Arkeologi Bali Daerah Ekonomi Ekonomi & Bisnis Esport Gaya Hidup Global Headline Hiburan Hukum & Kriminal Jawa Kalimantan Kesehatan Lifestyle & Hiburan Maluku Nasional Nusa Tenggara Timur Olahraga Papua Pemerintahan Pertanian Politik Sains & Teknologi Teknologi Wisata Wisata & Kuliner

Ahli Peringatkan Obesitas Sebagai Pemicu Utama Risiko Kanker Saluran Cerna

ALengkong • Rabu, 15 Juli 2026 | 11:10 WIB
Ilustrasi individu dengan kondisi obesitas.
Ilustrasi individu dengan kondisi obesitas.

JagoSatu.com - Penumpukan lemak berlebih dalam tubuh tidak hanya memengaruhi penampilan atau meningkatkan risiko penyakit jantung dan diabetes, tetapi juga dapat memicu berbagai jenis kanker. Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Hematologi Onkologi Medik, dr. Santi Christiani Gultom, SpPD-KHOM, menjelaskan bahwa obesitas merupakan penyakit kronis yang dipengaruhi oleh interaksi kompleks berbagai faktor. Penjelasan tersebut disampaikan dalam acara Siloam Oncology Summit ke-6 di Jakarta.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), obesitas dipicu oleh kombinasi faktor genetik, neurobiologi, pola makan, serta lingkungan dan gaya hidup modern. Data medis menunjukkan terdapat 13 jenis kanker yang berkaitan erat dengan obesitas. Lebih dari 90 persen pasien kanker berusia di atas 50 tahun tercatat mengalami obesitas. Indeks massa tubuh (BMI) yang tinggi juga terbukti meningkatkan risiko kematian akibat kanker kolon, hati, dan leukemia pada pria, serta kanker kolon, payudara, dan rahim pada wanita.

Risiko kanker saluran cerna, seperti kanker usus besar dan kanker hati, menjadi perhatian serius karena tren kasusnya terus meningkat. Kelebihan berat badan atau obesitas diketahui dapat meningkatkan risiko kanker usus hingga hampir 60 persen. Jaringan lemak dalam tubuh tidak hanya berfungsi sebagai tempat penyimpanan energi, tetapi juga aktif menghasilkan zat yang memengaruhi proses biologis dan pertumbuhan sel kanker.

Salah satu mekanisme utama yang memicu kondisi tersebut adalah peradangan kronis jangka panjang pada penderita obesitas. Jaringan lemak menghasilkan zat proinflamasi seperti sitokin dan TNF-α yang dapat merusak DNA serta memicu terbentuknya sel abnormal. Selain itu, obesitas sering menyebabkan resistensi insulin, yaitu kondisi ketika tubuh tidak merespons hormon insulin secara optimal sehingga kadar insulin dalam darah meningkat.

Kondisi hiperinsulinemia ini dapat merangsang pertumbuhan sel kanker melalui peningkatan hormon Insulin-like Growth Factor-1 (IGF-1). Kelebihan lemak tubuh juga memicu ketidakseimbangan hormon, termasuk peningkatan produksi estrogen yang berkaitan dengan risiko kanker payudara dan kanker endometrium. Di sisi lain, jaringan lemak menghasilkan adipokin; peningkatan kadar leptin dapat mendorong pertumbuhan tumor, sementara kadar adiponektin yang bersifat protektif justru menurun.

Selain gangguan hormonal, obesitas juga meningkatkan stres oksidatif akibat produksi radikal bebas berlebih yang dapat merusak sel sehat dan memicu mutasi DNA. Kelebihan lemak tubuh turut melemahkan sistem imun, sehingga kemampuan tubuh dalam mengenali dan menghancurkan sel kanker menjadi berkurang. Sejumlah penelitian juga menunjukkan adanya perubahan komposisi mikrobiota usus pada individu obesitas yang memengaruhi metabolisme dan peradangan.

Ahli gizi klinik, dr. Samuel Oetoro, MS, Sp.GK(K), menekankan bahwa pencegahan obesitas melalui pola makan sehat dan gaya hidup seimbang merupakan langkah penting untuk menurunkan risiko kanker. Penurunan berat badan sebesar 10 persen dari total berat tubuh diyakini dapat membantu mengurangi risiko kanker yang berkaitan dengan obesitas. Semakin besar penurunan berat badan yang dicapai, semakin rendah pula risiko kesehatan yang dihadapi.

Strategi penurunan berat badan dapat dilakukan dengan membatasi asupan kalori, meningkatkan konsumsi makanan bergizi, mengurangi lemak tubuh, serta rutin meningkatkan massa otot. Penanganan medis juga dapat ditempuh melalui pendekatan farmakologis, seperti penggunaan agonis reseptor GLP-1 (semaglutide), maupun tindakan bedah bariatrik untuk kasus obesitas berat. Upaya ini perlu didukung dengan tidur yang cukup serta pembatasan konsumsi makanan ultra-proses.

Kesadaran akan hubungan antara obesitas dan kanker diharapkan dapat mendorong masyarakat untuk lebih proaktif menjaga berat badan ideal. Perubahan gaya hidup yang konsisten menjadi kunci utama dalam mencegah berbagai penyakit kronis. Tenaga medis terus mengimbau agar masyarakat tidak meremehkan dampak obesitas terhadap kesehatan jangka panjang.

Editor : ALengkong
Sumber : https://health.kompas.com/read/26E26073559268/waspada-obesitas-tingkatkan-risiko-kanker-saluran-cerna
Kesehatan kanker gaya hidup obesitas