Studio Ghibli Fest, pemutaran ulang film-film Ghibli di bioskop yang telah berlangsung lama, terus mengalami pertumbuhan signifikan memasuki tahun kesepuluh penyelenggaraannya, dengan generasi baru penggemar berbondong-bondong menonton film klasik seperti "My Neighbor Totoro" dan "Ponyo" di layar lebar. Fenomena ini menjadi hal yang jarang ditemui dalam industri perfilman, di mana konsistensi penayangan film lama di bioskop bertahun-tahun bahkan berdekade-dekade setelah rilis awalnya tetap menarik minat penonton.
Digelar secara sporadis mulai Juni hingga Oktober setiap tahunnya, Ghibli Fest telah berjalan selama satu dekade penuh. Film-film seperti "My Neighbor Totoro", "Spirited Away", dan "Ponyo" kini bukan lagi sekadar pemutaran ulang sesekali, melainkan telah menjadi tayangan bioskop tetap yang dinantikan penonton secara berkala.
Angka Penjualan Tiket yang Terus Meningkat
Ketika GKids, distributor Ghibli untuk kawasan Amerika Utara, bersama Fathom Entertainment meluncurkan Ghibli Fest pada 2017, lima judul film yang ditayangkan saat itu menghasilkan 5 juta dolar AS dari penjualan tiket. Namun tiga tahun terakhir justru menjadi periode dengan pendapatan box office terbesar sepanjang sejarah festival tersebut, tepat setelah film-film Ghibli mulai mudah diakses lewat layanan streaming HBO Max pada 2020.
Presiden GKids, Dave Jesteadt, mengaku tidak menyangka program tersebut akan bertahan selama ini. "It does defy conventional wisdom. We keep waiting for the year that people tire of going to the films, but that's not what's happening. Every single year, we see records being set. The grosses are going up, not down," kata Jesteadt.
Rekor Tahun 2024 dan Perluasan Jangkauan Bioskop
Tahun terbaik bagi Ghibli Fest tercatat pada 2024, ketika 14 film yang ditayangkan menghasilkan 16,4 juta dolar AS dari penjualan tiket. Tahun lalu, delapan film yang diputar meraup 10,6 juta dolar AS, sementara tahun ini "Ponyo" dan "My Neighbor Totoro" bahkan telah mendapatkan masa tayang lima hari berkat tingginya permintaan penonton.
Wakil Presiden Pemasaran Fathom, Shannah Miller, menyaksikan langsung bagaimana permintaan terhadap festival ini terus berkembang. "When we started, I think our theatrical footprint was about 640 locations. This year, we're crossing over 1,100 locations. We started with two, maybe three playdates for a particular title, but due to fan demand, we have five-day runs for some titles," ujar Miller.
Dari Retrospektif Arthouse Menuju Bioskop Multipleks
Ketika GKids pertama kali memperoleh hak distribusi katalog Ghibli pada 2011, studio asal Jepang tersebut menekankan betapa pentingnya penayangan di bioskop bagi mereka. GKids awalnya menyelenggarakan acara retrospektif, sebagian besar di pasar utama dan bioskop arthouse, sebelum akhirnya Ghibli Fest memindahkan film-film tersebut ke bioskop multipleks yang lebih luas jangkauannya.
Jesteadt menjelaskan bahwa salah satu hal terburuk yang bisa terjadi pada film klasik adalah ketika film tersebut hanya dianggap sebagai karya klasik yang tersimpan dalam kotak kaca tanpa perlakuan setara dengan film Hollywood baru. "We wanted to move to a nationwide celebration that really treated these as equivalent to any new Hollywood film," jelasnya, menegaskan filosofi di balik perluasan jangkauan festival tersebut ke lebih banyak lokasi bioskop.
Streaming Justru Perkenalkan Penonton Baru ke Bioskop
Meski jumlah penonton bioskop di Amerika Utara meningkat lebih dari 10 persen tahun ini, bioskop-bioskop telah belajar selama dekade terakhir bahwa mereka tidak selalu bisa mengandalkan aliran rilisan baru Hollywood secara konsisten. Film-film lama semakin banyak mengisi celah jadwal tersebut, dengan Ghibli Fest yang bahkan mendahului tren pemutaran film repertoar yang berkembang belakangan ini.
Jesteadt sempat mengira bahwa peluncuran katalog Ghibli ke platform streaming pada 2020 akan menjadi momen penurunan minat penonton bioskop terhadap festival tersebut. "But if anything, that just brought in a new audience that wanted to see these films in theaters for the first time," ujarnya, mengungkapkan bahwa streaming justru mendatangkan penonton baru yang ingin menyaksikan film-film tersebut di bioskop untuk pertama kalinya.
Jadwal Penayangan Ghibli Fest Tahun Ini
Festival tahun ini masih akan berlanjut dengan penayangan "Tales of Earthsea" pada 8 dan 10 Agustus, "Only Yesterday" pada 9 dan 11 Agustus, perayaan 40 tahun rilisan pertama Ghibli yaitu "Castle in the Sky" tahun 1986 yang tayang 22 hingga 26 Agustus, versi remaster 4K "Princess Mononoke" pada 26 hingga 30 September, dan perayaan 25 tahun "Spirited Away" pada 17 hingga 21 Oktober.
Meski sebagian film tersebut juga diputar ulang di negara lain, Ghibli Fest sejauh ini masih menjadi fenomena yang khusus berlangsung di Amerika Serikat. Miller menyampaikan kebanggaannya atas apa yang telah dibangun festival tersebut di tengah kekhawatiran umum mengenai masa depan industri bioskop. "We are equally in awe of and proud of what we're building and the opportunity to celebrate instead of all the doom and gloom, 'Is theater dead?' conversations. We have a different story to tell with Studio Ghibli," katanya.
Pengalaman Emosional yang Menyatukan Penggemar Lintas Generasi
Bagi banyak keluarga, Ghibli Fest telah menjadi tradisi tahunan tersendiri. Amanda Mendoza VanCleave, penggemar berusia 34 tahun asal Austin, Texas, rutin menonton setiap penayangan ulang Ghibli bersama putrinya yang berusia tiga tahun dan sang ibu. "It's been our thing. Us three girls together," kata VanCleave, menggambarkan bagaimana tradisi tersebut mempererat hubungan tiga generasi dalam keluarganya.
Bagi penggemar dewasa seperti Angela Lector yang berusia 27 tahun, pengalaman menonton di bioskop menawarkan sesuatu yang tidak bisa didapatkan lewat layanan streaming. "Being in the theater is so much more fun than being on HBO Max. Being in your home, you can make your own popcorn and cuddle up with your dog. But being in the theater you can actually talk to people you don't know about the movie," ujar Lector, yang pernah menghadiri penayangan "Howl's Moving Castle" dengan kostum karakter Sophie.
Lector menyampaikan harapannya agar festival ini suatu saat menampilkan lebih banyak judul langka dari katalog Ghibli, termasuk film pra-Ghibli tahun 1984 "Nausicaä of the Valley of the Wind". "The Ghibli films are timeless. There's something for everyone in them. Everything feels human. No one is too powerful or too small," tutupnya, mencerminkan daya tarik universal yang terus membuat karya-karya Studio Ghibli relevan lintas generasi penonton hingga saat ini.
Editor : ALengkong