Arkeologi Daerah Ekonomi Ekonomi & Bisnis Esport Gaya Hidup Global Headline Hiburan Hukum & Kriminal Kesehatan Lifestyle & Hiburan Nasional Olahraga Pemerintahan Politik Sains & Teknologi Teknologi Wisata Wisata & Kuliner

Apakah Blokir Media Sosial di Nepal Malah Memicu Tragedi Berdarah?

ALengkong • 2025-09-09 22:33:48

Gamabar demonstrasi dari Gen Z di Nepal
Gamabar demonstrasi dari Gen Z di Nepal

Jagosatu.com - Demonstrasi besar meletus di Nepal bukan karena pilihan politik tertentu, tapi karena pemerintah memblokir akses ke media sosial tanpa peringatan.

Demonstrasi ini dikenal sebagai “Gen Z protests” karena banyak diikuti oleh anak muda yang merasa suara mereka dibungkam oleh aturan baru.

Pemerintah memblokir 26 platform media sosial besar seperti Facebook, Instagram, WhatsApp, X (Twitter), dan YouTube karena dianggap tidak mendaftar sesuai aturan yang ditetapkan.

Langkah pemerintah ini memicu kemarahan yang luar biasa, terutama dari generasi muda yang merasa kebebasan berekspresi dan akses informasi mereka terancam.

Protes dimulai di Kathmandu, tepatnya di depan gedung parlemen, dan dengan cepat meluas ke seluruh negeri.

Baca Juga: Di Tengah Ketegangan dengan AS, Venezuela Rayakan Natal Lebih Awal

Polisi merespons dengan keras: menembakkan peluru tajam, peluru karet, gas air mata, bahkan meriam air guna membubarkan massa yang mencoba menerobos barikade.

Menurut laporan, setidaknya 19 orang tewas dan puluhan lainnya luka-luka akibat bentrokan ini.

Sejumlah warga bahkan terluka parah, luka tembak di kepala dan dada, dan dirawat di pusat trauma nasional atau rumah sakit terdekat.

Puluhan juga dilaporkan terluka di Itahari, sebuah kota lain di Nepal.

Dalam kondisi tegang itu, pemerintah sempat memberlakukan jam malam guna meredam situasi.

Akhirnya, pemerintah mencabut blokir media sosial—memulihkan akses ke platform seperti Facebook, WhatsApp, Instagram, YouTube, dan X.

Sebagai dampaknya, Menteri Komunikasi dan Informasi mengundurkan diri, dan penyelidikan atas kejadian ini dijanjikan selesai dalam 15 hari.

PM K.P. Sharma Oli juga menyatakan belasungkawa atas korban dan menawarkan kompensasi serta perawatan gratis untuk yang terluka.

Namun demonstrasi tetap berlanjut, dengan tuntutan lebih luas seperti reformasi pemerintahan, keadilan, dan berakhirnya korupsi elit politik.

Beberapa demonstran bahkan membakar gedung penting, termasuk Singha Durbar, markas pemerintahan, serta rumah presiden dan perdana menteri di Kathmandu.

Sementara itu, Presiden Ram Chandra Poudel menyerukan dialog, dan militer berusaha menenangkan situasi, tapi kepercayaan publik tetap rendah.

Di sisi lain, ketegangan merembet ke perbatasan India–Nepal: banyak pelancong dan warga yang terganggu aktivitasnya karena pengetatan keamanan bahkan penutupan jalur perbatasan.

Semua ini mencerminkan bahwa demonstrasi ini bukan sekadar soal media sosial, melainkan simbol perlawanan generasi muda terhadap tirani dan ketidakadilan.

Mereka yang tadinya hanya ingin berkomunikasi kini jadi simbol perubahan sosial dan tuntutan demokrasi yang lebih nyata. (J)

Editor : ALengkong
#mediasosial #Demonstrasi #GenZProtests #reformasi #Nepal #KebebasanBerekspresi