JAKARTA – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menegaskan tidak akan menoleransi kecurangan sekecil apa pun dalam pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) tahun ini. Sanksi tidak lagi hanya berupa teguran, tetapi juga ancaman diskualifikasi.
Penegasan tersebut disampaikan langsung oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu'ti, saat ditemui usai acara halal bihalal di Kemendikdasmen. "Kalau ada murid yang curang atau sekolah yang curang, maka langsung kita nolkan nilainya," tegasnya. Mu'ti beralasan, sanksi tegas ini diberikan karena pihaknya ingin membangun karakter utama anak-anak Indonesia dengan fondasi kejujuran. Dengan demikian, nilai ini dapat tertanam dan diimplementasikan hingga mereka dewasa.
Menurutnya, pengalaman pelaksanaan TKA di jenjang SMA menjadi modal utama dalam pelaksanaan dan pengawasan TKA di jenjang SD dan SMP nanti. Ia memastikan, secara sistem, semuanya sudah lebih siap dan lebih tegas dalam menangani isu kecurangan.
Baca Juga: Lolos SNBP, Peserta Tak Bisa Daftar SNBT hingga 2028
Selain itu, ia mengatakan pihaknya telah menyiapkan prosedur tetap mengenai tata laksana penyelenggaraan TKA. Setiap sekolah penyelenggara juga memiliki SOP yang berpedoman pada aturan yang dibuat oleh pusat.
Meski lebih tegas terhadap isu kecurangan, menurutnya, TKA juga dibangun dengan berasaskan kegembiraan. Pendekatan ini diharapkan mampu mengurangi tekanan psikologis siswa saat ujian yang berisiko menyebabkan mental block. "Tidak usah khawatir, tidak usah takut. Siapkan saja sebaik-baiknya," katanya.
"Semua tes TKA berbasis komputer. Sekolah-sekolah yang belum memiliki komputer akan diatur sedemikian rupa agar bisa meminjam fasilitas dari sekolah lain yang tidak menyelenggarakan TKA."
Abdul Mu'ti Mendikdasmen
Ia pun mengimbau agar orang tua maupun siswa tidak perlu khawatir soal nilai. Sebab, TKA bukan penentu kelulusan. "Itu juga hanya menilai dua mata pelajaran saja, yaitu Bahasa Indonesia dan Matematika. Yang lainnya penilaiannya ada di masing-masing satuan pendidikan," paparnya.
Lebih lanjut, Sekretaris Umum PP Muhammadiyah itu menyebutkan bahwa persiapan TKA jenjang SD dan SMP secara keseluruhan sudah sangat siap. Hal ini karena telah dilakukan uji coba berulang kali, baik secara teknis terkait penggunaan internet maupun yang berkaitan dengan ketersediaan sarana komputer.
Kepala Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (BSKAP) Kemendikdasmen, Toni Toharudin, menyatakan kesiapan pelaksanaan TKA yang sudah mencapai tahap akhir. Ia menegaskan bahwa prinsip kejujuran menjadi fondasi utama dalam asesmen tersebut. "Memang harus didasarkan pada kejujuran dan kegembiraan. Ini adalah asesmen yang standar, jadi budaya jujur itulah yang kita bangun," ungkapnya.
Tingginya partisipasi peserta juga menjadi sorotan. Toni menyebut sekitar 98 persen siswa SD dan SMP akan mengikuti TKA pada April mendatang. Ia menilai, tingginya angka tersebut mencerminkan kesadaran sekolah dan siswa terhadap pentingnya evaluasi kualitas pembelajaran.
Hal ini juga diakuinya didorong oleh keinginan siswa untuk masuk ke jenjang selanjutnya melalui jalur prestasi. "Itu juga sebuah pendorong, tetapi kita jangan terlalu menonjolkan hal tersebut. Yang penting, budaya belajar murid meningkat, itu yang kita harapkan," ujarnya.
Disinggung soal gangguan teknis yang sempat terjadi saat uji coba, Toni memastikan bahwa pihaknya telah melakukan perbaikan agar pelaksanaan TKA berjalan lancar. Selain itu, Kemendikdasmen juga menyiapkan posko aduan di sejumlah titik untuk mengantisipasi kendala di lapangan. (mia/ali)
Editor : Pratama Karamoy