Arkeologi Daerah Ekonomi Ekonomi & Bisnis Esport Gaya Hidup Global Headline Hiburan Hukum & Kriminal Kesehatan Lifestyle & Hiburan Nasional Olahraga Pemerintahan Politik Sains & Teknologi Teknologi Wisata Wisata & Kuliner

Jonathan Christie Lebih Garang di Jalur Mandiri, Ini Pemicunya

Hairil Paputungan • 2025-11-03 17:42:25
Hadiah Juara Hylo Open 2025
Hadiah Juara Hylo Open 2025

Jonathan Christie Lebih

Garang di Jalur Mandiri,

Ini Pemicunya

 

 

JAGOSATU.COM - Jonathan Christie membuat denyut tunggal putra bulutangkis Indonesia mengencang lagi. Tiga gelar sudah ia koleksi pada 2025. Dan itu ia raih setelah memutuskan keluar dari Pelatnas Cipayung.

Keputusan Jonatan Christie, akrab disapa Jojo meninggalkan Pelatnas PBSI pada Mei 2025 dan memilih berkarier sebagai pemain profesional sempat memicu perdebatan.

 

Namun, kiprahnya pasca berstatus pemain mandiri justru mencatat peningkatan luar biasa. Ia sukses meraih gelar bergengsi seperti Juara Denmark Open 2025.  Bukti bahwa jalur profesional memantik bara ‘api’ semangat baru, terutama kualitas permainannya.

 

Apa saja kunci yang membuat Jojo tampil lebih garang meraih hasil gemilang setelah tak lagi di bawah bayang-bayang Cipayung?

Salah satu alasan terbesar yang disebut-sebut oleh pengamat adalah hilangnya tekanan berlebih yang kerap menghantui pemain Pelatnas.

- Tekanan Public Figure

Selaku ujung tombak tunggal putra Indonesia, beban moral untuk selalu menang dan menjadi tumpuan Merah Putih sangat berat. Pengamat menilai, tekanan ini seringkali membuat Jojo bermain tak lepas dan terlalu berhati-hati.

 Baca Juga: Jonatan Christie Senang Alwi Farhan dan Uded Mulai Mengancam Tunggal Putra Dunia  

- Kenyamanan Diri

 Jojo mengungkapkan bahwa keputusan keluar dari Pelatnas adalah untuk mengurangi keegoisan diri dan memberikan waktu lebih fleksibel bagi keluarga, terutama setelah ia menikah. Kondisi mentalnya lebih tenang, didukung fleksibilitas jadwal, memungkinkan Jojo mengambil keputusan strategis di lapangan dengan pikiran jernih.

Di Pelatnas, atlet terikat pada program pelatihan terpusat berlaku untuk semua pemain di nomor yang sama. Dengan menjadi pemain profesional memberi Jojo hak prerogatif mengatur latihan sendiri.

 

- Individualisasi Program:

Sebagai pemain mandiri, Jojo menyusun program latihan yang sepenuhnya diindividualisasikan sesuai kebutuhan fisiknya, kelemahan teknis, dan jadwal turnamen. Ini memungkinkan ia fokus pada penguatan spesifik yang selama ini bisa saja terabaikan.

Keputusan Jojo mengikuti jejak para pemain profesional yang sukses dunia, seperti Viktor Axelsen (Denmark) dan Lee Zii Jia (Malaysia), memberinya inspirasi baru. Jojo mengadopsi sistem training camp dan sparing partner lebih bervariasi dan spesifik, alih-alih terikat pada rutinitas Pelatnas.

 

Keputusan Jojo mundur dari Pelatnas tidak lepas dari kekecewaannya pasca-Olimpiade Paris 2024. Kegagalan itu sempat membuatnya berpikir pensiun. Tetapi kini justru menjadi titik balik.

- Penebusan:

Setelah mempertimbangkan pensiun, Jojo memutuskan terus berjuang dengan komitmen baru. Status profesional justru memberinya motivasi ganda. Membuktikan bahwa ia bisa sukses tanpa fasilitas pelat merah, sekaligus menebus kegagalan Olimpiade.

- Regenerasi:

Jojo memiliki pertimbangan etis untuk memberi ruang dan jam terbang lebih bagi junior Pelatnas, seperti Alwi Farhan, M Zaki Ubaidillah untuk berkembang. Semangat tanpa keegoisan ini membuat langkahnya terasa lebih ringan.

 

Sebagai pemain profesional papan atas, Jonatan Christie memiliki dukungan sponsor kuat yang memungkinkan membangun tim pendukung mandiri. Mulai pelatih fisik, ahli gizi, fisioterapis, dan lainnya, yang mutlak fokus hanya pada dirinya. Ini memastikan Jojo selalu dalam kondisi fisik dan teknis terbaik sebelum bertanding.

Keputusan Jojo mengulang sejarah beberapa legenda bulu tangkis yang juga sukses di jalur mandiri.

 

Performa ganas pasca-Pelatnas ini tidak hanya menguntungkan Jojo secara pribadi, tetapi juga menjadi model baru kolaborasi antara atlet profesional dan PBSI. Yakni, di luar pelatnas tidak mengendurkan komitmen untuk terus mengibarkan Merah Putih.  ‘’Pakai jalur apapun, merah putih tetap di dada. Itu yang terpenting. Dan sebagai anak bangsa, seharusnya Garuda di dada tetap menjadi prioritas tertinggi,’’ tegas peraih emas Asian Games 2018 itu.

Kegundahan Jojo sudah dimulai pada 2024. Tahun lalu hanya sekali ia menjejak final dan untungnya juara. Yakni di All England 2024 saat mengalahkan rekan sendiri di final, Anthony Ginting.

 

Bukti bahwa Jojo kian fokus dalam setiap laga sebetulnya sudah tergambar di partai semifinal lawan Alex Lanier. Lepas dari ketiadaan pemain China, Korea dan Jepang, gaya lepas Jojo membendung ganasnya serangan Lanier yang seangkatan Alwi Farhan bisa ia taklukan dengan gaya tengil. Tertinggal jauh gim pertama, lalu nyaris kalah di gim kedua, Jojo mempermainkan bocah Prancis 20 tahun itu di gim penentu. Sehingga ketika tampil di final semalam, ia main sangat enjoy dan acap melempar senyum bila pukulannya eror. Dibanding lawannya Magnus Johaneson yang tampak tegang hingga akhir pertandingan yang dimenangi Jojo dengan skor identik, 21-14, 21-14.(dbs/opr/***)

 

Editor : Hairil Paputungan
#Bulutangkis #jonathan christie