Jagosatu.com - Sinterklas, atau yang dikenal juga sebagai Santa Claus, adalah sosok yang selalu mencuri perhatian saat Natal tiba.
Di masa kini, Sinterklas digambarkan sebagai pria tua berjanggut putih dengan pakaian merah cerah dan karung berisi hadiah.
Cerita tentang Sinterklas modern melibatkan rusa-rusa kutub yang menarik keretanya untuk membagikan hadiah kepada anak-anak di malam Natal.
Asal-usul Sinterklas berasal dari kisah nyata Saint Nicholas, seorang uskup dermawan dari Myra, Turki, pada abad ke-4.
Saint Nicholas dikenal karena kebaikan hatinya, seperti memberi emas secara diam-diam kepada keluarga miskin yang membutuhkan.
Tradisi memperingati Saint Nicholas pada 6 Desember menyebar ke Eropa dan berkembang menjadi tradisi memberi hadiah.
Ketika tradisi ini dibawa ke Amerika oleh bangsa Belanda, nama Sinterklas berubah menjadi Santa Claus.
Penggambaran asli Sinterklas di Belanda menunjukkan seorang uskup berjubah merah dengan topi mitra dan tongkat gembala.
Di Belanda, Sinterklas digambarkan mengendarai kuda putih dan membagikan hadiah bersama asistennya.
Versi modern Santa Claus dengan perut besar dan pakaian merah yang mencolok mulai dipopulerkan oleh Coca-Cola pada tahun 1930-an.
Tradisi Sinterklas masuk ke Indonesia melalui pengaruh kolonial Belanda yang membawa budaya mereka ke Nusantara.
Komunitas Belanda di Indonesia sering merayakan Sinterklas pada 5 dan 6 Desember dengan kegiatan memberi hadiah kepada anak-anak.
Setelah merdeka, tradisi ini diadopsi oleh komunitas Kristen lokal dan menjadi bagian dari perayaan Natal di gereja dan sekolah.
Di pusat perbelanjaan Indonesia, Sinterklas sering menjadi atraksi populer untuk menyemarakkan suasana Natal.
Di balik sosok Sinterklas, ada pesan penting tentang berbagi, kemurahan hati, dan kebahagiaan untuk semua. (ALE)
Editor : ALengkong