PEMBACAAN ALKITAB: 1 Yohanes 3:11-18
TEMA: KASIH ADALAH BUKTI
"Kita tahu bahwa kita sudah berpindah dari dalam maut ke dalam hidup, yaitu karena kita mengasihi saudara kita. Siapa yang tidak mengasihi, ia tetap tinggal di dalam maut." (1 Yohanes 3:14)
Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, Dalam berbagai film, kita sering menemukan gambaran tentang zombie atau mayat hidup. Zombie digambarkan sebagai makhluk yang masih dapat bergerak, tetapi sebenarnya tidak memiliki kehidupan yang sesungguhnya. Mereka berjalan tanpa tujuan yang jelas, mengikuti dorongan naluri, dan hanya mencari sesuatu untuk memuaskan keinginan mereka.
Tentu kita memahami bahwa zombie hanyalah karakter fiksi. Namun, gambaran ini dapat menjadi sebuah refleksi rohani bagi kehidupan manusia. Sebab ternyata seseorang dapat memiliki kehidupan secara fisik, tetapi kehilangan makna kehidupan secara rohani.
Ada orang yang setiap hari bangun, bekerja, makan, tidur, dan mengulang rutinitas yang sama. Ia memiliki aktivitas, memiliki kesibukan, bahkan mungkin memiliki banyak pencapaian. Namun, jika seluruh hidupnya hanya berpusat pada diri sendiri tanpa kasih kepada Allah dan sesama, maka secara rohani ia kehilangan tanda kehidupan yang sejati.
Firman Tuhan hari ini berbicara tentang sebuah tanda yang sangat penting dalam kehidupan orang percaya, yaitu kasih.
Rasul Yohanes berkata bahwa kita mengetahui bahwa kita telah berpindah dari maut kepada hidup karena kita mengasihi saudara kita. Perhatikan bahwa Yohanes tidak mengatakan bahwa kasih adalah penyebab seseorang memperoleh keselamatan. Kita tidak diselamatkan karena kita berhasil mengasihi dengan sempurna. Keselamatan adalah anugerah Allah melalui Yesus Kristus.
Namun, kasih adalah bukti bahwa seseorang telah menerima kehidupan baru dari Allah.
Seperti sebuah pohon yang sehat akan menghasilkan buah, demikian pula kehidupan yang telah diperbarui oleh Allah akan menghasilkan kasih. Buah tidak membuat sebuah pohon menjadi hidup, tetapi buah menunjukkan bahwa pohon itu memang hidup.
Demikian juga kasih dalam kehidupan orang percaya. Kasih bukanlah cara untuk membeli kasih Allah, melainkan respons karena kita telah terlebih dahulu menerima kasih Allah.
Saudara-saudari, Ketika Yohanes berkata, "Kita tahu," ia menggunakan kata Yunani oidamen. Kata ini menunjukkan sebuah pengetahuan yang bukan hanya sekadar informasi, tetapi sebuah pemahaman yang telah menjadi pengalaman bersama dalam komunitas orang percaya.
Jemaat pada waktu itu tahu bahwa mereka telah mengalami perubahan hidup. Mereka dahulu berada dalam keadaan dosa, tetapi melalui Kristus mereka mengalami pembaruan. Mereka dahulu berada dalam maut, tetapi sekarang telah menerima kehidupan.
Ini adalah sebuah perjalanan rohani yang besar: perpindahan dari manusia lama kepada manusia baru.
Dalam Perjanjian Lama, bangsa Israel mengalami peristiwa keluaran dari Mesir menuju tanah perjanjian. Itu bukan sekadar perpindahan tempat, tetapi perubahan status. Mereka tidak lagi menjadi budak, melainkan umat pilihan Allah.
Demikian pula dalam kehidupan orang percaya. Melalui Kristus, kita mengalami sebuah "eksodus spiritual". Kita dipindahkan dari kuasa dosa menuju kehidupan baru bersama Allah.
Namun, kehidupan baru itu harus terlihat dalam perubahan nyata. Salah satu tanda utamanya adalah kasih. Karena itu Yohanes memberikan peringatan yang sangat serius: "Siapa yang tidak mengasihi, ia tetap tinggal di dalam maut."
Mengapa Yohanes berbicara begitu keras? Karena bagi Yohanes, kasih bukan sekadar perasaan baik atau ucapan yang indah. Kasih adalah tanda kehidupan Allah dalam diri seseorang.
Seseorang dapat berbicara tentang iman, dapat memahami banyak ajaran rohani, bahkan dapat aktif dalam pelayanan, tetapi jika hidupnya dipenuhi kebencian, permusuhan, dan ketidakpedulian terhadap sesama, maka ada sesuatu yang perlu diperiksa kembali.
Kasih menjadi ukuran yang menunjukkan apakah kehidupan baru dari Allah benar-benar bekerja dalam diri kita.
Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, Yohanes kemudian memberikan contoh yang kontras antara Kain dan Kristus.
Kain membunuh Habel karena iri hati dan kebencian. Ia melihat saudaranya bukan sebagai pribadi yang harus dikasihi, tetapi sebagai ancaman. Kebencian membuat seseorang kehilangan kemampuan melihat sesamanya sebagai ciptaan Allah.
Sebaliknya, Kristus menunjukkan kasih yang sempurna. Ia tidak hanya berkata bahwa Ia mengasihi manusia, tetapi membuktikannya dengan memberikan nyawa-Nya bagi kita.
Ayat 16 berkata, "Demikianlah kita ketahui kasih Kristus, yaitu bahwa Ia telah menyerahkan nyawa-Nya untuk kita; jadi kita pun wajib menyerahkan nyawa kita untuk saudara-saudara kita."
Kasih Kristus menjadi standar bagi kasih orang percaya. Kasih bukan hanya tentang apa yang kita rasakan, tetapi tentang apa yang kita lakukan. Kasih selalu bergerak keluar dari diri sendiri menuju orang lain.
Karena itu Yohanes memberikan contoh yang sangat praktis. Jika seseorang memiliki harta duniawi tetapi melihat saudaranya berkekurangan dan menutup pintu hatinya, bagaimana kasih Allah dapat tinggal dalam dirinya?
Kasih yang sejati tidak berhenti pada kata-kata. Ayat 18 berkata,"Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran."
Dunia hari ini sangat kaya dengan kata-kata tentang kasih. Banyak orang berbicara tentang kepedulian, solidaritas, dan kemanusiaan. Namun kasih yang sejati selalu membutuhkan tindakan.
Kasih terlihat ketika kita hadir bagi mereka yang membutuhkan. Kasih terlihat ketika kita mengampuni orang yang menyakiti kita. Kasih terlihat ketika kita membantu tanpa mencari pujian.
Kasih terlihat ketika kita memilih berdamai daripada memperbesar konflik. Kasih terlihat ketika kita memperlakukan setiap orang dengan martabat sebagai ciptaan Allah.
Saudara-saudari, Memang tidak mudah mengasihi di tengah dunia yang sering kali dipenuhi kebencian. Dunia mengajarkan bahwa kita harus membalas ketika disakiti. Dunia mengatakan bahwa kita harus mengutamakan kepentingan diri sendiri. Dunia sering mengukur hubungan berdasarkan keuntungan.
Namun, orang yang telah menerima kehidupan baru dari Allah memiliki cara hidup yang berbeda.
Kita mampu mengasihi bukan karena manusia selalu layak dikasihi, tetapi karena kita telah terlebih dahulu dikasihi Allah.
Kasih Allah kepada kita bukanlah kasih yang bersyarat. Ketika kita masih berdosa, Kristus tetap datang memberikan hidup-Nya bagi kita. Ketika kita jauh dari Allah, Ia mencari dan memanggil kita kembali.
Kasih itulah yang mengubah hidup kita. Kasih itu menarik kita keluar dari kegelapan maut dan membawa kita masuk ke dalam terang kehidupan.
Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, Hari ini Firman Tuhan mengajak kita memeriksa kehidupan kita. Apakah kasih menjadi bukti bahwa Kristus hidup dalam diri kita?
Apakah orang lain dapat melihat kasih Allah melalui cara kita berbicara, bertindak, dan memperlakukan sesama? Janganlah kita menjadi seperti "mayat hidup" secara rohani, yaitu memiliki aktivitas tetapi kehilangan kasih. Jangan biarkan hati kita dipenuhi kebencian, kepahitan, dan ketidakpedulian.
Marilah kita terus tinggal dalam kasih Allah dan membiarkan kasih itu mengalir melalui hidup kita. Sebab kasih bukan hanya perintah yang harus dilakukan, tetapi tanda bahwa kita telah menerima kehidupan baru dari Kristus.
Kiranya kehidupan kita menjadi bukti nyata bahwa kita telah berpindah dari maut kepada hidup. Melalui kasih yang kita tunjukkan, dunia dapat melihat bahwa Kristus sungguh hidup di dalam kita. Amin.
Doa : Ya Bapa yang penuh kasih, kami bersyukur atas kasih-Mu yang telah membawa kami dari maut kepada kehidupan melalui Kristus. Ajarlah kami mengasihi bukan hanya dengan perkataan, tetapi melalui tindakan nyata. Penuhi hati kami dengan kasih, pengampunan, dan kepedulian agar hidup kami menjadi kesaksian bagi sesama. Amin.
Editor : Alfianne Lumantow