JAGOSATU.COM - Pelatih Tottenham Hotspur Thomas Frank mengambil seluruh tanggung jawab atas kekalahan telak timnya 4-1 dari Arsenal pada Derby London Utara di Stadion Emirates, Senin (24/11) dini hari WIB. Kekalahan itu tidak hanya menjadi pukulan bagi Spurs, tetapi juga menambah tekanan besar kepada Frank yang kini tengah berada dalam sorotan tajam setelah performa Spurs kembali menurun.
Pertandingan berjalan berat sebelah sejak awal. Arsenal unggul cepat melalui Leandro Trossard, sebelum Eberechi Eze membuat hattrick yang mematikan dan mengakhiri pertandingan dengan kemenangan besar. Tottenham sebenarnya sempat memiliki harapan setelah tembakan jarak jauh Richarlison pada menit ke-55 memperkecil ketertinggalan menjadi 3-1, tetapi Eze kembali mencetak gol 21 menit kemudian, memupus seluruh peluang kebangkitan.
Kemenangan telak ini membuat Arsenal unggul enam poin di puncak klasemen Liga Inggris dan mencatatkan margin kemenangan terbesar atas rival sekotanya tersebut. Bagi Thomas Frank, pertandingan ini menjadi salah satu momen paling menyakitkan sejak ia mengambil alih klub.
“Ini sangat menyakitkan, saya tidak akan meninggalkannya begitu saja,” ujar Frank kepada Sky Sports. “Kami hanya bisa meminta maaf kepada para penggemar atas penampilan itu. Penampilan yang buruk. Saya melihat banyak karakter dan semangat juang di tim ini, tetapi kami tidak cukup banyak memenangkan duel.”
Frank memang tidak mencari alasan. Ia mengakui sepenuhnya bahwa perubahan formasi yang ia lakukan sejak awal pertandingan tidak berjalan sesuai rencana. Untuk mengantisipasi serangan cepat Arsenal, Frank memilih bermain dengan tiga bek—Micky van de Ven, Cristian Romero, dan Kevin Danso. Namun, bukannya membuat lini belakang lebih solid, formasi tersebut justru membuka ruang bagi Arsenal untuk melakukan tekanan bertubi-tubi.
Trossard membuka skor setelah mendapat ruang tembak di sisi kiri, memanfaatkan celah pertahanan Spurs. Gol itu membuat Tottenham makin tertekan, dan usaha mereka merapikan permainan justru berujung pada kehilangan momentum.
Eberechi Eze kemudian menjadi mimpi buruk bagi Spurs. Gol pertamanya lahir pada menit ke-41 melalui serangan cepat Arsenal yang membuat barisan belakang Tottenham kerepotan. Setelah babak pertama berakhir 2-0, Frank kembali ke formasi empat bek dengan menarik Kevin Danso dan memasukkan Xavi Simons. Namun perubahan itu tidak cukup menghentikan agresivitas Arsenal.
Babak kedua baru berjalan 25 detik, Eze kembali mencetak gol lewat penyelesaian dingin setelah memanfaatkan kelengahan lini tengah Spurs. Gol ketiganya di menit ke-69 memastikan hattrick dan sekaligus memperlihatkan betapa mudahnya Arsenal menembus pertahanan Tottenham yang kehilangan fokus.
“Saya akan selalu bertanggung jawab atas pilihan saya,” kata Frank. “Apa pun formasi yang kami mainkan, kami tidak memiliki cukup duel atau intensitas di momen-momen penentu. Dan itu membuat sangat sulit untuk memenangkan pertandingan sepak bola.”
Masalah Tottenham bukan hanya pertahanan. Serangan mereka juga tampil tumpul. Dalam 90 menit, Spurs hanya melepaskan tiga tembakan—dan hanya dua yang tepat sasaran. Minimnya kreativitas di sepertiga akhir menjadi masalah berulang musim ini, dan data statistik memperkuat gambaran tersebut.
Tottenham mencatat dua nilai expected goals (xG) terendah musim ini:
-
0,07 melawan Arsenal
-
0,1 melawan Chelsea pada awal November
Secara total, Spurs hanya memiliki 11,2 xG di Liga Inggris musim ini, lebih rendah daripada tim-tim seperti Aston Villa (10,9), Sunderland (10,6), dan Burnley (8,7). Angka tersebut memperlihatkan betapa sulitnya Spurs menciptakan peluang berkualitas sepanjang musim.
“Ini menjadi tema berkelanjutan yang terus kami upayakan untuk ditingkatkan,” lanjut Frank. “Hari ini tidak terlihat bagus, atau melawan Chelsea. Akan ada keributan, kami bermain melawan rival terbesar kami, dan kami kalah telak. Tapi kami akan tetap tenang dan fokus. Saya tahu tim ini kompetitif. Hasil hari ini buruk, tidak cukup bagus.”
Kekalahan ini membuat Tottenham kini sudah kalah tiga kali dari lima pertandingan terakhir. Tekanan dari fans pun mulai terdengar, terutama karena Spurs kesulitan menunjukkan identitas permainan yang stabil, baik dalam bertahan maupun menyerang.
Meskipun Frank menegaskan bahwa dirinya sepenuhnya bertanggung jawab, pertanyaan besar kini muncul mengenai efektivitas pendekatan taktisnya di klub. Dengan jadwal berat yang akan datang, Tottenham harus menemukan solusi cepat jika ingin bangkit dari periode buruk ini.
Editor : Toar Rotulung