KECAMAN terhadap tindakan penyergapan dan penculikan para aktivis kemanusiaan Global Sumud Flotilla oleh Israel datang dari berbagai penjuru. Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim menyebutnya sebagai pelanggaran hak asasi manusia. "Malaysia menuntut jaminan keselamatan bagi seluruh aktivis yang terlibat dan pembebasan mereka segera," tulis Anwar melalui unggahan Facebook seperti dikutip dari Malay Mail kemarin (19/5). Lebih dari 100 aktivis kemanusiaan ditahan dalam operasi pencegatan tersebut. Sebanyak 16 di antaranya merupakan warga Malaysia.
Dia juga menuding, Israel sengaja menghalangi bantuan kemanusiaan masuk ke Gaza serta membungkam solidaritas internasional terhadap rakyat Palestina. "Penindasan terhadap rakyat Palestina dan mereka yang mengirim bantuan kemanusiaan harus segera dihentikan. Israel harus menghadapi keadilan serta tuntutan pertanggungjawaban," tuturnya.
Di sisi lain, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu membanggakan operasi terhadap rombongan flotilla tersebut yang berhasil dilakukan dengan lebih senyap. "Anda melakukan pekerjaan luar biasa, baik pada flotilla pertama maupun operasi kali ini, dan berhasil menggagalkan rencana jahat yang bertujuan mematahkan isolasi yang kita berlakukan terhadap teroris Hamas di Gaza," ujar Netanyahu melalui radio komunikasi kepada komandan armada kapal rudal Angkatan Laut Israel saat mengunjungi markas operasional di Kirya, Tel Aviv, Senin (18/5) waktu setempat.
Baca Juga: 7 WNI Disekap Israel, 2 Lainnya Masih Rawan
Eropa Dianggap Terlibat
Kecaman juga datang dari Spanyol. Pemimpin partai beraliran kiri Spanyol, Ione Belarra, menilai, tindakan Israel tersebut membuktikan negeri Yahudi itu tak menghormati hukum.
Dia juga menuding, Eropa turut bertanggung jawab karena dianggap membiarkan tindakan Israel terus berlangsung. "Israel menyerang dan menculik aktivis Global Sumud Flotilla tepat di tengah Laut Mediterania. Semua itu terjadi dengan impunitas total, sementara Eropa terus menjadi kaki tangan para pelaku genosida," tulis Belarra seperti dilansir Anadolu Agency. (lyn/ttg)
Editor : Pratama Karamoy