KABUPATEN KEDIRI - Seorang penceramah berinisial HJ, 63, asal Kecamatan Ngadiluwih, Kabupaten Kediri, Jawa Timur (Jatim), diringkus Satreskrim Polres Kediri pada Sabtu (16/5) malam. Dia diduga bertindak cabul kepada 10 anak yang mengaji di sekitar rumahnya.
Terduga pelaku diamankan petugas di rumahnya. Kedatangan polisi sempat memancing keramaian warga. Saat digelandang menuju mobil petugas, HJ diteriaki warga yang geram.
Kasatreskrim Polres Kediri AKP Joshua Peter Krisnawan mengatakan, saat ini terduga pelaku masih menjalani pemeriksaan intensif. Namun, dia belum menjelaskan detail perkara tersebut. "Update-nya nanti kami sampaikan," ucapnya.
Gali Keterangan
Pengurus RT setempat Murjito menjelaskan, dugaan aksi asusila HJ terungkap pada Minggu lalu (10/5) setelah dirinya mendapat laporan dari salah satu warga. Berdasarkan laporan tersebut, terduga pelaku diduga menunjukkan alat kelaminnya kepada anak-anak yang mengaji di masjid. "Pertama empat anak (yang jadi korban). Terus tambah lagi, akhirnya sampai 10 korban," ucapnya.
Pemerintah desa (pemdes) kemudian memanggil HJ untuk dimintai keterangan. Namun, pensiunan guru tersebut beberapa kali mangkir. Bahkan, saat dijemput perangkat desa, dia disebut tidak berada di rumah. "Orang tua korban akhirnya melaporkan ke polisi," ucap Murjito.
Baca Juga: Iran Latih Warga Cara Gunakan Senapan AK-47
Perangkat desa setempat, Desi menyebut, dugaan perbuatan cabul itu terungkap setelah dua anak saling bercerita dan didengar orang tua korban. Berdasar keterangan korban, tindakan itu sudah dilakukan beberapa kali selama setahun terakhir. "Saat Idulfitri lalu juga ada yang anak menjadi korban. Lokasinya di belakang rumah," paparnya.
Terpisah, Kepala Seksi Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kementerian Agama (PD Pontren Kemenag) Kabupaten Kediri Muhammad Saiful Rizal mengaku telah menerima laporan dari masyarakat dan melakukan pendalaman. Menurut dia, HJ bukan pengajar tetap di TPQ, melainkan hanya pengisi ceramah atau kultum. "Tidak masuk data list guru TPQ secara kelembagaan," terangnya. (sad/ut/aph)
Editor : Pratama Karamoy