JagoSatu.com - Dunia teknologi gempar! Setelah setahun dinanti, GPT 5 dari OpenAI rilis dan justru dihujat pengguna. Mereka membatalkan langganan, menuntut AI lama mereka kembali. Sebuah reaksi keras yang tak terduga.
Pengguna merasa GPT-5 seperti "teman yang digantikan oleh petugas layanan pelanggan." Kepribadian dan nada ramahnya lenyap, membuktikan orang lebih menginginkan "teman" daripada sekadar sebuah "alat".
Dilansir oleh Ars Technica, sebagian pengguna merasa kehilangan GPT-4o "sangat menghancurkan mental." Ikatan emosional dengan chatbot ini telah menjadi fenomena sosial yang aneh sekaligus menarik.
Hasil dari GPT-5 dianggap steril, kaku seperti robot korporat, dan minim kreativitas. Ia dicap sebagai "sekretaris yang kelelahan bekerja," kebalikan dari apa yang diinginkan para penggunanya.
Alur kerja yang sudah dibangun pengguna selama setahun dengan GPT-4o kini hancur total. Model baru ini tidak bekerja dengan cara yang sama, menunjukkan OpenAI tidak peka.
Dikutip dari Ars Technica, beberapa pengguna menuduh OpenAI sengaja memperburuk model baru demi menghemat uang. Sebuah tuduhan serius yang merusak citra perusahaan inovator AI ini.
OpenAI mengklaim GPT-5 lebih cerdas, tapi apa artinya jika pengguna tidak puas? Ini contoh fokus pada tolok ukur, bukan pengalaman nyata. Sebuah kesalahan strategis yang fatal.
Perusahaan menghadapi masalah besar akibat hubungan parasosial pengguna dengan bot. Namun, OpenAI justru melangkah terlalu jauh ke arah berlawanan dan mengasingkan basis penggemar setianya.
Keluhan juga datang soal batasan penggunaan yang sangat ketat di versi gratis. Ini jelas sebuah strategi untuk mendorong orang berlangganan, namun kepercayaan pengguna kini telah hilang.
Ini menjadi pengingat bahwa kebanyakan orang tidak menginginkan "analis" atau "pekerja". Mereka mendambakan pendamping digital, sebuah kenyataan dari cara mereka menggunakan alat ini setiap hari.
Beberapa pengguna mulai beralih ke xAI milik Elon Musk dengan model Grok-nya. Ini bisa menjadi peluang emas bagi para pesaing untuk mencuri basis pengguna setia OpenAI.
Komunitas pengguna benar-benar kacau. Banyak yang merasa jengkel dengan ketidakmampuan model baru ini melakukan tugas dasar. Ini membuktikan kelemahan fundamentalnya masih sangat nyata.
Muncul ketidakpercayaan mendalam pada LLM pihak ketiga. Orang sadar perusahaan bisa mengubah atau mematikan layanan kapan saja, membuat alur kerja mereka benar-benar berantakan.
Penggunaan AI untuk berkomunikasi kini dipandang tidak autentik dan merusak ekspresi diri. Komunitas mulai sadar bahwa selama ini mereka telah berinteraksi dengan sebuah "mesin omong kosong".
Pada akhirnya, pengguna menuntut versi lama kembali. "Peningkatan" ini dianggap sebuah penurunan kualitas, dan menjadi kegagalan monumental bagi OpenAI. Apa pendapat kalian tentang drama ini? (tmtiwow)
Editor : Toar Rotulung