Pembacaan Alkitab: Kejadian 39:1–6
Tema: Light Your Candle!
Ayat Kunci: "Namun, TUHAN menyertai Yusuf sehingga ia menjadi orang berhasil." (Kejadian 39:2a)
Shalom, Sobat Muda yang dikasihi Tuhan. Ada sebuah pepatah yang sangat terkenal: "Lebih baik menyalakan lilin daripada mengutuki kegelapan." Kalimat ini sederhana, tetapi memiliki makna yang sangat dalam. Ketika ruangan gelap, mengeluh karena gelap tidak akan membuat keadaan berubah.
Mengutuk kegelapan juga tidak akan membuat cahaya datang. Tetapi satu lilin kecil mampu mengusir sebagian kegelapan dan memberi harapan bagi orang-orang di sekitarnya.
Begitu pula dalam kehidupan. Banyak orang menghabiskan waktu untuk mengeluh tentang keadaan, menyalahkan orang lain, atau meratapi nasib. Namun hanya sedikit yang memilih mengambil tindakan nyata untuk membawa perubahan.
Tema kita hari ini, "Light Your Candle!", mengajak kita untuk menjadi pribadi yang tidak hanya pandai mengeluh, tetapi berani menjadi pembawa terang di mana pun Tuhan menempatkan kita.
Firman Tuhan hari ini mengisahkan kehidupan Yusuf. Jika ada seseorang yang memiliki alasan untuk kecewa kepada hidup, mungkin Yusuf adalah salah satunya.
Bayangkan perjalanan hidupnya. Ia dibenci oleh saudara-saudaranya sendiri. Ia dilempar ke dalam sumur. Ia dijual sebagai budak. Ia dipisahkan dari ayah yang sangat mengasihinya. Ia kehilangan rumah, keluarga, dan masa depannya.
Semua itu bukan karena kesalahannya sendiri. Bagi banyak orang, pengalaman seperti itu cukup menjadi alasan untuk menyerah. Mungkin Yusuf bisa berkata, "Mengapa Tuhan membiarkan ini terjadi?" Atau, "Untuk apa saya tetap hidup benar kalau akhirnya diperlakukan seperti ini?"
Namun yang menarik, Alkitab tidak mencatat Yusuf hidup dalam kepahitan. Sebaliknya, Kejadian 39 justru membuka kisahnya dengan kalimat yang penuh harapan: "TUHAN menyertai Yusuf sehingga ia menjadi orang berhasil."
Perhatikan bahwa Alkitab tidak mengatakan Yusuf berhasil karena situasinya baik. Bukan. Ia berhasil justru ketika masih berstatus sebagai budak.
Artinya, keberhasilan menurut Tuhan tidak selalu dimulai dari keadaan yang nyaman. Keberhasilan dimulai ketika seseorang tetap setia, bekerja dengan sungguh-sungguh, dan percaya kepada penyertaan Tuhan di tengah keadaan yang sulit.
Sobat Muda, Sering kali kita berpikir bahwa kita baru bisa melakukan sesuatu ketika semua keadaan sudah mendukung.
"Kapan saya bisa melayani? Nanti kalau kuliah selesai." "Nanti kalau pekerjaan saya sudah mapan." "Nanti kalau masalah keluarga selesai." "Nanti kalau hidup saya lebih baik." Padahal Tuhan sering bekerja justru ketika keadaan belum sempurna. Yusuf tidak menunggu menjadi orang bebas untuk memberikan yang terbaik.
Ia memulai dari tempat yang paling rendah, yaitu sebagai seorang budak. Ia tetap bekerja dengan setia. Ia tetap menjaga integritas. Ia tetap dekat dengan Tuhan. Ia tetap menjadi berkat. Inilah yang disebut menyalakan lilin.
Sobat Muda, Ada sebuah kalimat yang patut kita renungkan: Satu tindakan kecil lebih berharga daripada seribu niat besar. Banyak orang memiliki niat baik. Ingin rajin berdoa. Ingin membaca Alkitab. Ingin melayani. Ingin memperbaiki hubungan dengan keluarga.
Ingin berubah menjadi lebih baik. Namun semuanya hanya berhenti sebagai keinginan. Tidak pernah diwujudkan. Sebaliknya, ada orang yang mungkin hanya memulai dengan langkah kecil. Membaca satu pasal Alkitab setiap hari.
Berdoa lima menit setiap pagi. Mengucapkan terima kasih kepada orang tua. Membantu teman yang kesulitan. Melayani dengan setia meskipun tidak terlihat. Langkah-langkah kecil inilah yang akhirnya membawa perubahan besar.
Yusuf tidak langsung menjadi penguasa Mesir. Ia memulai dengan setia mengurus rumah Potifar. Karena kesetiaannya dalam perkara kecil, Tuhan mempercayakan perkara yang lebih besar. Ini adalah prinsip Kerajaan Allah. Tuhan melihat kesetiaan lebih dahulu sebelum memberikan tanggung jawab yang lebih besar.
Sobat Muda, Ada banyak "kegelapan" yang kita hadapi hari ini. Ada yang sedang bergumul dengan masalah keluarga. Ada yang sedang menghadapi tekanan ekonomi. Ada yang sedang mencari pekerjaan.
Ada yang sedang berjuang menyelesaikan pendidikan. Ada yang merasa masa depannya tidak jelas. Ada yang kecewa terhadap diri sendiri. Ada yang terluka karena dikhianati. Semua itu nyata.
Namun pertanyaannya bukanlah, "Mengapa hidup saya gelap?" Pertanyaannya adalah, "Apa yang akan saya lakukan di tengah kegelapan itu?" Apakah kita akan terus mengeluh? Ataukah kita memilih menyalakan lilin? Menyalakan lilin berarti tetap memilih bersyukur.
Tetap bekerja keras. Tetap berbuat baik. Tetap melayani. Tetap mengasihi. Tetap percaya bahwa Tuhan sedang bekerja meskipun kita belum melihat hasilnya. Sering kali kita tidak bisa mengendalikan keadaan.
Kita tidak bisa memilih keluarga tempat kita dilahirkan. Kita tidak bisa mengendalikan kondisi ekonomi dunia. Kita tidak bisa mengubah masa lalu. Kita tidak bisa memaksa semua orang memperlakukan kita dengan baik. Namun kita selalu dapat memilih bagaimana kita merespons semua itu.
Respon itulah yang menentukan kualitas hidup kita. Yusuf tidak mengendalikan pengkhianatan saudara-saudaranya. Tetapi ia mengendalikan sikap hatinya. Ia tidak membiarkan kepahitan menguasainya. Ia memilih tetap setia kepada Tuhan. Inilah yang membuat hidupnya berbeda.
Sobat Muda, Dunia sering mengajarkan bahwa kita hanya perlu bekerja keras jika ada penghargaan. Namun Yusuf menunjukkan bahwa orang percaya bekerja dengan sungguh-sungguh karena ia sedang melayani Tuhan. Walaupun Potifar adalah tuannya di bumi, Yusuf sadar bahwa Tuhan adalah Tuan yang sesungguhnya.
Karena itu ia memberikan yang terbaik. Hal yang sama berlaku bagi kita. Belajarlah dengan sungguh-sungguh. Bekerjalah dengan jujur. Layanilah dengan setia. Hormatilah orang tua.
Jagalah integritas. Lakukan semuanya bukan hanya agar dipuji manusia, tetapi sebagai bentuk ibadah kepada Tuhan. Ingatlah, Tuhan melihat setiap kesetiaan yang mungkin tidak dilihat orang lain.
Mungkin tidak ada yang mengucapkan terima kasih. Mungkin tidak ada yang memberi penghargaan. Mungkin tidak ada yang memperhatikan. Tetapi Tuhan melihat semuanya. Dan penyertaan Tuhan jauh lebih berharga daripada pujian manusia. Ada satu pelajaran penting dari kehidupan Yusuf.
Penyertaan Tuhan tidak selalu menghilangkan masalah. Penyertaan Tuhan memberikan kekuatan untuk menghadapi masalah. Yusuf tetap menjadi budak. Tetapi Tuhan menyertainya. Nanti ia difitnah. Tuhan tetap menyertainya. Ia dipenjara. Tuhan tetap menyertainya. Baru kemudian Tuhan mengangkatnya menjadi pemimpin Mesir.
Artinya, penyertaan Tuhan bukan berarti hidup tanpa kesulitan. Penyertaan Tuhan berarti Tuhan hadir di setiap langkah perjalanan hidup kita. Dan kehadiran Tuhan cukup untuk memberi kita pengharapan.
Sobat Muda, Mungkin hari ini Tuhan tidak meminta kita melakukan sesuatu yang besar. Mungkin Tuhan hanya meminta kita menjadi terang di rumah. Menjadi anak yang menghormati orang tua.
Menjadi mahasiswa yang jujur. Menjadi pekerja yang bertanggung jawab. Menjadi sahabat yang setia.Menjadi pemuda yang menjaga kekudusan. Semua itu tampak sederhana. Tetapi dari hal-hal sederhana itulah terang Kristus mulai bersinar. Jangan pernah meremehkan tindakan kecil yang dilakukan dengan kasih dan kesetiaan.
Senyuman dapat menguatkan seseorang. Ucapan yang baik dapat memulihkan hati yang terluka.Pertolongan sederhana dapat mengubah hidup seseorang. Kesaksian hidup yang baik dapat membawa orang lain mengenal Kristus. Terang tidak harus besar untuk mengusir gelap.
Satu lilin kecil saja sudah cukup untuk membuat orang menemukan jalan. Begitu pula hidup kita. Ketika kita hidup setia kepada Tuhan, kita sedang menjadi terang bagi dunia yang gelap.
Sobat Muda, mungkin kita tidak selalu dapat memilih situasi hidup, tetapi kita selalu dapat memilih sikap hati. Yusuf mengajarkan bahwa penyertaan Tuhan lebih penting daripada keadaan yang nyaman. Ia tidak membiarkan penderitaan memadamkan imannya, melainkan tetap memberikan yang terbaik di tempat Tuhan menempatkannya.
Hari ini Tuhan juga memanggil kita untuk menjadi terang. Jangan habiskan tenaga untuk mengeluh, menyalahkan keadaan, atau meratapi masa lalu. Mulailah dengan satu tindakan nyata: belajar lebih sungguh-sungguh, melayani dengan setia, bekerja dengan jujur, mengampuni, mengasihi, dan hidup dalam ketaatan kepada Tuhan.
Ingatlah, terang tidak pernah bertanya seberapa gelap dunia ini. Terang hanya bersinar. Karena itu, ke mana pun Tuhan mengutus kita, nyalakanlah lilinmu. Jadilah terang yang memancarkan kasih Kristus melalui perkataan, sikap, dan perbuatanmu. Sebab ketika Tuhan menyertai hidup kita, sekecil apa pun tindakan yang kita lakukan dengan setia akan dipakai-Nya untuk membawa berkat bagi banyak orang. Amin.
Doa : Ya Bapa yang Mahakasih, terima kasih atas firman-Mu yang mengajarkan kami untuk menjadi terang di mana pun kami berada. Tolong kami agar tidak mudah mengeluh, tetapi setia melakukan yang terbaik dengan mengandalkan penyertaan-Mu. Pakailah hidup kami menjadi berkat dan memuliakan nama-Mu. Dalam nama Yesus Kristus kami berdoa. Amin.
Editor : Alfianne Lumantow