Jagosatu.com-Lukisan terkenal yang menggambarkan Pangeran Diponegoro sedang menunggang kuda melawan penjajah Belanda tentu akrab di mata banyak orang.
Dalam lukisan itu, Diponegoro tampak gagah dengan gamis dan sorban putih, menegaskan wibawa serta semangat perjuangannya.
Karya ini bukan sekadar lukisan biasa, melainkan hasil goresan Sindoedarsono Sudjojono, tokoh besar seni rupa Indonesia.
S. Sudjojono dikenal sebagai Bapak Seni Rupa Modern Indonesia, yang banyak menciptakan karya penuh makna sejarah.
Proses penciptaan lukisan Perang Diponegoro dilakukan dengan riset mendalam, bukan hanya imajinasi semata.
Ia menelaah catatan sejarah, mempelajari anatomi manusia, hingga memilih artefak yang tepat sebagai acuan visual.
Semua hasil riset itu kemudian dituangkan ke dalam kanvas, menghadirkan potret perang yang hidup dan meyakinkan.
Kini, sketsa awal dari lukisan monumental itu bisa disaksikan dalam pameran Nyala: 200 Tahun Perang Diponegoro.
Pameran ini berlangsung di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta Pusat, dan menampilkan warisan seni yang bernilai tinggi.
Sketsa asli yang dipamerkan terdiri dari beberapa lembar kertas dengan catatan tulisan tangan S. Sudjojono.
Tulisan itu dibuat dengan tinta biru tua di atas kertas yang kini mulai menguning dimakan usia.
Setiap lembar diberi nomor urut, tetapi di pameran kali ini hanya empat kertas yang bisa dilihat pengunjung.
Menurut penjelasan pemandu, sebenarnya ada lima lembar sketsa, namun satu lembar hilang entah ke mana.
Keunikan lain, tulisan dalam sketsa tersebut menggunakan ejaan lama, sehingga sulit dipahami generasi muda.
Tulisan sambung yang saling bertaut membuat remaja masa kini makin kesulitan membacanya.
Selain catatan, terdapat pula coretan visual berupa sketsa orang berkuda dengan tombak di tangannya.
Ada pula gambaran pertempuran antara pejuang pribumi yang bersenjata tombak melawan Belanda yang sudah memakai pistol.
Suasana perang dalam sketsa terasa hidup meski hanya berupa coretan tinta di atas kertas.
Pengunjung yang datang ke pameran diperbolehkan memotret, dengan syarat tidak menggunakan flash kamera.
Pameran ini berlangsung di Gedung A Galeri Nasional hingga 15 September 2025, dengan tiket mulai Rp25.000.(LR)
Editor : ALengkong