JAKARTA – Sembilan warga negara Indonesia (WNI) yang bergabung dalam misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla (GSF) untuk Palestina diculik militer Israel atau Israel Defense Forces (IDF) kemarin (18/5). Mereka ditangkap setelah kapal yang ditumpangi dicegat IDF di perairan Siprus. Bambang Noroyono, salah satu wartawan Republika yang ikut misi tersebut, sempat mengirim video intersepsi militer Israel. Bambang yang menaiki Kapal Bora Alize juga sempat mengirimkan SOS sebagai tanda kondisi darurat. Selain dua wartawan Republika tersebut, ada tujuh WNI lain yang bergabung dalam Global Peace Convoy Indonesia (GPCI). Termasuk seorang wartawan Tempo dan seorang lainnya mewakili sejumlah media.
Mereka berada di sejumlah kapal berbeda. Total ada 450 aktivis dari berbagai negara yang berlayar menggunakan 61 kapal. Sampai berita ini selesai ditulis pukul 21.00 tadi malam, GPCI menyebut, ada 17 kapal yang dicegat. Sedangkan Kemenlu mengatakan, 10 kapal yang diintersep. Pemimpin Redaksi Republika Andi Muhyiddin membenarkan penculikan kedua jurnalisnya. Dia menegaskan, rombongan tersebut, termasuk dua jurnalisnya, tengah menjalankan misi kemanusiaan.
Para relawan datang tidak membawa senjata, melainkan obat-obatan, bantuan logistik, dan suara nurani dunia untuk warga sipil Palestina yang selama berbulan-bulan menghadapi blokade, kelaparan, dan agresi tanpa henti. "Tindakan ini pelanggaran serius terhadap hukum internasional, prinsip kemanusiaan universal, serta kebebasan sipil warga dunia yang membawa bantuan bagi rakyat Palestina di Gaza," ujarnya dalam keterangan kemarin. GSF membenarkan adanya pengepungan armada oleh kapal-kapal perang angkatan laut Israel di perairan internasional, sekitar 250 mil laut dari pesisir Gaza. Pengepungan militer ini menandai dimulainya kembali agresi ilegal di laut lepas, empat hari setelah ke-54 kapal kemanusiaan tersebut berangkat dari Marmaris, Turki. "Rezim Israel telah kembali menunjukkan pengabaian sistematis terhadap hukum maritim internasional, kebebasan navigasi di laut lepas, serta Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hukum Laut (UNCLOS)," tulis GSF dalam keterangan resminya. Dua pekan lalu, kasus serupa terjadi di lepas pantai Kreta, Yunani. Ketika itu, personel IDF secara ilegal menaiki kapal, melakukan sabotase, serta menahan 181 aktivis pembela hak asasi manusia dari 21 kapal sipil. Para peserta juga mengalami penahanan, kekerasan fisik, hingga kekerasan seksual.
Kecaman Keras
Melalui sambungan telepon jarak jauh dari Turki, Koordinator Dewan Pengarah GPCI Maimon Herawati menyuarakan kecaman keras atas tindakan keji dan berbahaya itu. "Sejak pagi waktu Istanbul, kami mendeteksi pergerakan kapal dan pesawat nirawak milik Israel yang jumlahnya semakin banyak bergerak mendekat ke arah armada kami," terangnya dalam konferensi pers di Media Crisis Center GPCI di Sasana Budaya Dompet Dhuafa, Jakarta, kemarin. Perwakilan Indonesia yang dikirimkan merupakan gabungan dari berbagai elemen lembaga kemanusiaan ternama, antara lain Dompet Dhuafa, Rumah Zakat, Spirit of Aqsa, dan SMART 171. Juga, sejumlah jurnalis tadi.
Koordinasi dengan KBRI
Terpisah, Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) mengecam keras tindakan militer Israel terhadap para aktivis GPCI. Juru Bicara Kemenlu mengatakan, pihaknya melalui Direktorat Perlindungan WNI telah berkoordinasi dengan KBRI Ankara, KBRI Kairo, dan KBRI Amman. "Kementerian Luar Negeri RI mendesak Israel segera melepaskan seluruh kapal dan awak misi kemanusiaan internasional yang ditahan serta menjamin kelanjutan penyaluran bantuan kemanusiaan kepada rakyat Palestina sesuai hukum humaniter internasional," katanya. Kemenlu juga terus menjalin komunikasi dengan berbagai pihak terkait untuk memperoleh informasi mengenai kondisi para WNI. Kemenlu pun telah menyiapkan langkah kontingensi, termasuk fasilitasi perlindungan dan percepatan proses pemulangan apabila diperlukan. (mia/yog/ttg)
Editor : Pratama Karamoy