Jagosatu - Di tengah upaya besar Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara untuk mendorong percepatan pembangunan berbasis kolaborasi lintas sektor, nama Jusuf Kalengkongan mencuat sebagai salah satu figur penting yang kini menjadi perhatian publik.
Pada Mei 2025, Gubernur Sulawesi Utara Yulius Selvanus secara resmi membentuk Tim Gugus Tugas Bidang Kemitraan dan Digitalisasi, yang bertugas menjembatani sinergi antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat sipil untuk memperkuat fondasi pembangunan daerah.
Jusuf Kalengkongan dipercaya sebagai anggota tim inti di Bidang Kemitraan, bergabung bersama tokoh-tokoh berpengalaman lainnya seperti Lexy David Lintuuran (Wakil Ketua Bidang Kemitraan), Lexy Herman Weley, Andria Wahyudi, dan Andreuw Lengkong di bidang Digitalisasi.
Namun siapa sebenarnya Jusuf Kalengkongan? Dan mengapa peran serta pemikirannya kini dianggap vital dalam menentukan arah pembangunan Sulawesi Utara, terutama dalam bidang pariwisata dan konservasi?
Latar Belakang Internasional dan Kiprah Profesional
Jusuf Kalengkongan merupakan seorang behavioral scientist dan analis perubahan sosial yang telah lebih dari satu dekade berkecimpung dalam dunia kerja internasional, khususnya pada proyek-proyek pembangunan dan konservasi.
Salah satu tonggak penting dalam kariernya adalah keterlibatan langsung sebagai Regional Manager untuk Millennium Challenge Corporation (MCC)—sebuah badan bantuan pembangunan milik Pemerintah Amerika Serikat yang mendanai proyek-proyek strategis di negara-negara berkembang.
Melalui MCC, Jusuf mengelola berbagai inisiatif berbasis data di kawasan timur Indonesia, termasuk Sulawesi Utara.
Fokus utamanya adalah menghubungkan hasil riset ilmiah dengan kebijakan publik serta program intervensi sosial yang menyentuh masyarakat secara langsung.
Pendekatan ini menjadikan dirinya sosok yang langka: seorang praktisi lapangan dengan basis akademik yang kuat dan koneksi global yang strategis.
Peneliti Perdagangan Satwa Liar dan Isu Kesehatan Global
Jusuf juga dikenal luas melalui kontribusinya dalam riset yang mengkaji praktik perdagangan daging satwa liar—isu yang relevan tidak hanya bagi konservasi tetapi juga bagi pariwisata dan kesehatan masyarakat.
Ia tercatat sebagai salah satu peneliti dalam publikasi ilmiah berjudul “Characterizing and Quantifying the Wildlife Trade Network in Sulawesi, Indonesia” (2019), yang diterbitkan melalui kerja sama dengan sejumlah peneliti internasional.
Riset tersebut memetakan lebih dari 25 pasar tradisional dan supermarket di Sulawesi Utara yang memperdagangkan satwa seperti kelelawar, tikus hutan, dan babirusa.
Tak hanya menyoroti risiko ekologis, studi ini juga mengangkat aspek budaya dan ekonomi yang menjadi latar konsumsi daging liar di Minahasa.
Temuan-temuan dari penelitian ini digunakan sebagai pijakan untuk menyusun strategi konservasi sekaligus membuka wacana pengembangan ekowisata berbasis edukasi dan perubahan perilaku.
Pandangan tentang Pariwisata dan Pembangunan Sulawesi Utara
Bagi Jusuf Kalengkongan, pengembangan pariwisata di Sulawesi Utara tidak dapat dilepaskan dari dua hal: kualitas sumber daya manusia dan pelestarian lingkungan.
Dalam berbagai forum dan diskusi kebijakan, ia konsisten menekankan bahwa branding destinasi wisata tidak cukup hanya dengan promosi visual, tetapi harus menyentuh substansi: kebersihan, keamanan pangan, edukasi konservasi, serta keterlibatan komunitas lokal.
Ia juga mendorong agar pemerintah membuka ruang partisipasi aktif bagi peneliti, aktivis, dan pelaku UMKM dalam pembangunan pariwisata.
Baginya, kemitraan tidak hanya berarti kerja sama bisnis, tetapi kolaborasi lintas ilmu dan budaya. Di sinilah perannya di Gugus Tugas Kemitraan menjadi strategis—membuka pintu bagi transfer ilmu pengetahuan dan praktik internasional ke level kebijakan daerah.
Pijakan Strategis di Gugus Tugas Kemitraan 2025
Sebagai bagian dari tim khusus bentukan Gubernur Yulius Selvanus, Jusuf Kalengkongan diharapkan menjadi figur yang mampu menerjemahkan komitmen daerah terhadap pembangunan inklusif dan berkelanjutan.
Kolaborasinya dengan tokoh-tokoh di bidang digitalisasi seperti Lexy Herman Weley, Andria Wahyudi, dan Andreuw Lengkong, mencerminkan semangat transformasi menyeluruh yang memadukan teknologi, data, dan pendekatan sosial dalam membangun Sulawesi Utara yang lebih cerdas.
Penutup: Menyatukan Ilmu, Budaya, dan Visi Global
Nama Jusuf Kalengkongan mungkin belum sepopuler tokoh-tokoh politik atau pengusaha ternama di Sulawesi Utara.
Namun kontribusinya yang konsisten—dari laboratorium riset hingga ruang rapat kebijakan publik—membuatnya layak disebut sebagai salah satu arsitek sunyi pembangunan berbasis ilmu dan integritas.
Di tengah tantangan dunia yang semakin kompleks—dari isu zoonosis hingga krisis iklim—kehadiran sosok seperti Jusuf Kalengkongan membawa harapan bahwa pembangunan daerah bisa dilakukan secara holistik: menyatu antara akal, hati, dan tanggung jawab global. (Red)
Editor : ALengkong