Jagosatu.com - Kecerdasan buatan kini mulai unjuk gigi di ajang olimpiade matematika dunia.
Baru-baru ini, OpenAI dan Google DeepMind berhasil membuat AI yang bisa mengerjakan soal International Mathematical Olympiad (IMO) seperti peserta manusia.
Menurut Reuters, model AI dari kedua perusahaan mampu menyelesaikan 5 dari 6 soal IMO 2025.
Hasil ini membuat model tersebut bisa digolongkan setara dengan peraih medali emas IMO.
Google DeepMind ikut secara resmi dengan model bernama Gemini Deep Think yang diuji dalam batas waktu 4,5 jam seperti peserta sungguhan.
Sementara itu, OpenAI menggunakan penilaian dari mantan peraih medali IMO secara internal, bukan melalui kompetisi resmi.
Meskipun begitu, hasil dari model OpenAI juga diakui setara dengan peraih medali emas.
Dilansir dari TechCrunch, OpenAI sempat dikritik karena mengumumkan kemenangan sebelum IMO merilis hasil resmi.
Google dianggap lebih hati-hati dan menghargai proses resmi lomba, kata Axios.
Keberhasilan ini menunjukkan bahwa AI kini sudah bisa menyelesaikan soal matematika yang biasanya hanya bisa dikerjakan anak jenius.
Baca Juga: Netflix Pakai AI: Inovasi Hemat Biaya atau Awal dari Akhir Kreativitas?
Menurut Business Insider, ini jadi bukti kuat bahwa AI bisa melakukan general-purpose reasoning atau pemikiran umum seperti manusia.
General-purpose reasoning adalah kemampuan untuk berpikir logis dan memecahkan masalah di berbagai situasi tanpa bantuan khusus.
Kemampuan ini dulunya hanya dimiliki manusia, tapi sekarang AI juga mulai bisa melakukannya.
Yang menarik, AI ini tidak dibuat khusus untuk matematika, tapi tetap bisa menyelesaikan soal IMO.
Itu artinya, AI sekarang bisa digunakan untuk banyak hal, bukan hanya satu bidang saja.
Tentu saja, ini jadi sinyal bahwa perkembangan AI semakin dekat ke arah Artificial General Intelligence (AGI).
AGI adalah mimpi besar di dunia AI, di mana mesin bisa berpikir seperti manusia dalam semua hal.
Namun, banyak yang masih mempertanyakan apakah AI bisa menggantikan manusia dalam proses belajar dan berpikir.
Karena meskipun cerdas, AI tetap butuh manusia untuk membimbing, mengarahkan, dan mengecek hasil kerjanya.
OpenAI sendiri mengatakan bahwa model AI yang mereka pakai belum akan dirilis ke publik karena masih butuh komputasi besar.
Begitu juga dengan DeepMind, yang menyebut bahwa hasil ini adalah langkah awal untuk kolaborasi antara manusia dan mesin.
Kalau AI sudah bisa menang olimpiade, bukan tak mungkin ke depan AI ikut bantu riset sains atau bikin penemuan baru.
Tapi, kita juga harus siap menghadapi tantangan soal etika dan peran manusia ke depannya.
Apakah manusia akan tersingkir atau justru berkolaborasi dengan AI?
Yang pasti, persaingan antara OpenAI dan DeepMind makin seru dan bisa mengubah masa depan pendidikan.
(KT)
Editor : ALengkong