Jagosatu.com-Eni, seorang warga sekitar rumah mertua Uya Kuya, menyaksikan langsung suasana mencekam sebelum penjarahan terjadi.
Ia mengatakan sekelompok orang asing mulai berkumpul sejak menjelang magrib di dekat masjid lingkungan tersebut.
Kelompok itu tampak mencurigakan karena mengenakan pakaian serba hitam dan bukan berasal dari warga sekitar.
Menurut Eni, aparat kepolisian sudah tiba lebih dulu di lokasi untuk berjaga sebelum kericuhan pecah.
Meski begitu, ia mengaku tidak mengetahui berapa jumlah pasti polisi yang berada di sekitar rumah tersebut.
Massa dalam jumlah banyak mulai bergerak ketika malam hari tiba dengan tujuan merusak pagar rumah.
Pagar rumah mertua Uya Kuya akhirnya dibongkar secara paksa oleh kelompok yang datang.
Eni melihat polisi berusaha menghalangi massa, namun jumlah mereka kalah banyak dibanding para penyerang.
Situasi semakin kacau ketika banyak orang berteriak memberi instruksi kepada kerumunan.
Teriakan itu menyebutkan rumah boleh dijarah, namun dilarang dibakar agar tidak merembet ke rumah lain.
Warga sekitar sudah mendapatkan peringatan lebih dulu melalui grup WhatsApp agar berhati-hati.
Eni sendiri mengaku mendengar jelas instruksi dari kelompok massa meski tidak tahu siapa yang memimpin.
Di tengah kericuhan, sejumlah barang perabotan dari dalam rumah mulai diangkut oleh pelaku.
Polisi akhirnya menangkap sembilan orang yang diduga terlibat langsung dalam penjarahan tersebut.
Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Timur, AKBP Dicky Fertoffan, membenarkan penangkapan itu.
Ia menegaskan penyidik masih mendalami peran masing-masing tersangka serta memburu pelaku lain.
Menurutnya, jumlah pelaku yang terlibat lebih banyak daripada yang sudah diamankan.
Polsek Duren Sawit sebelumnya mencoba mencegah massa dengan memberi imbauan agar menghentikan aksi.
Namun imbauan polisi tidak digubris dan situasi terlanjur ricuh serta sulit dikendalikan.
Akhirnya, Polres Metro Jakarta Timur mengerahkan tim gabungan untuk melakukan penindakan tegas.(LR)
Editor : ALengkong