1 Yohanes 4:9-10
HIDUP OLEH KASIH ALLAH
"... supaya kita hidup oleh-Nya." (ay.9)
Selamat malam Saudara. Malam ini, masih dalam konteks kehidupan Kristen yang tengah diperhadapkan dengan pengajaran sesat, pengarang Surat Yohanes melanjutkan pesannya, mengenai bagaimana kasih Allah dinyatakan bagi manusia, yakni dengan mengutus Anak-Nya yang tunggal ke dalam dunia, untuk menjadi pendamaian bagi dosa-dosa kita. Bagi kita, pesan tersebut sangat akrab didengar khususnya dalam khotbah-khotbah natal, namun bagi para pembaca di masa lalu, pesan ini memiliki makna yang agak berbeda. Bagi mereka yang sedang dilanda dengan berbagai bentuk pengajaran sesat dan tentu beberapa atau bahkan banyak hal telah terjadi, sehingga membuat beberapa orang dalam komunitas orang percaya menjadi getir dan mempertanyakan imannya, pesan pengarang menjadi jawaban pasti atas keraguan yang mulai timbul dan menjadi penegas bahwa mereka sesungguhnya beriman kepada Allah yang hidup, yang telah mengaruniakan hidup kepada mereka. Sederhananya, para pembaca masa lalu kembali diingatkan mengenai alasan atau pegangan hidupnya, apa itu? Kasih Allah. Titik.
Pesan pengarang Surat Yohanes di atas rnengingatkan saya dengan sebuah lagu rohani kontemporer, "hidup ini adalah kesempatan, hidup ini untuk melayani Tuhan, jangan sia-siakan waktu yang Tuhan b'ri, hidup ini hanya sementara ... bila saatnya nanti, ku tak berdaya lagi, hidup ini sudah jadi berkat". Apa yang kita dapatkan dari dua paragraf di atas? Bahwa hidup kita semua merupakan anugerah kasih Allah yang sangat nyata. Kasih Allah itu akan senantiasa kita syukuri dan alami jika hidup ini kita jalani dalam ketaatan dan kesetiaan kepada-Nya. Kita memang tidak menyaksikan peristiwa natal pertama, namun dengan menghargai hidup dan menjalani hidup seperti lagu di atas, sebenarnya kita sudah menyaksikan sendiri kasih Allah itu, yaitu hidup itu sendiri.
Doa : (Tuhan, kami bersyukur atas kasih-Mu dalam kehidupan kami). Amin
Editor : Alfianne Lumantow