengumpulkannya dan mendaur ulangnya.

Oleh karena itu, di hilir, perlu meningkatkan tingkat pengumpulan dengan sistem retur, deposit, dan meningkatkan tingkat daur ulangnya," sarannya.

Ghofar menekankan bahwa langkah-langkah tersebut harus dilakukan secara bersamaan agar penanganan sampah plastik dapat menjadi lebih efektif.

"Ketiga lapisan tersebut harus dijalankan secara bersamaan. Jika hanya satu lapisan yang dilakukan, persoalan tidak akan teratasi.

Jika hanya di hilir yang ditingkatkan pengumpulan dan daur ulangnya, sementara produksi dan perilaku bisnis tidak berubah, maka akan sulit di hilir," tegas Ghofar.(antara)

Editor : Aryanti Sasamu
#menangani sampah plastik #sampah plastik #Daur Ulang