JAGOSATU.COM - Para ilmuwan luar angkasa telah mengamati fenomena penyusutan yang terjadi pada bulan.
Beberapa di antara mereka mengungkapkan kekhawatiran terhadap konsekuensi dari perubahan ukuran bulan tersebut.
Pertanyaan pun muncul: Apakah perubahan ukuran bulan dapat membahayakan penduduk Bumi?
Menurut para ilmuwan, bulan telah mengalami penyusutan selama ratusan juta tahun.
Mereka menyimpulkan bahwa gempa dangkal yang sering terjadi di permukaan bulan adalah faktor utama yang menyebabkan penurunan ukurannya.
Lokasi-lokasi yang berpotensi menjadi tujuan penjelajahan manusia, menurut National Aeronautics and Space Administration (NASA), tampaknya juga menjadi pusat terjadinya gempa-gempa tersebut.
Tom Watters, seorang ahli geologi bulan yang dikutip dari washingtonpost.com, menjelaskan bahwa meskipun secara geologis bulan adalah objek mati, namun secara seismik, bulan masih aktif.
Fakta ini didukung oleh observasi terkait gempa-gempa bulan sejak era Apollo lebih dari 50 tahun yang lalu, ketika para astronaut memasang seismometer di permukaan bulan untuk merekam aktivitas seismiknya.
Gempa-gempa yang terjadi di dekat kutub selatan dan sekitar lokasi pendaratan misi Artemis III NASA, yang direncanakan akan dilaksanakan pada tahun 2027, termasuk yang paling mencolok.
Wilayah ini dipilih karena kegelapan yang konstan di sekitar kutub selatan menimbulkan spekulasi bahwa mungkin terdapat sumber air di sana.
Menurut penelitian terbaru yang dilakukan oleh Tom Watters dan timnya, gempa-gempa dahsyat di bulan disebabkan oleh aktivitas patahan seismik yang terjadi seiring dengan penyusutan bulan.
Selain itu, gempa-gempa ini juga memicu longsor tanah dan pelepasan debu dari kawah-kawah di sekitarnya. (jpg)
Editor : Tina Mamangkey