KOTA BEKASI – Sekitar sembilan jam lamanya Endang Kuswati terjepit di dalam gerbong, khususnya penumpan Kereta Rel Listrik (KRL) yang harus pasrah diseruduk Kereta Api (KA) Argo Bromo Anggrek itu. Peristiwa tabrakan terjadi pada Senin (27/4) malam pukul 20.55, perempuan 41 tahun itu baru terevakuasi keesokan paginya (28/3) sekitar pukul 06.00.
"Anak saya yang paling terakhir dievakuasi karena posisinya terjepit," kata Mahfud, ayah Endang, kepada Radar Bekasi yang menemuinya di RSUD Kota Bekasi kemarin (28/4). Endang sudah dalam keadaan sadar kemarin. "Tapi, kakinya bengkak, tangan juga bengkak. Ini lagi dirontgen, namun belum tahu hasilnya bagaimana," kata Mahfud. Endang merupakan satu dari 84 korban luka akibat terseruduknya KRL 5568 tujuan Kampung Bandan-Cikarang oleh KA Argo Bromo relasi Gambir-Stasiun Pasar Turi di Stasiun Bekasi Timur. Korban meninggal hingga pukul 19.00 tadi malam mencapai 15 orang. Mahfud mendapat informasi bahwa anaknya menjadi korban tabrakan sekitar pukul 22.00 WIB malam. Selama waktu yang panjang itu, Endang harus bertahan menahan sakit di antara para korban yang meninggal di lokasi. "Menurut ceritanya, dia tidur bersama jenazah, di atasnya juga mayat," ujar Mahfud. Endang sehari-hari menaiki KRL tersebut untuk pulang ke Bekasi dari tempatnya bekerja. Ia mencari nafkah di Pasar Baru, Kecamatan Sawah Besar, Jakarta Pusat.
Wijaya, calon penumpang KRL di Stasiun Bekasi Timur, menyebut kepanikan dan histeria luar biasa terjadi setelah KRL 5568 yang tengah berhenti ditabrak dari belakang oleh KA Argo Bromo Anggrek tersebut. Orang-orang berlarian, sebagian berteriak histeris, sementara yang lain berusaha menolong korban dari gerbong yang ringsek. Menurut Kasi Pullahjianta Subdit Laka Ditgakkum Korlantas Polri Kompol Sandhi Wiedyanoe, saat menabrak KRL 5568, kecepatan KA Argo Bromo Anggrek mencapai 110 kilometer per jam. Data yang dihimpun Jawa Pos, KA eksekutif itu dapat mencapai kecepatan maksimal 120 kilometer per jam.
Dengan kecepatan setinggi itu saat menabrak kereta yang tengah berhenti, bagian depan Argo Bromo Anggrek pun sampai masuk ke gerbong terakhir KRL. Sebagian kursi di dalam gerbong terdorong dan bertumpuk akibat hantaman. "Dan, kondisi penumpang sangat memprihatinkan. Mereka tertumpuk-tumpuk, kursi terdorong ke atas," tambahnya.
Benturan Sangat Keras
Muhammad Akbar, pengemudi ojek online yang berada tak jauh dari lokasi tabrakan, semula mengira terjadi kecelakaan kendaraan di jalan raya. "Keras banget, saya pikir itu mobil yang tertabrak. Kita lihat ternyata begini. Api tidak ada, tapi ngebul, asap banyak," katanya kepada Radar Bekasi.
Baca Juga: Kementerian Pekerjaan Umum Tata Pulau Penyengat Jadi Destinasi Budaya
Andi, salah seorang penumpang selamat, menuturkan bahwa KRL yang ditumpanginya sedang berhenti cukup lama sebelum tabrakan terjadi. "Kejadiannya begitu cepat, kereta jarak jauh menabrak kami di KRL. Gerbong paling belakang menerima dampak terparah karena menjadi titik benturan langsung," katanya. Seluruh korban meninggal berasal dari KRL. Sedangkan penumpang KA Argo Bromo Anggrek berjumlah 240 orang berhasil dievakuasi dalam kondisi selamat, termasuk masinisnya.
Telusuri Penyebab
KAI menyatakan bahwa penyebab pasti tabrakan akan diselidiki bersama Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT). Investigasi akan menelusuri sistem persinyalan, komunikasi antarpetugas, serta prosedur keselamatan saat rangkaian berhenti di jalur aktif.
Muncul beberapa spekulasi terkait penyebab kecelakaan. Mulai dari dugaan kelalaian masinis KA Argo Bromo yang tidak merespons sinyal merah hingga dugaan kelalaian Pengendali Perjalanan Kereta Api Terpusat (PPKT) dalam mengatur sinyal blok masuk Stasiun Bekasi Timur.
Dikonfirmasi terkait hal itu, Manager Humas KAI Daop 1 Jakarta Franoto Wibowo mengatakan bahwa saat ini kewenangan berkomentar berada di Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba. "Dihandle Ibu Anne ya," ujarnya kepada Jawa Pos. Namun saat dikonfirmasi, Anne tidak merespons.
Bom Waktu
Di sela mengunjungi para korban kemarin, Presiden Prabowo Subianto menyoroti banyaknya perlintasan sebidang yang belum memiliki sistem pengamanan memadai. Pemerintah pun berkomitmen melakukan pembenahan secara menyeluruh. Prabowo mengungkapkan, pemerintah telah menyetujui pembangunan flyover di Bekasi untuk mengurangi risiko kecelakaan. "Keperluan kereta api itu sangat penting, sangat mendesak, jadi saya sudah setujui segera dibangun flyover langsung dengan bantuan presiden," katanya. Terpisah, Ketua Komisi V DPR Lasarus menegaskan bahwa status perkeretaapian Indonesia saat ini adalah "darurat perlintasan sebidang". Ribuan perlintasan liar yang tidak tertata disebutnya sebagai bom waktu yang siap meledak kapan saja. "Biang kerok dari tragedi ini jelas yang pertama adalah perlintasan sebidang," ungkapnya.
Namun, lanjutnya, yang menjadi sorotan adalah kegagalan sistem persinyalan PT KAI. Menurutnya, ada jeda waktu yang cukup sejak insiden pertama terjadi hingga KRL kedua dihentikan di stasiun. Menurut Lasarus, seharusnya sistem tidak bersifat person-to-person. Tetapi, system-to-system. (zak/sur/mif/idr/raf/shf/lyn/ttg)
Editor : Pratama Karamoy