JAGOSATU.COM - Purbaya itu orang yang susah diajak basa-basi. Saya kenal dia sudah cukup lama. Kalau dia bilang sebuah angka tidak masuk akal, biasanya memang tidak masuk akal. Dia bukan tipe yang bicara untuk menyenangkan orang. Maka waktu dia mulai ribut soal Badan Gizi Nasional, saya tidak menganggapnya angin lalu. Banyak orang waktu itu mengira dia cuma sedang berhitung soal penghematan. Pelit, kata sebagian. Mau cari panggung, kata yang lain. Saya membacanya berbeda. Saya kenal cara dia berpikir. Orang seperti Purbaya tidak akan repot-repot mempersoalkan sesuatu kalau hidungnya tidak lebih dulu mencium bau yang aneh. Dan bau itu, kini, sudah tercium oleh semua orang.
Tepat di tanggal 3 Juni 2026, kita semua dikejutkan dengan penahanan terhadap sebuah nama besar yang selama ini terus menjadi sorotan dan terkesan sulit tersentuh. Dadan Hindayana namanya. Dua anak buahnya yang paling dekat ikut di belakangnya, pakai rompi yang sama. Orang-orang heran lihat betapa cepatnya. Selasa malam dicopot Presiden. Keesokan paginya kantornya sudah digeledah. Belum sempat matahari terbenam, Dadan sudah pakai rompi tahanan. Cepat sekali. Tapi saya tidak ikut heran. Yang kelihatan di depan kita memang cuma bagian akhirnya. Yang tidak kita lihat, jaksa-jaksa itu sudah mengendus sejak akhir Mei. Pelan-pelan. Diam-diam. Mengikuti ke mana uangnya pergi, sampai ketemu ujungnya. Inilah yang selalu ditekankan oleh Jaksa Agung. Work in Sillence.
Sekarang, apa sebenarnya yang mereka lakukan? Begini. Program Makan Bergizi Gratis itu jalannya lewat dapur-dapur. Namanya SPPG, satuan yang masak lalu mengantar makanan ke sekolah. Dapur-dapur ini dikelola yayasan. Negara bayar yayasan itu, yayasan yang memasak, anak-anak yang makan. Sederhana. Masalahnya, yayasan yang dipilih bukan yayasan sembarangan. Sebagian terhubung dengan orang dalam BGN sendiri.
Bahkan ada yang pemiliknya, ya, para tersangka itu. Jadi mereka yang menunjuk, mereka juga yang ditunjuk. Mereka yang membayar, mereka juga yang dibayar. Dan uangnya tidak sedikit. Yayasan-yayasan ini menerima miliaran setiap hari. Kalau dijumlahkan setahun, triliunan. Lalu masih ada urusan belanja-belanja yang tadi saya sebut. Motor listrik 21 ribu unit. Sepatu puluhan ribu pasang. Tablet, televisi 75 inci, dan masih banyak lagi. Semua, menurut penyidik Kejaksaan, dibeli dengan harga yang digelembungkan. Dan semua itu atas nama memberi makan anak sekolah.
Sampai di sini saya mau berhenti dulu. Sebab dari titik inilah orang paling gampang salah mengambil kesimpulan. Tiap kali skandal sebesar ini meledak, suara yang paling kencang biasanya itu-itu saja. Bubarkan BGN. Setop MBG. Sudah, tutup saja semuanya. Saya paham dari mana datangnya marah itu. Tapi izinkan saya menawarkan cara memandang yang agak lain.
Lewat sepak bola. Bayangkan ada satu pertandingan yang ternyata diatur. Ada pemain yang dibayar supaya kalah. Ada wasit yang sudah disetel jauh sebelum peluit pertama ditiup. Begitu semuanya ketahuan, apa yang kita kerjakan? Kita hukum pemainnya. Kita seret wasitnya. Kita kejar bandar yang mengatur semuanya sampai dapat. Tapi adakah orang yang lalu berteriak supaya sepak bola dihapus dari muka bumi?
Adakah yang menyuruh jutaan penonton pulang dan disuruh berhenti mencintai permainan itu? Tidak ada. Yang busuk cuma pertandingan itu. Sepak bolanya jalan terus besok pagi.
Makan Bergizi Gratis ini ceritanya sama persis. Pertandingannya memang ada yang mengatur. Tata kelolanya dibengkokkan oleh orang-orang yang justru ditugaskan menjaganya. Tapi gagasannya? Memberi makanan bergizi kepada anak yang datang ke sekolah? Itu tidak ikut kotor. Sampai hari ini itu masih salah satu hal paling masuk akal yang bisa dikerjakan sebuah negara untuk rakyatnya.
Ini bukan barang baru di dunia. India punya program yang mirip. Namanya Midday Meal. Memberi makan anak sekolah, sama seperti kita, cuma jauh lebih besar. Sekarang ini mereka memberi makan kira-kira 120 juta anak setiap hari. Terbesar di seluruh dunia. Flashback jauh ke belakang, tepatnya pada 2013 pernah datang petaka pada program itu.
Di sebuah negara bagian bernama Bihar, 23 anak meninggal dunia setelah memakan. Makan makanan dari program itu. Makanannya tercemar. Ternyata minyak yang dipakai memasak disimpan di wadah bekas pestisida. Dunia mengecam. Dan itu belum termasuk korupsinya, dana yang dikemplang di sana-sini, sampai ada cerita soal ratusan ribu murid fiktif, nama-nama yang dicatat menerima makan padahal orangnya tidak ada. Bayangkan kalau itu terjadi di sini. Sudah pasti ramai teriakan supaya program itu dikubur saja. Tapi India tidak melakukan itu.
Mereka tidak membunuh programnya. Mereka membersihkannya. Pengawasan diperketat. Orang-orangnya diganti. Sistemnya dibangun ulang dari bawah. Programnya bahkan berganti nama, sekarang disebut PM Poshan. Dan hari ini, setelah semua aib itu, ia tetap berdiri sebagai program makan anak sekolah terbesar yang pernah dibuat manusia. Pelajarannya cuma satu. Skandal tidak membatalkan tujuan. Yang busuk dibuang, yang baik diteruskan. Sesederhana itu, walaupun mengerjakannya tidak pernah sederhana.
Maka satu hal yang ingin saya titipkan kepada Kejaksaan. Jangan berhenti di tiga orang itu saja. Menahan seorang kepala lembaga memang berani. Tapi keberanian yang mengerem di tengah jalan namanya bukan lagi keberanian. Itu pilih-pilih sasaran. Yang kemarin sore memakai rompi itu duduk di pucuk. Tapi tidak ada perampokan sebesar ini yang dikerjakan bertiga saja. D
i bawah mereka berlapis-lapis orang. Ada yang menyiapkan jalannya. Ada yang meneken tanpa bertanya, karena tahu, bertanya hanya bikin susah. Ada juga yang melihat semuanya busuk lalu memilih diam, sebab diamnya dibayar mahal. Mereka semua masih di luar sana. Masih bebas. Masih menunggu ributnya reda untuk kembali ke meja yang sama. Jangan beri mereka kesempatan itu. Saya bukan sedang meragukan Kejaksaan. Saya tahu persis mereka punya nyali. Bertahun-tahun terakhir mereka menyeret nama-nama yang dulu orang pikir mustahil disentuh. Justru karena itu saya menuntut lebih, bukan kurang. Institusi yang sudah membuktikan diri tidak boleh berhenti di tangkapan yang paling gampang. Kejar sampai ke dasar. Sampai orang terakhir yang ikut menikmati uang yang seharusnya jadi piring makan anak-anak itu.
Saya kebetulan sedang menulis sebuah buku tentang jaksa. Judulnya Jaksa Angsa yang akan terbit sekitar Agustus atau September mendatang. Jadi, saya coba ambil beberapa pemikiran saya yang sudah sempat dituliskan di dalam draf buku tersebut. Begini. Orang jarang benar-benar memperhatikan angsa. Mereka pikir angsa itu cuma burung putih yang cantik di kolam, berenang ke sana kemari untuk dilihat orang. Padahal kalau Anda amati lebih lama, ada satu hal yang luar biasa pada binatang ini. Lehernya. Leher angsa panjang sekali. Dan leher itu bukan hiasan. Ketika angsa lapar, ia tidak menunggu makanan mengapung lewat di depan paruhnya. Ia membenamkan kepalanya ke dalam air, menjulurkan lehernya jauh ke bawah, sampai ke dasar yang tidak bisa dijangkau bebek atau burung air biasa. Di situlah ia mengambil makanannya. Dari tempat yang orang lain bahkan tidak tahu ada apa di sana. Saya melihat jaksa yang baik seperti itu.
Perkara ini tidak berhenti pada apa yang mengapung di permukaan. Tiga orang yang kemarin keluar berompi merah muda itu memang yang paling kelihatan. Tapi yang paling kelihatan belum tentu yang paling dalam. Tugas jaksa justru membenamkan kepalanya, menjulurkan lehernya ke bawah, terus sampai ke dasar, sampai semua yang selama ini tenggelam dan tidak terlihat ikut terangkat. Sebab cuma dengan begitu, setelah dasarnya benar-benar dibersihkan, Makan Bergizi Gratis bisa kembali berdiri lurus. Berjalan seperti yang dijanjikan kepada anak-anak itu sejak hari pertama.
Tiga orang itu tahu persis apa yang mereka kerjakan. Mereka tahu uang itu untuk anak-anak. Mereka tahu setiap rupiah yang dibelokkan adalah satu porsi yang hilang dari meja makan seorang anak yang menunggu di sekolahnya. Mereka tahu, dan mereka tetap melakukannya. Berulang kali. Dengan tenang. Sambil tersenyum di depan kamera setiap kali program ini dipuji. Itu yang membuat saya tidak bisa menerima kata khilaf untuk perkara ini. Khilaf itu sekali, lalu menyesal. Ini dirancang, dijalankan, dinikmati, lalu dirancang lagi untuk tahun berikutnya.
Maka, bagi siapa pun yang kini masih berada di BGN, ingatlah bahwa program ini sudah terlalu banyak menanggung caci maki. Sejak hari pertama, Makan Bergizi Gratis dihujani keraguan dari segala arah. Dibilang pemborosan. Dibilang akal-akalan. Dibilang program mercusuar yang tidak akan jalan. Presiden Prabowo menahan semua itu di pundaknya, karena ia percaya pada satu hal yang sederhana, bahwa anak yang kenyang dan bergizi hari ini adalah negara yang kuat dua puluh tahun lagi.
Lalu apa yang dilakukan tiga orang itu terhadap kepercayaan sebesar itu? Mereka memberi peluru kepada setiap orang yang sejak dulu ingin program ini mati. Jadi tugas Anda yang masih tinggal di BGN, sekarang bukan lagi sekadar memasak dan mengantar makanan. Tugas Anda lebih berat dari itu. Buktikan bahwa niat baik ini tidak salah, yang salah hanya orang-orang yang kemarin mengkhianatinya. Termasuk Dadan. Jalankan program ini sebersih-bersihnya. Sebaik-baiknya. Dan selalu ingat, program ini untuk anak-anak kita. Penerus kita yang akan memelihara dan merawat bangsa ini.(Anggota Komisi III DPR RI/Fraksi Partai Demokrat/***)
Editor : Hairil Paputungan