JagoSatu.com – Perdebatan mengenai apakah rokok atau rokok elektronik (vape) lebih berbahaya masih sering muncul di masyarakat. Sebagian orang menganggap vape merupakan alternatif yang lebih aman dibandingkan rokok konvensional karena tidak menghasilkan asap hasil pembakaran tembakau.
Namun, berdasarkan informasi kesehatan yang dipublikasikan Alodokter dan telah ditinjau oleh dokter, baik rokok maupun vape sama-sama memiliki risiko terhadap kesehatan sehingga tidak dapat dianggap sebagai pilihan yang aman.
Rokok konvensional diketahui mengandung lebih dari 7.000 zat kimia, termasuk nikotin, tar, karbon monoksida, formaldehida, benzena, serta berbagai logam berat. Kombinasi zat-zat tersebut telah terbukti meningkatkan risiko kanker, penyakit jantung, stroke, hingga gangguan pernapasan kronis.
Sementara itu, vape menggunakan cairan atau liquid yang umumnya mengandung nikotin, propilen glikol, gliserin, dan berbagai bahan perasa. Saat dipanaskan, cairan tersebut dapat menghasilkan senyawa seperti formaldehida, asetaldehida, serta partikel logam berat, termasuk nikel dan kromium.
Meski tidak menghasilkan tar seperti rokok konvensional, Alodokter menjelaskan bahwa vape tetap berpotensi menimbulkan gangguan pada paru-paru dan pembuluh darah. Sejumlah penelitian juga masih terus dilakukan untuk mengetahui dampak penggunaan vape dalam jangka panjang.
Selain kandungan kimianya, asap rokok maupun uap vape sama-sama dapat memengaruhi orang di sekitar penggunanya. Paparan asap rokok telah lama diketahui meningkatkan risiko penyakit pada perokok pasif, sedangkan uap vape juga mengandung nikotin dan partikel kimia yang dapat mengiritasi saluran pernapasan, terutama pada anak-anak, ibu hamil, serta penderita asma.
Baik rokok maupun vape juga mengandung nikotin yang bersifat adiktif. Nikotin bekerja dengan merangsang pelepasan dopamin di otak sehingga dapat menyebabkan ketergantungan. Pada remaja, paparan nikotin bahkan berpotensi mengganggu perkembangan otak yang masih berlangsung hingga usia sekitar 25 tahun.
Menurut Alodokter, rokok konvensional telah terbukti menjadi penyebab berbagai penyakit kronis seperti kanker paru, penyakit jantung koroner, stroke, serta penyakit paru obstruktif kronik (PPOK). Sementara itu, penggunaan vape telah dikaitkan dengan risiko cedera paru yang dikenal sebagai e-cigarette or vaping-associated lung injury (EVALI), gangguan sistem kardiovaskular, serta potensi kerusakan paru yang masih terus diteliti.
Karena itu, anggapan bahwa vape sepenuhnya lebih aman dibandingkan rokok dinilai tidak tepat. Meski mekanisme dan kandungannya berbeda, keduanya tetap membawa risiko kesehatan yang perlu diperhatikan.
Alodokter menyarankan langkah terbaik untuk menjaga kesehatan adalah menghentikan penggunaan rokok maupun vape. Bagi pengguna yang mengalami kesulitan berhenti, konsultasi dengan tenaga medis dapat membantu menentukan metode yang sesuai, termasuk terapi pengganti nikotin dan pendampingan perilaku agar proses berhenti menjadi lebih efektif.
Editor : ALengkong