Jagosatu.com – Cina baru saja mengambil langkah besar dengan membatasi ekspor teknologi penting untuk baterai mobil listrik (EV).
Langkah ini langsung bikin banyak negara panik karena mereka selama ini sangat bergantung pada bahan dan teknologi dari Cina.
Menurut laporan dari The Wall Street Journal, pembatasan ini berlaku untuk teknologi pengolahan logam seperti nikel dan bahan katoda.
Baca Juga: Temuan Mengejutkan: Kremasi Elit Frigia Abad ke-8 SM di Dekat Makam Midas
Teknologi katoda adalah bagian penting dari baterai karena jadi "jantungnya" yang menyimpan dan melepas energi saat mobil berjalan.
Pemerintah Cina bilang mereka ingin melindungi teknologi dalam negerinya supaya nggak diambil seenaknya oleh negara lain.
Dengan aturan ini, perusahaan luar negeri yang ingin kerja sama dengan Cina soal baterai harus dapat izin ekspor dulu.
Hal ini bikin negara-negara penghasil mobil listrik seperti Amerika Serikat, Jerman, dan Jepang merasa khawatir.
Mereka takut produksi mobil listrik jadi terhambat gara-gara akses ke teknologi penting ini makin dibatasi.
Cina selama ini dikenal sebagai negara yang sangat kuat dalam rantai pasokan baterai EV dunia.
Lebih dari 70 persen bahan kimia baterai mobil listrik berasal dari perusahaan-perusahaan asal Cina.
Kalau teknologi pengolahan seperti pemurnian nikel dan kobalt dibatasi, otomatis negara lain kesulitan produksi mandiri.
Menurut laporan dari Benchmark Mineral Intelligence, harga bahan baterai bisa naik kalau suplai terganggu.
Hal ini juga bisa bikin harga mobil listrik jadi ikut naik dan susah dijangkau oleh masyarakat biasa.
Cina juga ingin mendorong perusahaan lokal mereka seperti CATL dan BYD agar makin kuat dan tak tergantung pasar luar.
Dengan kebijakan ini, mereka bisa menjaga rahasia industri dan tetap unggul dalam teknologi hijau.
Di sisi lain, Amerika Serikat sudah mulai cari jalan sendiri buat produksi baterai lokal lewat undang-undang seperti Inflation Reduction Act.
Tapi itu butuh waktu, dan untuk sekarang dunia masih belum bisa lepas dari dominasi Cina dalam baterai EV.
Beberapa ahli menyebut langkah ini sebagai bentuk "senjata ekonomi" yang digunakan Cina untuk menjaga keunggulan.
Namun, pembatasan ini juga bisa memicu ketegangan dagang antara Cina dan negara barat lainnya.
Kalau terjadi perang dagang baru, bukan cuma industri otomotif yang kena, tapi juga ekonomi dunia secara umum.
Langkah ini menunjukkan betapa penting dan strategisnya teknologi baterai dalam masa depan kendaraan dan energi bersih.
Dunia saat ini sedang berlomba-lomba menuju energi hijau, dan Cina tahu persis cara menjaga kartunya agar tetap di atas.
(J)
Editor : ALengkong