Arkeologi Daerah Ekonomi Ekonomi & Bisnis Esport Gaya Hidup Global Headline Hiburan Hukum & Kriminal Kesehatan Lifestyle & Hiburan Nasional Olahraga Pemerintahan Pertanian Politik Sains & Teknologi Teknologi Wisata Wisata & Kuliner

Iran Latih Warga Cara Gunakan Senapan AK-47

Pratama Karamoy • Senin, 18 Mei 2026 | 12:32 WIB
SIARAN LANGSUNG: Instruktur Garda Revolusi (kanan) memberi panduan penggunaan AK-47 di stasiun televisi pemerintah Iran.
(Foto: TANGKAPAN LAYAR INSTAGRAM THE CASPIAN POST)
SIARAN LANGSUNG: Instruktur Garda Revolusi (kanan) memberi panduan penggunaan AK-47 di stasiun televisi pemerintah Iran. (Foto: TANGKAPAN LAYAR INSTAGRAM THE CASPIAN POST)

TEHERAN - Sang pembawa acara di kanal televisi Ofogh itu mengarahkan senapan AK-47 ke atas dan langsung menarik pelatuk. Satu peluru hampa melesat. Satu tembakan lain diarahkan ke bendera Uni Emirat Arab, negeri yang tengah berkonflik dengan Iran. 

Segmen luar ruangan yang ditayangkan Ofogh, stasiun televisi milik pemerintah Iran, tersebut memang berisi panduan memakai AK-47. Instrukturnya dari Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) yang memakai penutup wajah. Sang instruktur juga mempersilakan warga untuk mendatangi konter yang dibuka IRGC di tempat publik biasanya mengadakan demonstrasi pro-pemerintah jika ingin memperdalam pengetahuan tentang persenjataan. Itu, tulis Al Jazeera, bagian dari kampanye pemerintah Iran untuk mempersenjatai warganya.

Teheran juga mendorong warga untuk turun ke jalan tiap malam sebagai bentuk unjuk kekuatan bahwa mereka telah memenangi perang melawan Amerika Serikat (AS) dan Israel. Kewaspadaan terhadap terjadinya perang itu juga dipicu masih mentoknya negosiasi kedua negara. Kedua negara memang sedang dalam fase gencatan senjata sejak 8 April lalu. Sebelumnya, perang meletus gara-gara serangan AS-Israel ke Iran pada 28 Februari. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyebut, itu dampak ketidakpercayaan Iran kepada AS. "Kami siap berperang lagi dengan AS jika negosiasi gagal membuahkan hasil yang bisa diterima," katanya seperti dikutip Al Jazeera.

Adapun Presiden AS Donald Trump, seperti biasa, kembali mengancam. "Iran akan menghadapi 'masa tidak menyenangkan' jika kesepakatan damai tak kunjung tercapai," kata Trump. Seruan mobilisasi untuk mengantisipasi serangan darat AS-Israel tak hanya dipublikasikan di Ofogh, tetapi juga di berbagai platform media lain. Mobina Nasiri, misalnya, memegang senjata sembari membawakan acara di Channel 3. "Saya siap berkorban untuk Iran," katanya.

Sampai kemarin, lapangan dan jalanan utama di kota-kota di Iran masih dipenuhi kendaraan dan pos pemeriksaan yang dijaga petugas berpenutup wajah. Penjagaan ketat itu juga terkait demonstrasi menentang rezim pada Januari lalu yang oleh Teheran disebut sebagai upaya kudeta.

Baca Juga: Konflik Selat Hormuz Makin Menekan Rupiah

Tetap Harus Bayar

Iran juga tengah mempersiapkan "mekanisme profesional" untuk mengatur lalu lintas di Selat Hormuz, tempat lebih dari 20 persen distribusi minyak serta gas dunia berlangsung. Ketua Komisi Pertahanan Parlemen Iran Ebrahim Azizi mengatakan, rute khusus tengah disiapkan untuk kapal komersial dan pihak yang dianggap kooperatif. "Kapal yang lewat harus membayar dan kapal dari negara-negara pendukung Project Freedom AS tidak akan diizinkan melintas. Akan diumumkan segera," kata Azizi. Project Freedom adalah operasi militer AS yang diluncurkan pada Mei 2026 untuk merespons blokade dan gangguan Iran di Selat Hormuz. Operasi ini bertujuan mengawal dan memandu kapal-kapal komersial agar bisa bernavigasi dengan aman keluar dari kawasan Teluk.

Dalam lawatan ke Tiongkok pekan lalu, Trump mengklaim, dia dan Presiden Xi Jinping menyepakati bahwa Selat Hormuz harus tetap terbuka bagi siapa saja. Namun, Beijing belum mengonfirmasi pernyataan Trump tersebut. Tiongkok adalah pembeli terbesar minyak dari Iran. Selama perang berlangsung, kapal-kapal mereka juga dipersilakan melintasi Selat Hormuz. Inti kebijakan yang bakal segera diumumkan itu sebenarnya sudah diterapkan Iran selama perang. Tapi, sifatnya reaktif akibat serangan AS dan Israel. Kali ini mereka ingin mempermanenkannya.

Menurut Araghchi, perang yang diluncurkan AS terhadap Iran turut dirasakan dampak negatifnya oleh warga AS sendiri. "Bukan hanya kenaikan gas dan gelembung pasar saham, kenyataan paling pahit yang harus dirasakan warga AS adalah saat suku bunga utang dan kredit rumah naik. Kredit macet di AS saat ini saja sudah yang tertinggi dalam 30 tahun terakhir," kata Araghchi seperti dikutip Al Jazeera. Namun, di sisi lain, perekonomian Iran juga terhantam keras dampak perang. Harga bahan pangan, misalnya, meroket sampai 115 persen. (ttg)

Editor : Pratama Karamoy
#Koran Jawa Pos #Iran #militer #AS