JAGOSATU.COM -Isra Miraj merupakan salah satu peristiwa penting yang dialami oleh Nabi Muhammad SAW. Peristiwa ini menjadi salah satu bukti kebesaran Allah SWT.
Tak hanya bagi Rasulullah SAW, peristiwa Isra Miraj juga penting bagi seluruh umat Islam. Sebab, dalam peristiwa ini Nabi Muhammad SAW mendapatkan perintah sholat dari Allah SWT.
Mengutip laman Nahdlatul Ulama (NU), Isra Miraj adalah peristiwa perjalanan Rasulullah SAW dari Masjidil Haram menuju Masjid Al Aqsa. Kemudian Nabi Muhammad SAW dibawa ke langit ketujuh untuk diperlihatkan sebagian dari kebesaran Allah SWT. Beliau juga mendapat perintah sholat lima waktu dari Allah SWT.
Peristiwa Isra Miraj telah dijelaskan oleh Allah SWT dalam Al Quran surat Al-Isra ayat 1, yang mana Allah SWT berfirman:
سُبْحَٰنَ ٱلَّذِىٓ أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِۦ لَيْلًا مِّنَ ٱلْمَسْجِدِ ٱلْحَرَامِ إِلَى ٱلْمَسْجِدِ ٱلْأَقْصَا ٱلَّذِى بَٰرَكْنَا حَوْلَهُۥ لِنُرِيَهُۥ مِنْ ءَايَٰتِنَآ ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْبَصِيرُ
Artinya: "Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjid Al Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (Q.S Al-Isra: 1)
Isra Miraj merupakan penggabungan dua peristiwa. Isra dimaknai dengan perjalanan malam hari yang dilaksanakan Rasulullah SAW dari Makkah menuju Baitul Maqdis (Masjid Al Aqsa).
Baca Juga: Jacob Ponto, Pemimpin Siau yang Menghadapi Pengasingan Hingga Meninggal di Cirebon
Sementara itu, Miraj merupakan persitiwa di mana Allah SWT mengangkat Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Al Aqsa melewati langit ketujuh menuju Sidratul Muntaha. Peristiwa Miraj ini yang nantinya memunculkan perintah sholat lima waktu bagi umat muslim.
Peristiwa Isra Miraj terjadi pada 27 Rajab tahun 10 kenabian. Kala itu, Rasulullah SAW sedang berbaring di kamarnya, lalu tiba-tiba malaikat Jibril, Mikail, dan Israfil mendatanginya.
Kemudian Nabi Muhammad SAW dibawa oleh para malaikat menuju Sumur Zam-zam. Di sana, malaikat Jibril membelah dada Rasulullah SAW dan membersihkannya menggunakan air zam-zam. Hal ini dilakukan untuk mempersiapkan beliau sebelum dibawa melihat sesuatu yang luar biasa.
Mengutip buku Isra Miraj dan Kisah 25 Nabi-Rasul oleh Winkanda Satria Putra, Rasulullah SAW kemudian pergi dari Masjidil Haram menuju Masjid Al Aqsa dengan menggunakan Buraq. Setibanya di Masjid Al Aqsa, Nabi Muhammad SAW menambatkan Buraq-nya, lalu mendirikan sholat dua rakaat. Beliau menjadi imam di mana makmumnya adalah para nabi dan malaikat Allah SWT.
Setelah itu, Rasulullah SAW bersama malaikat Jibril diajak pergi ke langit ketujuh. Di setiap lapisan langit, Nabi Muhammad SAW bertemu dengan nabi-nabi terdahulu.
Kisah di Langkit Pertama
Di langit pertama, Nabi Muhammad SAW bertemu dengan laki-laki berbadan tinggi mencapai 60 siku ke langit (sekira 27 meter). Saat menoleh ke kanan laki-laki itu tersenyum, namun saat melihat ke sebelah kiri ia menangis.
"Selamat bertemu wahai anak yang soleh dan nabi yang soleh," kata laki-laki tersebut saat melihat Nabi Muhammad SAW.
"Siapakah dia," tanya Nabi Muhammad SAW.
Ia ternyata adalah Nabi Adam AS yang merupakan nabi dan manusia pertama di dunia. Ada alasan mengapa Nabi Adam AS tersenyum dan menangis.
Saat melihat ke sebelah kanan, ia melihat keturunannya yang masuk surga. Sementara saat melihat ke sebelah kiri, ia melihat keturunannya yang masuk neraka.
Kisah di Langit Kedua
Saat tiba di langit kedua Nabi Muhammad SAW bertemu dengan Nabi Yahya AS dan Nabi Isa AS. Di sana, Rasulullah SAW disapa "Selamat datang wahai saudaraku yang saleh."
Kisah di Langit Ketiga
Setibanya di langit ketiga, Nabi Muhammad SAW bertemu dengan Nabi Yusuf AS. Saat itu, Rasulullah SAW mengatakan bahwa benar ia telah diwarisi setengah kegagahan dunia.
Kisah di Langit Keempat
Di langit keempat, Rasulullah SAW bertemu dengan nabi yang pertama kali menulis menggunakan pena dan menjahit pakaian, yaitu Nabi Idris AS.
"Selamat datang saudaraku, nabi yang saleh," sambut Nabi Idris AS kepada Rasulullah SAW.
Kisah di Langit Kelima
Sesampainya di langit kelima, Rasulullah SAW kemudian bertemu dengan Nabi Harun AS. "Selamat bertemu wahai Nabi yang saleh dan saudaraku yang saleh," ucap Nabi Harun AS.
Kisah di Langit Keenam
Di langit keenam Rasulullah SAW disambut oleh Nabi Musa AS.
"Selamat bertemu wahai nabi saleh dan saudaraku yang saleh," kata Nabi Musa AS.
Kisah di Langit Ketujuh
Setibanya di langit ketujuh, Nabi Muhammad SAW bertemu dengan laki-laki tua yang sedang bersandar di Baitul Makmur. Beliau menanyakan siapakah laki-laki yang bersandar itu, ternyata ia adalah Nabi Ibrahim AS.
Baitul Makmur merupakan tempat tawaf para malaikat yang setiap harinya dimasuki oleh tujuh puluh ribu malaikat.
Kisah Rasulullah SAW di Langit Ketujuh
Saat berada di langit ketujuh, Rasulullah SAW ingin naik satu tingkatan langit lagi. Namun, malaikat Jibril tidak bisa mengantarkannya lebih jauh lagi.
Lalu naiklah Nabi Muhammad SAW ke Sidratul Muntaha, yakni sebuah tempat di atas langit ketujuh dan di dekatnya ada surga. Keindahan Sidratul Muntaha tak bisa digambarkan, bahkan Rasulullah SAW sampai terkagum-kagum melihatnya.
Ketika berada di Sidratul Muntaha, Allah SWT berbicara kepada Nabi Muhammad SAW tanpa perantara. Kemudian Allah SWT memerintahkan kepada Rasulullah SAW untuk mengerjakan sholat.
Pada awalnya, Allah SWT memerintahkan untuk melaksanakan sholat 50 waktu dalam sehari semalam. Lalu Rasulullah SAW turun dari Sidratul Muntaha dan bertemu Nabi Musa di langit keenam.
Kemudian Nabi Musa bertanya kepada Rasulullah SAW "Apa yang dikatakan oleh Allah SWT untukmu?" Lalu beliau menjawab "Sholat 50 waktu dalam sehari semalam."
Kemudian Nabi Musa menjawab "Kembalilah dan minta keringanan kepada Tuhanmu, karena sungguh umatmu lemah dan tidak akan sanggup melakukannya."
Setelah itu, Nabi Muhammad SAW kembali menemui Allah SWT untuk meminta keringanan. Allah SWT kemudian mengurangi waktu sholat sebanyak lima bilangan.
Setelah itu Rasulullah SAW kembali turun dan bertemu Nabi Musa untuk menceritakannya lagi. Lalu, Nabi Musa menyarankan kepada beliau untuk memohon lagi pengurangan jumlah waktu sholat kepada Allah SWT.
Allah SWT kembali mengurangi waktu sholat, namun jumlahnya masih terbilang banyak. Akhirnya Rasulullah SAW terus meminta keringanan sampai berkali-kali, dari yang awalnya 50 waktu lalu menjadi 5 waktu dalam sehari semalam.
Kala itu, peristiwa Isra Miraj sulit diterima akal sehat. Saat beliau menceritakan peristiwa tersebut dan memerintahkan sholat lima waktu kepada umatnya, banyak di antara mereka yang tidak percaya akan kebenaran tersebut. Namun, tak sedikit juga yang patuh dan melaksanakan sholat.
Berikut Beberapa Referensi Soal Isra’ Miraj
Kisah perjalanan Nabi Muhammad SAW menuju langit ketujuh dalam satu malam dapat dilihat dalam sebuah hadis mutawatir. Dalam kitab Al Albani Al Isra' wal Mi'raj, ia menyebutkan bahwa ada 16 sahabat yang meriwayatkan peristiwa Isra Mikraj.
Adapun sahabat itu adalah Anas bin Malik, Abu Dzar, Malik bin Sha'sha'ah, Ibnu 'Abbas, Jabir, Abu Hurairah, Ubay bin Ka'ab, Buraidah ibnul Hushaib Al-Aslamy, Hudzaifah ibnul Yaman, Syaddad bin Aus, Shuhaib, Abdurrahman bin Qurrath, Ibnu "Umar, Ibnu Mas'ud, 'Ali bin Abi Thalib, dan 'Umar bin Khattab.
Salah satu riwayat tentang sejarah Isra Miraj dapat dilihat Hadis Bukhari Nomor 2968. Isi Lengkapnya:
‘’... Telah bercerita kepada kami Anas bin Malik, dari Malik bin Sha'sha'ah radliallahu 'anhuma, berkata, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, ‘’Ketika aku berada di sisi Baitullah antara tidur dan sadar".
Lalu Beliau menyebutkan, yaitu, "Ada seorang laki-laki di antara dua laki-laki yang datang kepadaku membawa baskom terbuat dari emas yang dipenuhi dengan hikmah dan dan iman, lalu orang itu membelah badanku dari atas dada hingga bawah perut, lalu dia mencuci perutku dengan air zamzam kemudian mengisinya dengan hikmah dan iman.
Kemudian aku diberi seekor hewan tunggangan putih yang lebih kecil dari pada baghal, tetapi lebih besar dibanding keledai bernama Al-Buraq. Maka, aku berangkat bersama Jibril Alaihissalam, hingga sampai di langit dunia.
Lalu ditanyakan, "Siapakah ini?" Jibril menjawab, "Jibril." Ditanyakan lagi, "Siapa orang yang bersamamu?" Jibril menjawab, "Muhammad." Ditanyakan lagi, "Apakah dia telah diutus?" Jibril menjawab, "Ya." Maka dikatakan, "Selamat datang, sebaik-baik orang yang datang telah tiba." Kemudian aku menemui Adam AS dan memberi salam kepadanya lalu dia berkata, "(Ucapan) selamat datang bagimu dari anak keturunan dan nabi."
Kemudian kami naik ke langit kedua lalu ditanyakan, "Siapakah ini?" Jibril menjawab, "Jibril." Ditanyakan lagi, "Siapa orang yang bersamamu?" Jibril menjawab, "Muhammad." Ditanyakan lagi, "Apakah dia telah diutus?" Jibril menjawab, "Ya." Maka dikatakan, "Selamat datang baginya dan ini sebaik-baiknya kedatangan orang yang datang." Lalu aku menemui Isa dan Yahya AS lalu keduanya berkata, "Selamat datang bagimu dari saudara dan nabi."
Kemudian kami naik ke langit ketiga lalu ditanyakan, "Siapakah ini?" Jibril menjawab, "Jibril." Ditanyakan lagi, "Siapa orang yang bersamamu?" Jibril menjawab, "Muhammad." Ditanyakan lagi, "Apakah dia telah diutus?" Jibril menjawab, "Ya." Maka dikatakan, "Selamat datang baginya dan ini sebaik-baiknya kedatangan orang yang datang." Lalu aku menemui Yusuf AS dan memberi salam kepadanya lalu dia berkata, "Selamat datang bagimu dari saudara dan nabi."
Kemudian kami naik ke langit keempat lalu ditanyakan, "Siapakah ini?" Jibril menjawab, "Jibril." Ditanyakan lagi, "Siapa orang yang bersamamu?" Jibril menjawab, "Muhammad." Ditanyakan lagi, "Apakah dia telah diutus?" Jibril menjawab, "Ya." Maka dikatakan, "Selamat datang baginya dan ini sebaik-baiknya kedatangan orang yang datang." Lalu aku menemui Idris AS dan memberi salam kepadanya lalu dia berkata, "Selamat datang bagimu dari saudara dan nabi."
Kemudian kami naik ke langit kelima lalu ditanyakan, "Siapakah ini?" Jibril menjawab, "Jibril." Ditanyakan lagi, "Siapa orang yang bersamamu?" Jibril menjawab, "Muhammad." Ditanyakan lagi, "Apakah dia telah diutus?" Jibril menjawab, "Ya." Maka dikatakan, "Selamat datang baginya dan ini sebaik-baiknya kedatangan orang yang datang." Lalu aku menemui Harun AS dan memberi salam kepadanya lalu dia berkata, "Selamat datang bagimu dari saudara dan nabi."
Kemudian kami naik ke langit keenam lalu ditanyakan, "Siapakah ini?" Jibril menjawab, "Jibril." Ditanyakan lagi, "Siapa orang yang bersamamu?" Jibril menjawab, "Muhammad." Ditanyakan lagi, "Apakah dia telah diutus?" Jibril menjawab, "Ya." Maka dikatakan, "Selamat datang baginya dan ini sebaik-baiknya kedatangan orang yang datang." Kemudian aku menemui Musa AS dan memberi salam kepadanya lalu dia berkata, "Selamat datang bagimu dari saudara dan nabi." Ketika aku sudah selesai, tiba-tiba dia menangis. Lalu ditanyakan, "Mengapa kamu menangis?" Musa menjawab, "Ya Rabb, anak ini yang diutus setelah aku, umatnya akan masuk surga dengan kedudukan lebih utama dibanding siapa yang masuk surga dari umatku."
Kemudian kami naik ke langit ketujuh lalu ditanyakan, "Siapakah ini?" Jibril menjawab, "Jibril." Ditanyakan lagi, "Siapa orang yang bersamamu?" Jibril menjawab, "Muhammad." Ditanyakan lagi, "Apakah dia telah diutus?" Jibril menjawab, "Ya." Maka dikatakan, "Selamat datang baginya dan ini sebaik-baiknya kedatangan orang yang datang." Kemudian aku menemui Ibrahim AS dan memberi salam kepadanya lalu dia berkata, "Selamat datang bagimu dari saudara dan nabi."
Kemudian aku ditampakkan al-Baitul Ma'mur. Aku bertanya kepada Jibril, lalu dia menjawab, "Ini adalah al-Baitul Ma'mur, setiap hari ada tujuh puluh ribu malaikat mendirikan salat di sana. Jika mereka keluar (untuk pergi salat), tidak ada satu pun dari mereka yang kembali."
Kemudian diperlihatkan kepadaku Sidratul Muntaha yang ternyata bentuknya seperti kubah dengan daun jendelanya laksana telinga-telinga gajah. Di dasarnya ada empat sungai yang berada di dalam (disebut Bathinan) dan di luar (Zhahiran)." Aku bertanya kepada Jibril, maka dia menjawab, "Adapun Bathinan berada di surga, sedangkan Zhahiran adalah an-Nail dan al-Furat (dua nama sungai di surga)."
Kemudian diwajibkan atasku salat lima puluh kali. Aku menerimanya hingga datang Musa AS menemuiku dan bertanya, "Apa yang telah kamu lakukan?" Aku jawab, "Aku diwajibkan salat lima puluh kali." Musa berkata, "Akulah orang yang lebih tahu tentang manusia daripada kamu. Aku sudah berusaha menangani Bani Isra'il dengan sungguh-sungguh. Dan ummatmu tidak akan sanggup melaksanakan kewajiban salat itu. Maka itu, kembalilah kamu kepada Rabbmu dan mintalah (keringanan)."
Maka aku meminta keringanan lalu Allah memberiku empat puluh kali salat lalu (aku menerimanya dan Musa kembali menasehati aku agar meminta keringanan lagi), kemudian kejadian berulang seperti itu (nasehat Musa) hingga dijadikan tiga puluh kali lalu kejadian berulang seperti itu lagi hingga dijadikan dua puluh kali kemudian kejadian berulang lagi hingga menjadi sepuluh lalu aku menemui Musa dan dia kembali berkata seperti tadi hingga dijadikan lima waktu.
Lalu kembali aku menemui Musa dan dia bertanya, "Apa yang kamu dapatkan?" Aku jawab, "Telah ditetapkan lima waktu." Dia berkata seperti tadi lagi. Aku katakan, "Aku telah menerimanya dengan baik." Tiba-tiba ada suara yang berseru, "Sungguh Aku telah putuskan kewajiban dari-Ku ini dan Aku telah ringankan buat hamba-hamba-Ku dan Aku akan balas setiap satu kebaikan (salat) dengan sepuluh balasan (pahala)."
(HR. Bukhari no. 2968)
Selain dalam hadis, kisah diberangkatkannya Rasulullah dari Makkah ke Palestina, kemudian berlanjut ke Sidratul Muntaha, telah dibenarkan dalam sejumlah ayat Al-Qur'an.
Peristiwa Isra Miraj terekam dalam Surah Al-Isra' ayat 1 dan An-Najm ayat 12-18. Berikut bunyi kedua surah tersebut:
"Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (QS. Al-Isra, [17]:1).
"Maka, apakah kaum (musyrik Mekah) hendak membantahnya tentang apa yang telah dilihatnya? Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratul Muntaha. Di dekatnya ada surga tempat tinggal, (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratul Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sesungguhnya dia telah melihat sebagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar." (QS. An-Najm, [53]:12-18).
Terdapat sejumlah hikmah yang bisa dipetik oleh kaum muslimin dari peristiwa Isra Mikraj yang dialami Rasulullah SAW. Berikut beberapa hikmahnya:
Mengetahui tanda kebesaran Allah SWT yang mampu memperjalankan Nabi hanya dalam satu malam
Mendekatkan diri kepada Allah perlu diawali dengan membersihkan hati dari berbagai penyakit dan maksiat
Memuliakan Rasulullah SAW karena Allah juga memuliakannya lewat peristiwa Isra Mikraj yang tidak dialami rasul maupun nabi lain, selain Nabi Muhammad
Hamba yang bertakwa mendapat derajat tinggi di sisi Allah
Isra Mikraj memantapkan hati Rasulullah usai menyaksikan langsung hal-hal gaib, seperti surga dan neraka
Isra Mikraj mempertegas pentingnya salat lima waktu
Isra Mikraj bisa menjadi bahan introspeksi diri terlebih setelah Rasulullah SAW yang melihat langsung siksaan bagi para penghuni neraka
Isra Mikraj merupakan bekal dakwah bagi Rasulullah dari Allah SWT
Peristiwa Isra Mikraj yang sulit diterima akal sehat menjadi ujian keimanan bagi manusia
Isra Mikraj merupakan pelipur lara bagi Rasulullah usai ditinggal Khadijah dan Abu Thalib
Jadwal Libur Isra Miraj 2024
Di Indonesia, Isra Mikraj Nabi Muhammad ditetapkan sebagai hari libur nasional. Penetapannya sebagai hari libur telah tercantum dalam Surat Keputusan Bersama (SKB) Tiga Menteri tentang Hari Libur Nasional dan Cuti Bersama 2024.
Berdasarkan surat keputusan tersebut, libur Maulid Nabi 2023 jatuh pada Kamis, 8 Februari 2024. Apakah hari besar keagamaan ini memiliki cuti bersama?
Berdasarkan SKB Tiga Menteri, tidak ada cuti bersama yang mengiringi peringatan Isra Miraj 2024, baik pada tanggal 7 maupun 9 Februari 2024.
Pemerintah hanya menetapkan 1 hari libur nasional untuk peringatan Isra Miraj 2024. Ini berarti, masyarakat hanya akan menikmati 1 hari libur, yaitu pada Kamis, 8 Februari 2024.(mpd)
Editor : Nur Fadilah