2 Petrus 1: 16-18
DONGENG VS FIRMAN TUHAN DI ERA DIGITAL
"Sebab, kami tidak mengikuti dongeng-dongeng isapan jempol manusia, ketika kami memberitahukan kepadamu kuasa dan kedatangan Tuhan kita Yesus Kristus." (ay.16b)
Dongeng diartikan sebagai cerita yang jadul, peristiwanya telah terjadi lama dan jauh di belakang.
Namun, di era digital ini dongeng yang tadinya tidak lagi dianggap, sekarang mendapat tempatnya bahkan spesial.
Di tengah dunia yang serba cepat, tidak pasti, dan sering kali penuh tekanan, manusia mencari makna dan harapan.
Dongeng, baik klasik maupun modern, sering menyuguhkan dunia yang penuh keajaiban, keadilan ditegakkan, dan akhir bahagia, sesuatu yang terasa langka dalam kehidupan nyata.
Di era digital, narasi ini dipermudah aksesnya melalui media sosial, film, dan game, sehingga daya tariknya makin besar.
Petrus menggunakan kata "dongeng" (Yunani: muthos) untuk merujuk pada cerita rekaan yang mungkin terdengar menarik tapi tidak berdasar pada kebenaran.
Pada zaman Petrus, ajaran palsu dan cerita-cerita menyesatkan mulai menyebar. Sebagian meragukan bahwa Yesus benar-benar akan datang kembali (lihat 2 Petrus 3:3- 4).
Sebagian lagi menyebarkan ajaran yang mencampur kebenaran dengan kebohongan demi keuntungan pribadi (2 Petrus 2:1-3). Petrus ingin memastikan bahwa kabar tentang kuasa dan kedatangan Yesus.
Kristus bukanlah hasil imajinasi, tetapi berdasarkan kesaksian langsung. Petrus, bersama murid-murid lainnya, adalah saksi mata dari kemuliaan Kristus, terutama saat peristiwa transfigurasi di gunung (bdg. Matius 17:1-8).
Kekristenan bukan sekadar sistem kepercayaan yang dibangun di atas cerita-cerita bagus, tapi pada realitas tentang pribadi Yesus yang hidup, mati, dan bangkit.
Tanggung jawab kita adalah menyampaikan Injil dengan integritas, tanpa menambahkan atau mengurangi isinya, apalagi mencampurnya dengan "dongeng rohani" atau sensasi.
Kita semua dipanggil dalam tanggung jawab iman untuk meluruskan kesalahan, bukan memperindah cerita.
Injil bukan dongeng, dan tidak boleh dikompromikan dengan hal-hal yang menyesatkan. Amin.
Doa : Teguhkan hatiku pada kebenaran Firman-Mu. Pakailah aku untuk menyuarakan Firman Tuhan kepada siapapun. Amin.
Editor : Alfianne Lumantow