PEMBACAAN ALKITAB : Kejadian 41:37–45
TEMA : DARI MASA LALU KE MASA BARU
Ayat Utama: "Demikianlah Yusuf diangkat Firaun menjadi pemegang kuasa atas seluruh tanah Mesir." (Kejadian 41:43)
Shalom, saudara-saudari yang dikasihi Tuhan. Setiap orang memiliki masa lalu. Ada yang mengenangnya dengan penuh sukacita, tetapi tidak sedikit yang memandang masa lalu dengan penyesalan, luka, dan air mata.
Ada pengalaman dikhianati, kehilangan orang yang dikasihi, kegagalan dalam usaha, sakit penyakit, masalah keluarga, atau keputusan-keputusan yang dahulu keliru. Tidak jarang masa lalu menjadi beban yang terus menghantui sehingga seseorang sulit melangkah menuju masa depan.
Firman Tuhan hari ini mengajak kita melihat kehidupan Yusuf. Kisah Yusuf memberikan pengharapan bahwa Tuhan sanggup membawa seseorang dari masa lalu yang penuh penderitaan menuju masa depan yang penuh pengharapan.
Tuhan tidak menghapus perjalanan hidup Yusuf, tetapi Tuhan mengubah arti dari perjalanan itu sehingga semuanya menjadi bagian dari rencana-Nya yang indah.
Perikop ini menceritakan saat Yusuf mengalami perubahan yang sangat besar. Setelah bertahun-tahun hidup sebagai budak dan narapidana, kini ia berdiri di hadapan Firaun. Bukan sebagai tahanan, melainkan sebagai orang yang dipercaya untuk memimpin seluruh tanah Mesir.
Firaun memberikan cincin meterai kepada Yusuf. Dalam budaya Mesir kuno, cincin meterai bukan sekadar perhiasan. Cincin itu melambangkan kuasa dan wewenang kerajaan. Dengan cincin itu, Yusuf dapat mengambil keputusan atas nama raja.
Selain itu, Yusuf dikenakan pakaian lenan halus dan kalung emas. Semua itu merupakan lambang kehormatan, kedudukan, dan kepercayaan yang diberikan oleh kerajaan. Bahkan Yusuf dinaikkan ke kereta kebesaran, dan orang-orang diperintahkan untuk memberi hormat kepadanya.
Betapa kontras perubahan yang dialami Yusuf. Dahulu ia memakai pakaian tahanan, sekarang ia mengenakan pakaian bangsawan. Dahulu ia hidup di balik jeruji penjara, sekarang ia berada di dalam istana. Dahulu ia dilupakan, sekarang ia dihormati oleh seluruh negeri.
Perubahan itu bukanlah kebetulan. Semua terjadi karena Tuhan bekerja menurut waktu dan cara-Nya sendiri.
Kisah Yusuf mengajarkan bahwa penjara bukanlah akhir cerita. Penjara justru menjadi jalan menuju istana. Apa yang tampak sebagai kegagalan ternyata dipakai Tuhan menjadi bagian dari proses menuju penggenapan rencana-Nya.
Saudara-saudari, Sering kali kita berharap Tuhan segera mengubah keadaan kita. Ketika doa belum dijawab atau persoalan belum selesai, kita mulai bertanya, "Tuhan, sampai kapan?" Namun melalui kehidupan Yusuf kita belajar bahwa Tuhan tidak pernah terlambat.
Selama bertahun-tahun Yusuf menjalani proses yang tidak mudah. Ia dijual oleh saudara-saudaranya. Ia menjadi budak di rumah Potifar. Ketika bekerja dengan jujur, ia justru difitnah dan dipenjara. Bahkan setelah menolong juru minuman raja, Yusuf masih harus menunggu dua tahun lagi sebelum akhirnya dipanggil menghadap Firaun.
Bila dilihat secara manusia, masa-masa itu tampak sia-sia. Namun sesungguhnya Tuhan sedang membentuk karakter Yusuf. Tuhan sedang mengajar Yusuf tentang kesabaran, kerendahan hati, ketekunan, tanggung jawab, dan hikmat.
Tuhan lebih dahulu membentuk pribadi Yusuf sebelum mempercayakan jabatan yang besar kepadanya. Hal yang sama juga terjadi dalam kehidupan kita. Kadang-kadang kita lebih fokus meminta Tuhan mengubah keadaan, sementara Tuhan sedang berusaha mengubah hati dan karakter kita.
Karena itu, jangan sia-siakan masa penantian. Bisa jadi justru di dalam masa-masa sulit itulah Tuhan sedang mempersiapkan kita untuk tanggung jawab yang lebih besar. Ada satu hal yang menarik dari kehidupan Yusuf. Di mana pun ia ditempatkan, ia selalu bekerja dengan setia.
Ketika menjadi budak di rumah Potifar, ia bekerja dengan sungguh-sungguh sehingga dipercaya mengelola seluruh rumah tuannya. Ketika dipenjara, ia tetap bertanggung jawab sehingga kepala penjara mempercayakan banyak tugas kepadanya.
Kesetiaan Yusuf tidak bergantung pada tempatnya berada. Ia tetap setia ketika tidak ada penghargaan. Ia tetap bekerja dengan jujur ketika tidak ada yang memperhatikan. Ia tetap mengandalkan Tuhan ketika hidup terasa tidak adil. Karena kesetiaan dalam perkara kecil itulah Tuhan mempercayakan perkara yang jauh lebih besar.
Prinsip ini tetap berlaku sampai sekarang. Sering kali kita ingin dipercaya memimpin hal-hal besar, tetapi belum setia mengerjakan hal-hal kecil. Kita ingin menerima berkat yang besar, tetapi belum bertanggung jawab atas berkat yang sudah Tuhan percayakan.
Yusuf mengajarkan bahwa kesetiaan dalam perkara kecil merupakan bagian dari persiapan Tuhan menuju perkara yang lebih besar.
Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, Firman Tuhan hari ini juga mengingatkan bahwa Allah tidak pernah berhenti bekerja bagi kebaikan umat-Nya.
Melalui Nabi Yeremia, Tuhan berfirman, "Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan."
Janji ini bukan berarti kehidupan orang percaya bebas dari penderitaan. Justru Alkitab menunjukkan bahwa banyak tokoh iman mengalami kesulitan. Yusuf mengalami penjara. Daud dikejar-kejar Saul. Elia mengalami keputusasaan. Ayub kehilangan hampir segala sesuatu. Rasul Paulus berkali-kali dipenjara.
Bahkan Tuhan Yesus sendiri harus memikul salib sebelum memasuki kemuliaan kebangkitan. Artinya, penderitaan bukan tanda bahwa Tuhan meninggalkan kita. Penderitaan juga bukan bukti bahwa Tuhan berhenti mengasihi kita.
Sering kali penderitaan menjadi tempat di mana Tuhan sedang menyatakan kuasa, pemeliharaan, dan kasih setia-Nya. Di tengah penderitaan, Tuhan membentuk iman. Di tengah air mata, Tuhan menguatkan pengharapan. Di tengah kegagalan, Tuhan sedang membuka jalan baru.
Karena itu, jangan biarkan masa lalu menguasai kehidupan kita. Mungkin kita pernah gagal. Mungkin kita pernah berbuat salah. Mungkin kita pernah disakiti. Mungkin kita pernah kehilangan sesuatu yang sangat berharga. Semua itu memang bagian dari perjalanan hidup kita, tetapi semuanya tidak harus menentukan masa depan kita.
Di dalam Tuhan selalu ada kesempatan untuk memulai lembaran yang baru. Kasih karunia Tuhan sanggup memulihkan apa yang rusak. Pengampunan Tuhan sanggup membebaskan kita dari rasa bersalah. Penyertaan Tuhan sanggup memberi kekuatan untuk melangkah kembali.
Sebagaimana Yusuf tidak terus hidup dalam kepahitan terhadap saudara-saudaranya, demikian pula kita dipanggil untuk melepaskan kepahitan dan mempercayakan masa depan kepada Tuhan.
Masa lalu adalah guru yang mengajar kita, tetapi jangan biarkan masa lalu menjadi penjara yang mengikat kita. Marilah kita melangkah bersama Tuhan menuju masa depan yang telah dipersiapkan-Nya.
Saudara-saudari yang terkasih, kisah Yusuf adalah bukti nyata bahwa Tuhan sanggup mengubah kehidupan seseorang secara luar biasa. Dari seorang budak menjadi penguasa, dari penjara menuju istana, dari penderitaan menuju pemulihan. Semua itu terjadi karena Tuhan memegang kendali atas sejarah hidup manusia.
Jika hari ini kita sedang bergumul, jangan kehilangan pengharapan. Tuhan yang menyertai Yusuf adalah Tuhan yang sama yang menyertai kita. Dia tidak pernah meninggalkan anak-anak-Nya. Dalam waktu-Nya yang sempurna, Dia sanggup membuka jalan yang tidak pernah kita bayangkan.
Marilah kita tetap setia kepada Tuhan dalam setiap keadaan, terus hidup dalam kebenaran, dan mempercayakan masa depan kepada-Nya. Sebab Allah sanggup membawa kita keluar dari luka masa lalu menuju kehidupan yang baru, penuh damai sejahtera, pengharapan, dan sukacita. Kiranya hidup kita menjadi kesaksian bahwa Tuhan selalu setia kepada setiap orang yang berharap kepada-Nya. Amin.
Doa : Ya Bapa yang penuh kasih, kami bersyukur atas firman-Mu hari ini. Ajarlah kami percaya bahwa Engkau sanggup mengubah masa lalu yang penuh luka menjadi masa depan yang penuh pengharapan. Kuatkan iman kami untuk tetap setia, dan pakailah hidup kami menjadi berkat bagi sesama. Di dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.
Editor : Alfianne Lumantow