JAGOSATU.COM - Tunggal putra andalan Indonesia Jonatan Christie bangkit di penghujung 2025. Sudah dua gelar ia raih. Yakni Korea Open Super 500 dan Denmar Open Super 750. Di saat rekan seangkatannya Anthony Ginting masih melempem pasca cedera, Jojo, panggilan Jonathan justru menemukan lagi kepercayaan diri. Ia terpuruk pasca Juara All England 2024. Tak satu pun gelar ia raih hingga Korea Open dan Denmar di penghujung 2025 membuatnya menemukan lagi kepercayaan diri.
Kendati begitu, Jojo tidak bisa terus menerus jadi tumpuan. Apalagi ia juga harus menghitung tenaga. Seperti misalnya di French Open, Juara Asian Games 2018 itu tersandung di ronde kedua.
Tapi peringkat BWF-nya naik dari ranking 6 ke ranking 5 menggeser tunggal putra Taiwan, Chou Tien Chen.
Kini Jojo melangkah ke babak kedua Hylo Open 2025 di Jerman, rangkaian penutup tur Eropa.
Ia menjadi satu-satunya andalan Indonesia di tunggal putra. Dan lagi dirinya sudah berstatus sebagai pemain non pelatnas. Ginting dan Alwi Farhan yang notabene atlet pelatnas justru absen. Praktis nomor tunggal putra bertumpu lagi pada Jojo.
Bukan Jojo jika mengeluh. Ia tetap semangat dan siap bertarung dengan jagoan dari China, Jepang, Korea, dan daratan Eropa.
Ia hanya berharap, dua tunggal putra calon penerus dirinya dan Ginting, Alwi Farhan, Muhammad Zaki Ubaidlillah diberi lebih banyak peluang ikut BWF Worl Tour agar mendongkrak performa dan juga menaikkan ranking dunia.
Baginya, melihat juniornya, Alwi Farhan dan Ubed, panggilan Moh Zaki Ubaidillah, yang kian matang, justru menyenangkan. Sebab, keduanya mulai jadi ancaman di sektor tunggal putra dunia.
Jonatan menunjukkan kedewasaan dan semangat kebersamaan yang tinggi di tengah kancah persaingan bulutangkis dunia.
Jonatan menyatakan rasa bahagianya atas kemajuan pesat yang ditunjukkan oleh para juniornya, terutama Alwi Farhan dan Moh. Zaki Ubaidillah. Saat ini, kedua junior Jonatan itu tengah menjadi sorotan berkat prestasi impresif di usia muda.
Alwi Farhan (20 tahun) beberapa waktu lalu menjuarai Macau Open 2025 Super 300. Ubed, tengah naik daun setelah meraih gelar Juara Asia Junior 2025.
"Senanglah dengan progres Alwi, Ubed. Mudah-mudahan lebih banyak lagi yang muda-muda cepat join ke atas, supaya bisa berangkat bareng," ujar Jojo Rabu (29/10/2025).
Bukan Ancaman
Ia menegaskan kehadiran Alwi di turnamen top level, tidak sebagai ancaman buat dirinya. Jojo justru melihat hal ini sebagai keuntungan besar bagi bulu tangkis Indonesia. Dengan memiliki banyak perwakilan di turnamen besar secara tidak langsung meningkatkan kepercayaan diri kolektif bangsa.
Ia mengambil perbandingan dari negara-negara yang memiliki kedalaman skuad tunggal putra menakjubkan. Seperti China dan Taiwan. Sebab, jumlah atlet di level teratas memberi dampak psikologis yang signifikan buat lawan-lawan dari negara lain.
"China tuh dengan sekali bertanding bisa lima atlet, enam atlet. Rasanya kayak ‘wah gila banyak banget China ya’. Barusan lawan satu, yang lain sudang menunggu," tambahnya.
"Secara psikologis baik buat saya dan teman lain seangkatan. Bahwa misalnya kita tersandung, oh ada junior kita yang menambal. Banyaknya pemain hadir di top level itu tuh membuat suatu kepercayaan diri lagi bahwa satu negara itu mempunyai atlet yang bisa untuk berkompetisi di top level,” lanjut Jojo.
Jojo melihat feel atau nuansa persaingan di Asia terasa berbeda ketika suatu negara memiliki pemain yang banyak di turnamen elit. Dibanding dengan negara yang hanya mengandalkan satu atau dua bintang seperti Viktor Axelsen dan Anders Antonsen di Denmark.
"Jika banyak pelapis, kita pun yang senior rasanya kayak gimana gitu. Pokoknya happy-lah. Dan semoga Alwi dan Ubed kian matang," sambung Jojo.(ril/dbs/jg1)
Editor : Hairil Paputungan