Arkeologi Daerah Ekonomi Ekonomi & Bisnis Esport Gaya Hidup Global Headline Hiburan Hukum & Kriminal Kesehatan Lifestyle & Hiburan Nasional Olahraga Pemerintahan Pertanian Politik Sains & Teknologi Teknologi Wisata Wisata & Kuliner

Argentina Buru Tikus Pembawa Hantavirus

Pratama Karamoy • Selasa, 19 Mei 2026 | 17:20 WIB
ANALISIS: Teknisi laboratorium Luciana Plum meneliti hantavirus di Cordoba, Argentina (13/5). (Foto: AFP)
ANALISIS: Teknisi laboratorium Luciana Plum meneliti hantavirus di Cordoba, Argentina (13/5). (Foto: AFP)

BUENOS AIRES – Pemerintah Argentina memulai misi ilmiah untuk memburu hewan pengerat yang diduga menjadi pembawa hantavirus. Wabah dari hantavirus merebak di kapal pesiar Hondius yang berlayar dari wilayah paling selatan negara tersebut pada 1 April lalu. Wabah tersebut menewaskan tiga orang dan memicu kekhawatiran global terkait kemungkinan penyebaran virus Andes.

Tim ahli biologi dari Buenos Aires mulai memasang perangkap tikus di sejumlah titik di wilayah Tierra del Fuego kemarin (18/5). Hewan pengerat yang tertangkap akan diuji untuk mengetahui apakah membawa strain virus Andes. Kawasan utama pencarian berada di sekitar Tierra del Fuego National Park yang berjarak sekitar 15 kilometer dari kota Ushuaia.

"Yang penting adalah menganalisis apakah salah satu dari hewan pengerat itu terinfeksi hantavirus," ujar Direktur Epidemiologi Tierra del Fuego Juan Petrina seperti dilansir dari Strait Times. Dia menjelaskan, tikus yang diburu merupakan hewan nokturnal penghuni kawasan hutan dan semak yang memiliki tubuh kecil dengan ekor panjang.

Baca Juga: Bertemu Hari Ini, Xi Jinping dan Putin Perkuat Aliansi Energi

Kasus ini menjadi perhatian internasional setelah korban pertama, seorang warga Belanda, diketahui sempat menghabiskan waktu 48 jam di Ushuaia bersama istrinya sebelum memulai pelayaran. Sang istri kemudian meninggal dua pekan setelahnya. Kondisi itu memunculkan dugaan bahwa pasangan tersebut tertular virus di Argentina. Namun, pemerintah daerah membantah dugaan tersebut. "Tidak ada presedennya," kata ahli mamalia lokal Sebastian Poljak. (lyn/gas)

Editor : Pratama Karamoy
#global