Jagosatu.com - Perkembangan teknologi makin mempermudah kehidupan sehari-hari, termasuk di dunia pendidikan.
Di Manado, banyak siswa kesulitan mencari guru les dengan harga terjangkau.
Sebaliknya, guru les juga sering kesulitan mempromosikan diri dan mendapat murid baru.
Sebuah penelitian dari Universitas Klabat merancang aplikasi bernama PriLearn.
Aplikasi ini menggunakan metode Design Thinking agar sesuai kebutuhan guru les dan siswa.
Metode Design Thinking terdiri dari lima tahap yaitu Empathize, Define, Ideate, Prototype, dan Test.
Tahap Empathize dilakukan dengan mewawancarai siswa dan guru untuk mengetahui masalah utama.
Hasil wawancara menunjukkan siswa sulit menemukan guru dekat rumah.
Selain itu, guru les sulit membangun kepercayaan karena tidak ada platform yang jelas.
Tahap Define kemudian merangkum masalah seperti jadwal yang ribet, minim promosi, hingga keterbatasan jarak.
Setelah itu, tahap Ideate melahirkan ide-ide solusi yang bisa membantu semua pihak.
Beberapa solusi adalah fitur jadwal fleksibel, promosi otomatis, hingga rekomendasi kursus sesuai minat.
Tahap Prototype membuat desain aplikasi menggunakan Figma agar bisa diuji pengguna.
Hasil uji coba menunjukkan fitur notifikasi guru piano sangat mudah dipakai dengan nilai usability 100.
Namun, fitur jadwal masih memiliki tingkat kesalahan klik cukup tinggi, yaitu 25%.
Begitu juga fitur notifikasi untuk guru masih perlu diperbaiki karena tingkat miss-click mencapai 50%.
Secara keseluruhan, aplikasi PriLearn mendapatkan nilai usability rata-rata 87,5.
Artinya, aplikasi ini sudah cukup bagus namun masih perlu disempurnakan.
PriLearn bisa menjadi solusi nyata bagi siswa dan guru les di daerah seperti Manado.
Penelitian ini juga bisa menjadi contoh bagi kota lain yang menghadapi masalah serupa.
Dengan adanya aplikasi seperti ini, akses pendidikan tambahan akan lebih mudah dan merata.
Inovasi seperti PriLearn menunjukkan teknologi bisa menjembatani kesenjangan pendidikan di daerah.
(DB)
Editor : Toar Rotulung