Arkeologi Daerah Ekonomi Ekonomi & Bisnis Esport Gaya Hidup Global Headline Hiburan Hukum & Kriminal Kesehatan Lifestyle & Hiburan Nasional Olahraga Pemerintahan Politik Sains & Teknologi Teknologi Wisata Wisata & Kuliner

Dokter, Hampir Seluruh Masyarakat Indonesia Berpotensi Terkena Diabetes

Deiby Rotinsulu • 2023-09-13 14:54:23
Tangkapan layar Dokter Spesialis Penyakit Dalam dr Andi Khomeini Takdir, dalam acara gelar wicara terkait diabetes, yang diikuti secara daring di Jakarta, Rabu (13/9/2023). ANTARA/Instagram-Kemenkes.
Tangkapan layar Dokter Spesialis Penyakit Dalam dr Andi Khomeini Takdir, dalam acara gelar wicara terkait diabetes, yang diikuti secara daring di Jakarta, Rabu (13/9/2023). ANTARA/Instagram-Kemenkes.

JAGOSATU.COM - Praktisi Kesehatan, Dokter Spesialis Penyakit Dalam dr. Andi Khomeini Takdir, menyatakan bahwa hampir seluruh masyarakat Indonesia berpotensi menderita penyakit diabetes melitus.

"Orang Indonesia hampir semuanya berpotensi (memiliki diabetes). Kita semua berpotensi, terutama di Indonesia makanan manis merajalela di mana-mana," katanya dalam acara gelar wicara terkait diabetes, yang diikuti secara daring di Jakarta, Rabu.

Dokter Koko menjelaskan bahwa Kementerian Kesehatan (Kemenkes) telah merekomendasikan batasan konsumsi gula harian tidak lebih dari 50 gram/hari.

Namun, masih ada sejumlah kalangan masyarakat yang mengonsumsi gula melebihi batas yang dianjurkan oleh Kemenkes.

"Dari situ lah, mengapa banyak masyarakat Indonesia yang berpotensi memiliki penyakit diabetes," ujarnya.

Hal ini diperparah oleh kurangnya kebiasaan berolahraga yang tidak dilakukan oleh semua orang, serta perkembangan teknologi yang menyebabkan beberapa kalangan menjadi malas bergerak. Selain itu, faktor keturunan dari keluarga dengan riwayat penyakit diabetes juga ikut mempengaruhi peningkatan potensi penyakit diabetes di Indonesia.

Dokter Koko juga menyoroti kebiasaan makan yang kurang sehat sebagai salah satu faktor peningkatan potensi penyakit diabetes di Indonesia.

"Di Indonesia, sebagian orang merasa belum makan jika bukan nasi, akhirnya makan nasi, mi, dan kerupuk. Jadi serba karbohidrat dan gula. Mulai dari gula kompleks pada nasi dan mi, dan diperparah dengan minuman teh manis," ucapnya.

Sebelumnya, Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) RI Dante Saksono Harbuwono mengajak masyarakat untuk menjadi smart eater dengan memilih secara cerdas jenis makanan yang akan dikonsumsi guna mencegah dampak buruk obesitas.

"Yang diperlukan adalah mendidik masyarakat menjadi smart eater atau cerdas dalam makan. Jadi sebelum dia makan, sebelum membeli makanan, dia harus membaca berapa kalorinya, sehingga dapat memperhitungkan dampaknya," kata Wamenkes.

Dia juga menekankan pentingnya mengukur indeks massa tubuh pada anak-anak dan lingkar perut pada dewasa untuk memahami status gizi dan menghindari obesitas.(antara)

 

Editor : Deiby Rotinsulu
#diabetes #smart earter #kesehatan tubuh #obesitas