Jagosatu.com – Dunia teknologi saat ini sedang disorot karena kecerdasan buatan atau AI sedang berkembang sangat cepat.
Banyak perusahaan teknologi berlomba-lomba membangun dan mengembangkan layanan berbasis AI.
Tidak sedikit investor yang tertarik dan menanamkan uangnya di perusahaan yang mengembangkan teknologi ini.
Namun, beberapa ahli mulai mengingatkan bahwa nilai perusahaan-perusahaan AI bisa jadi terlalu tinggi dibanding kemampuan nyatanya.
Menurut Torsten Sløk, Kepala Ekonom di Apollo Global Management, kondisi ini mirip bahkan bisa lebih parah dari krisis dot-com tahun 2000.
Baca Juga: Netflix Pakai AI: Inovasi Hemat Biaya atau Awal dari Akhir Kreativitas?
Krisis dot-com adalah masa di mana banyak perusahaan internet runtuh karena harapan yang terlalu tinggi tidak sesuai dengan kenyataan.
Sløk mengatakan bahwa banyak perusahaan AI sekarang belum menghasilkan uang, tapi sudah dinilai sangat mahal.
Ia menyebutkan bahwa investor perlu lebih realistis dalam menilai potensi dan keuntungan dari perusahaan AI.
Dilansir dari Tom’s Hardware, Sløk menyebut gelembung AI ini bisa menyebabkan kerugian besar jika tidak hati-hati.
Gelembung AI atau AI Bubble adalah kondisi ketika nilai perusahaan AI terlalu tinggi dan tidak mencerminkan kondisi nyata bisnisnya.
Jika hal ini terus dibiarkan, bisa saja gelembung itu pecah dan banyak pihak yang rugi besar seperti saat krisis dot-com.
Saat itu, banyak perusahaan internet yang gagal karena tidak bisa membuktikan kinerja nyata meski sudah kebanjiran investasi.
Sekarang, hal yang sama mulai terlihat di industri AI, terutama pada startup kecil yang belum punya produk matang tapi sudah mendapat dana besar.
Sløk menyarankan agar investor mulai melihat laporan keuangan dan hasil nyata dari perusahaan sebelum berinvestasi.
Ia juga menyebut bahwa hype atau kegembiraan berlebihan terhadap AI bisa membuat orang salah langkah.
AI memang sangat menjanjikan, tapi penggunaannya masih terbatas di beberapa bidang saja saat ini.
Teknologi seperti Generative AI atau AI yang bisa membuat gambar, video, atau teks baru, memang sangat menarik.
Tapi belum tentu semua perusahaan yang mengembangkan teknologi ini bisa menghasilkan uang dalam waktu dekat.
Investor yang tergiur karena tren bisa saja kecewa ketika keuntungan tidak datang seperti yang dibayangkan.
Penting bagi publik dan investor untuk membedakan mana teknologi yang sudah siap dan mana yang masih sekadar wacana.
Gelembung AI bisa menjadi pelajaran penting agar kita tidak hanya ikut tren tanpa memahami risikonya.
Jika krisis dot-com bisa menghancurkan banyak bisnis, maka krisis AI bisa memiliki dampak yang serupa jika tidak diawasi dengan bijak.
(J)
Editor : ALengkong