Arkeologi Daerah Ekonomi Ekonomi & Bisnis Esport Gaya Hidup Global Headline Hiburan Hukum & Kriminal Kesehatan Lifestyle & Hiburan Nasional Olahraga Pemerintahan Politik Sains & Teknologi Teknologi Wisata Wisata & Kuliner

Fenomena Orang Kaya Tidak Mau Kelihatan Kaya, si Miskin Malah Sebaliknya

Jasinta Bolang • 2025-07-11 23:56:37

ilustrasi orang miskin memberi makan kepada pria kaya
ilustrasi orang miskin memberi makan kepada pria kaya

JAGOSATU.COM -
Dalam kehidupan sosial sehari-hari, ada satu fenomena yang kerap terlihat tapi jarang disadari secara sadar: semakin kaya seseorang, semakin mereka memilih untuk tampil sederhana. Sebaliknya, banyak dari mereka yang berasal dari kelas ekonomi menengah ke bawah justru berupaya keras tampil “seperti orang kaya”. Fenomena ini dikenal dengan istilah Status-Signaling Behavior, dan banyak dibahas dalam studi psikologi sosial serta ekonomi perilaku.

Menurut unggahan akun edukatif @pandemictalks, realitas sosial kita membentuk cara pandang bahwa penampilan sering menjadi tolak ukur nilai seseorang. Terlihat miskin bisa berarti tidak dianggap, dicurigai, bahkan diabaikan dalam interaksi sosial. Karena itu, banyak orang akhirnya merasa perlu "menunjukkan" bahwa mereka pantas dihargai dengan cara tampil gaya, mengenakan barang branded, hingga memamerkan apa yang dimiliki—meski kadang diperoleh dengan mengorbankan kebutuhan pokok lain.

Namun, di sisi lain, mereka yang memang berasal dari kelas atas justru lebih bebas dan santai dalam berpenampilan. Mereka bisa memakai kaos polos harga seratus ribuan, tanpa merasa minder, karena status sosial mereka sudah “divalidasi” oleh lingkungan. Tak perlu pembuktian. Hal ini disebut sebagai low-key luxury atau gaya hidup kalem meski bergelimang harta.

Bukan Sekadar Flexing

Menariknya, tidak semua yang terlihat pamer berarti sombong. Dalam banyak kasus, penampilan mencolok bukan soal gaya hidup mewah, tapi strategi bertahan hidup dalam sistem sosial yang cepat menghakimi dari kepala hingga kaki. Dunia yang terlalu cepat menilai seseorang dari sepatu, tas, atau dompet membuat banyak orang merasa harus “memperlihatkan” nilai agar tidak diremehkan.

Sementara itu, ketimpangan ekonomi yang kian melebar juga ikut memperkuat jurang status ini. Semakin banyak orang dari kalangan bawah yang berusaha menyamai gaya hidup kelas atas, bukan hanya karena keinginan untuk pamer, tapi karena merasa perlu melindungi martabatnya di mata orang lain.

Fenomena ini bukan hanya terjadi di Indonesia. Studi dari Journal of Consumer Research (2011) juga mengungkap bahwa orang kaya cenderung tidak ingin menunjukkan kekayaannya secara mencolok. Mereka lebih memilih simbol-simbol yang hanya dikenali sesama kelasnya—sebuah bentuk eksklusivitas sosial yang justru lebih subtil.

Simbol Status dan Tekanan Sosial

Di balik fenomena ini, ada tekanan sosial yang kuat. Kita hidup dalam sistem yang cepat menilai, dan ini menciptakan ketegangan antara “ingin terlihat layak” dan “ingin jadi diri sendiri”. Maka, memahami bahwa penampilan bukan satu-satunya tolok ukur nilai seseorang bisa membantu menciptakan ruang sosial yang lebih sehat, adil, dan manusiawi. (jib)

Editor : Jasinta Bolang
#miskin #gaya hidup #status sosial #kaya