JAGOSATU.COM -Pernah dengar istilah fried rice syndrome alias sindrom nasi goreng? Sindrom ini kembali viral di TikTok karena konon dapat menyebabkan kematian.
Apa sebetulnya sindrom nasi goreng? Apakah terjadi karena mengonsumsi nasi goreng?
Sindrom nasi goreng sejatinya merupakan salah satu jenis keracunan makanan. Pemicunya adalah makanan yang terpapar bakteri Bacillus cereus, sebagaimana disebutkan dalam studi Microbial Pathogenesis.
B. cereus sendiri merupakan organisme mikroskopis alias bakteri berukuran sangat kecil yang dapat memunculkan spora.
Bakteri ini umum dijumpai di lingkungan dan dapat memengaruhi sistem pencernaan maupun bagian lain dari tubuh.
Baca Juga: Jerry Sambuaga Dampingi Gibran Blusukan ke Pasar Natar Lampung, Cek Harga juga Belanja
Jika menyerang usus, B. cereus dapat menyebabkan keracunan. Sejatinya, kondisi ini dapat hilang dengan sendirinya. Namun, gejala lebih serius dapat terjadi jika seseorang memiliki sistem kekebalan tubuh lemah, melansir Cleveland Clinic.
Efek dari bakteri Bacillus cereus pun terbagi menjadi dua yakni enterotoksin dan sindrom emetik. Enterotoksin berarti bakteri tersebut menghasilkan racun di usus kecil yang dapat menunjukkan gejala 6-15 jam setelah mengonsumsi makanan terkontaminasi. Adapun dampak yang dirasakan adalah diare.
Sementara itu, pada bentuk sindrom emetik, racun terbentuk dalam makanan sebelum seseorang memakannya. Ketika dikonsumsi, makanan ini akan menimbulkan gejala keracunan sekira 6 jam kemudian, melansir sumber yang sama. Efek yang dirasakan yaitu muntah-muntah.
Bagaimana bakteri berkembang?
Seperti disebutkan sebelumnya, bakteri Bacillus cereus sebenarnya terdapat di lingkungan sekitar kita. Namun, Bacillus cereus yang menyerang usus dan berbentuk sindrom emetik paling sering dikaitkan dengan beras.
Beras yang belum dimasak dapat mengandung spora Bacillus cereus. Spora tersebut dapat bertahan hidup bahkan ketika dimasak. Setelah dimasak dan dibiarkan dalam suhu ruangan, spora akhirnya menjadi bakteri, lalu berkembang biak, hingga mungkin menghasilkan racun yang memicu reaksi keracunan, melansir NHS.
Di sisi lain, Cleveland Clinic menyebutkan bahwa reaksi tersebut juga berpotensi terjadi ketika nasi terlalu lama disimpan di lemari es. Makin lama nasi dibiarkan, makin besar pula kemungkinan bakteri dan racun berkembang. Oleh karena itu, nasi makin tidak aman dikonsumsi. Ketika dipaksakan dimakan, maka dapat menyebabkan kondisi yang dinamakan apa itu sindrom nasi goreng.
Apakah sindrom ini terjadi hanya karena nasi goreng?
Meski namanya 'sindrom nasi goreng', kondisi ini sebenarnya tidak hanya terjadi karena mengonsumsi nasi goreng saja. Bakteri Bacillus cereus yang memicu kondisi tersebut juga dapat berkembang di makanan lain, terutama keju dan makanan bertepung. Termasuk di antaranya spageti dan kue, melansir Cleveland Clinic.
Walau bernama sindrom nasi goreng, tapi bukan berarti akhirnya kamu tidak boleh mengonsumsi nasi goreng. Nasi, mau dalam bentuk digoreng atau nasi masak biasa, tetap aman dari dampak bakteri jahat selama kamu memperhatikan penyajian dan pengolahannya.
Idealnya, nasi dikonsumsi segera setelah matang. Kalau kamu ingin mendinginkannya, sebaiknya cukup 1 jam. Jika kamu hendak menyimpannya di lemari es, ada baiknya tidak lebih dari sehari sebelum dipanaskan kembali. Selain itu, tidak dianjurkan memanaskan nasi lebih dari sekali, ya.
Sindrom nasi goreng memang patut diwaspadai. Namun, bisa terhindar dari risiko negatifnya selama menyajikan makanan dengan benar.
Viral 'sindrom nasi goreng' yang menewaskan mahasiswa berusia 25 tahun, sebenarnya terjadi di 2008 silam. Tetapi kembali ramai dibahas di TikTok. S
Bakteri muncul saat makanan yang dimasak dibiarkan terlalu lama pada suhu ruangan. Pria tersebut sengaja meninggalkan makanan di kulkas, lalu dimasak kembali dan dibiarkan lima hari kemudian di suhu ruang, sampai akhirnya disantap.
Meski kematian akibat bakteri ini jarang terjadi, Bacillus cereus dapat menimbulkan efek serius termasuk sederet penyakit pencernaan jika makanan tidak disimpan dengan benar.(mpd)
Editor : Nur Fadilah