Arkeologi Daerah Ekonomi Ekonomi & Bisnis Esport Gaya Hidup Global Headline Hiburan Hukum & Kriminal Kesehatan Lifestyle & Hiburan Nasional Olahraga Pemerintahan Politik Sains & Teknologi Teknologi Wisata Wisata & Kuliner

Selamat Tinggal "Parutan Keju": Apple Konfirmasi Berhenti Bikin Mac Pro

Toar Rotulung • 2026-03-31 00:00:00

Ilustrasi Produk Mac Pro di Bukit Rumput
Ilustrasi Produk Mac Pro di Bukit Rumput

JagoSatu.com - Apple resmi mengonfirmasi bahwa mereka telah menghentikan produksi Mac Pro. Produk ikonik ini sudah dihapus dari situs resmi Apple sejak Kamis sore dan dialihkan ke halaman utama Mac. Ini adalah langkah yang sangat radikal bagi Apple, mengingat Mac Pro selama ini menjadi simbol kekuatan tertinggi di ekosistem mereka.

Keputusan ini menandai berakhirnya sebuah era bagi pengguna profesional yang mengandalkan workstation modular. Apple juga mengonfirmasi bahwa mereka tidak memiliki rencana untuk menawarkan perangkat keras Mac Pro di masa depan. Sepertinya Apple mulai menyadari bahwa desain menara besar sudah tidak relevan lagi dengan efisiensi chip Apple Silicon saat ini.

Berdasarkan laporan dari GamesIndustry.biz, Mac Studio kini diposisikan sebagai masa depan desktop profesional Apple. Versi terakhir Mac Pro yang menggunakan chip M2 Ultra rilis pada 2023, namun sejak itu tidak pernah diperbarui lagi. Kasihan sekali nasib Mac Pro, dibiarkan usang padahal harganya selangit sementara saudaranya yang lebih kecil terus mendapat pembaruan.

Mac Studio kini memegang takhta sebagai desktop 'pro' masa depan dengan konfigurasi chip M3 Ultra yang sangat gahar. Perangkat ini bisa dipasangkan dengan CPU 32-core, GPU 80-core, hingga RAM 256GB dan penyimpanan 16TB. Performa segila itu dalam kotak sekecil itu memang membuat eksistensi Mac Pro yang bongsor jadi terlihat sangat mubazir.

Lineup desktop Apple sekarang menyisakan tiga pemain utama: iMac 24 inci, Mac mini, dan sang juara bertahan Mac Studio. Untuk urusan laptop, mereka punya MacBook Neo, Air, dan Pro. Susunan produk ini terasa sangat solid dan masuk akal, tanpa ada produk membingungkan yang tumpang tindih secara fungsional.

Sebagaimana dilaporkan oleh GamesIndustry.biz, penambahan fitur low-latency pada macOS Tahoe 26.2 juga menjadi faktor pendukung keputusan ini. Fitur tersebut memungkinkan penggunaan RDMA melalui Thunderbolt 5 untuk menghubungkan beberapa unit Mac sekaligus demi performa maksimal. Teknologi ini secara efektif membunuh kebutuhan akan slot ekspansi internal yang selama ini menjadi nilai jual utama Mac Pro.

Menjual Mac Pro dengan chip M2 Ultra di harga $6,999 saat teknologi sudah berpindah ke M4 adalah sebuah kesalahan besar. Apple akhirnya memilih untuk memprioritaskan Mac Studio yang lebih modern dan efisien bagi para pekerja kreatif. Keputusan yang sangat logis secara bisnis, meski mungkin menyakitkan bagi mereka yang menyukai estetika casing parutan keju.

Mac Pro memang telah menjalani banyak fase desain sejak pertama kali diluncurkan bertahun-tahun yang lalu. Dari model menara klasik hingga model tabung yang kontroversial, Mac Pro selalu menjadi bahan pembicaraan para tech enthusiast. Tapi kali ini, sepertinya Apple benar-benar ingin menutup buku sejarah tersebut demi efisiensi lini produksi mereka.

Dikutip dari GamesIndustry.biz, rilisnya MacBook Neo di segmen entry-level juga memperkuat barisan komputer Apple secara keseluruhan. Kini ada pilihan yang mencakup berbagai titik harga, konfigurasi, dan bentuk yang berbeda untuk setiap jenis pengguna. Lini produk Mac sekarang terlihat paling rapi dan kuat dalam sejarah panjang perjalanan perusahaan asal Cupertino ini.

Para loyalis Mac Pro pasti akan merasa kecewa dengan pengumuman yang mendadak namun sudah bisa ditebak ini. Namun, tanda-tanda kematian perangkat ini sebenarnya sudah terlihat jelas sejak Mac Studio mampu menandingi performanya. Loyalitas memang penting, tapi performa dan efisiensi ruang adalah pemenang sesungguhnya di meja kerja para profesional.

Meskipun Pro Display XDR juga telah dihentikan awal bulan ini, Apple tampaknya ingin menyegarkan seluruh ekosistem workstation mereka. Strategi baru ini lebih fokus pada perangkat yang ringkas namun memiliki daya komputasi yang meledak-ledak. Saya rasa ini adalah evolusi alami, mengingat chip ARM milik Apple memang tidak butuh ruang pendinginan sebesar Intel.

Mengutip laporan GamesIndustry.biz, skalabilitas performa kini bisa dilakukan secara eksternal melalui koneksi Thunderbolt 5 yang sangat cepat. Hal ini mematahkan argumen bahwa workstation harus berukuran besar agar bisa ditingkatkan kemampuannya di masa depan. Apple sedang mendefinisikan ulang cara kerja profesional tingkat tinggi tanpa perlu perangkat yang memakan tempat di meja.

Apple harus memilih antara memberikan pembaruan besar pada Mac Pro atau menghentikannya sama sekali demi efisiensi. Mempertahankan produk lama dengan harga premium hanya akan merugikan konsumen yang menginginkan teknologi terbaru. Langkah berani ini membuktikan bahwa Apple tidak takut mematikan produk legendaris demi kemajuan ekosistem yang lebih ringkas.

Bagi banyak orang, Mac Pro adalah sebuah pernyataan status di industri kreatif dunia. Namun bagi Apple, produk tersebut sepertinya sudah menjadi beban yang sulit untuk dipertahankan di era silikon mandiri mereka. Selamat jalan Mac Pro, terima kasih atas memori parutan keju dan performa monster yang pernah menemani kita.

Kini fokus sepenuhnya beralih ke Mac Studio yang diharapkan segera mendapatkan pembaruan chip M4 Max. Masa depan komputasi profesional Apple terlihat sangat cerah meski tanpa kehadiran sang menara perak yang ikonik. Kita tunggu saja kejutan apa lagi yang akan dihadirkan Apple untuk menggantikan posisi Mac Pro di hati para pro-user. (tmtiwow)

Editor : Toar Rotulung