TEHERAN – Gencatan senjata dua pekan antara Iran dan Amerika Serikat (AS) berakhir besok (22/8). Namun, potensi adu senjata kembali lebih mengemuka ketimbang prospek perdamaian. Teheran menyatakan, belum memiliki rencana untuk menghadiri agenda pembicaraan baru yang dijadwalkan berlangsung kembali di Islamabad, Pakistan.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei menyatakan, keputusan itu diambil setelah AS menyita kapal kargo berbendera Iran yang melayari Teluk Oman dan hendak melewati Selat Hormuz.
Insiden tersebut terjadi hanya beberapa jam setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan rencana pengiriman tim ke Islamabad Pakistan untuk membuka peluang negosiasi lanjutan. "Iran belum berniat untuk ikut serta dalam negosiasi sejauh ini," ujar Baghaei seperti dikutip dari Al Jazeera kemarin (20/4).
Toska, nama kapal kargo tersebut, ditembaki pada Minggu (19/4). AS sedang memblokade jalur menuju Selat Hormuz. Menurut unggahan Presiden AS Donald Trump, kapal tersebut tak mengindahkan peringatan dari kapal Angkatan Laut AS. "Angkatan Laut AS menghentikan mereka dengan menembak ruang mesin. Marinir AS mengambil alih kapal untuk melihat apa isinya," tulis Trump di akun Truth Social.
Juru Bicara Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya Letnan Kolonel Ebrahim Zolfaghari mengecam keras tindakan terhadap kapal dengan destinasi Pelabuhan Bandar Abbas, Iran, tersebut. "Amerika Serikat, sebagai agresor, melanggar gencatan senjata dan melakukan pembajakan maritim dengan menembaki kapal dagang Iran," ucapnya, seperti dikutip dari Press TV kemarin.
Iran menutup lagi Selat Hormuz sehari setelah membukanya pada Jumat (17/4) pekan lalu. Hal itu dilakukan setelah AS melakukan blokade yang dinilai Teheran sebagai bentuk pelanggaran gencatan.
Baca Juga: Pengguna Elpiji 12 Kg Berpotensi Pindah "Melon"
Respons Militer
Zolfaghari juga memperingatkan, Iran bakal segera melakukan respons militer. "Angkatan Bersenjata Republik Islam Iran akan segera menanggapi pembajakan bersenjata ini," tuturnya.
Iran tak sekadar menggertak. Negeri yang dulu bernama Persia itu bahkan dilaporkan sudah melancarkan serangan pesawat tak berawak yang menargetkan sejumlah kapal militer AS yang terlibat dalam blokade di kawasan tersebut. Serangan yang lebih besar lagi diperkirakan menyusul.
Di sisi lain, rencana perundingan damai kedua pihak sebenarnya muncul menjelang berakhirnya masa gencatan senjata dua pekan. Namun, insiden penyitaan kapal kargo tersebut dinilai semakin memperkeruh peluang dialog.
Perundingan sebelumnya berlangsung 21 jam di Islamabad (11/4) tak menghasilkan apa pun. Kendala sentralnya ada pada isu uranium dan penguasaan Selat Hormuz. Versi Teheran, permintaan Washington DC berlebihan.
Pemimpin delegasi Iran untuk perundingan di Islamabad, Mohammad-Bagher Ghalibaf, bahkan menuding Trump tidak jujur. "Trump berbohong, meski pintu diplomasi belum sepenuhnya tertutup," katanya.
Dikutip dari The Guardian, gaya kepemimpinan Trump yang tidak konsisten turut memperkeruh situasi. Pendekatan diplomasi yang berubah-ubah dinilai menimbulkan kebingungan dan memperdalam ketidakpercayaan Iran. Keputusan Washington bakal mengirim delegasi ke Islamabad hanya 24 jam setelah Iran kembali menutup Selat Hormuz justru menegaskan bahwa jalur air itu menjadi alat tawar strategis utama Teheran. (lyn/ttg)
Editor : Pratama Karamoy