Arkeologi Daerah Ekonomi Ekonomi & Bisnis Esport Gaya Hidup Global Headline Hiburan Hukum & Kriminal Kesehatan Lifestyle & Hiburan Nasional Olahraga Pemerintahan Pertanian Politik Sains & Teknologi Teknologi Wisata Wisata & Kuliner

AI Mulai Kehilangan Gengsi? Fakta Mengejutkan di Balik Perlambatan Tren Artificial Intelligence

ALengkong • Kamis, 28 Agustus 2025 | 06:25 WIB

SAN FRANCISCO, CALIFORNIA - 16 NOVEMBER: CEO OpenAI Sam Altman terlihat hadir dalam KTT CEO APEC di Moscone West pada 16 November 2023 di San Francisco, California. KTT APEC diadakan di San Francisco
SAN FRANCISCO, CALIFORNIA - 16 NOVEMBER: CEO OpenAI Sam Altman terlihat hadir dalam KTT CEO APEC di Moscone West pada 16 November 2023 di San Francisco, California. KTT APEC diadakan di San Francisco

Jagosatu.com - Beberapa tahun terakhir, kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) jadi bintang utama di dunia teknologi.

Banyak orang menyebut AI sebagai masa depan, karena kemampuannya mengolah data dengan cepat dan menghasilkan ide yang sebelumnya mustahil.

Namun belakangan muncul tanda-tanda kalau demam AI ini mulai kehilangan tenaga.

Menurut laporan The Guardian, banyak perusahaan ternyata tidak merasakan dampak besar dari penggunaan AI di bisnis mereka.

Studi dari Massachusetts Institute of Technology (MIT) bahkan menemukan kalau sekitar 95 persen proyek AI generatif tidak benar-benar meningkatkan pendapatan perusahaan.

Generative AI sendiri adalah jenis AI yang bisa menciptakan konten baru, seperti teks, gambar, atau musik, hanya dari perintah sederhana pengguna.

Meskipun terdengar keren, nyatanya hasilnya belum selalu sesuai dengan kebutuhan industri.

Sam Altman, CEO dari OpenAI, mengaku bahwa ada ekspektasi berlebihan yang diberikan pada AI.

Hal ini membuat banyak orang mengira AI bisa jadi solusi semua masalah, padahal kenyataannya tidak semudah itu.

Baca Juga: Google AI Mode Resmi Hadir di Indonesia, Bisa Jadi Asisten Pribadi Super Pintar di Search!

Selain itu, model bisnis AI juga mulai dipertanyakan karena banyak platform yang masih bergantung pada iklan dan moderasi konten.

TikTok misalnya, menggunakan AI untuk mengawasi dan mengatur konten, tapi tetap membutuhkan tenaga manusia dalam jumlah besar.

Menurut The Guardian, beberapa perusahaan teknologi bahkan melakukan pemutusan hubungan kerja terhadap moderator manusia karena digantikan oleh sistem AI.

Sayangnya, AI belum bisa sepenuhnya menggantikan peran manusia karena masih sering melakukan kesalahan dalam memahami konteks.

Inilah sebabnya, banyak pihak menilai kalau hype atau euforia AI hanya sesaat dan akan segera mereda.

Meski begitu, bukan berarti AI tidak berguna sama sekali dalam kehidupan sehari-hari.

AI tetap membantu dalam hal-hal seperti asisten virtual, deteksi penyakit, hingga pengaturan lalu lintas di kota besar.

Hanya saja, penggunaannya harus lebih realistis dan sesuai kebutuhan, bukan sekadar ikut tren.

Perlambatan tren AI juga bisa jadi tanda kalau teknologi ini akan masuk fase matang, bukan lagi sekadar teknologi baru yang dipuja-puja.

Dengan demikian, masa depan AI masih ada, tapi tidak secepat dan seheboh yang banyak orang bayangkan.

Yang pasti, dunia teknologi akan terus menunggu langkah besar berikutnya, apakah AI benar-benar bisa membawa perubahan atau hanya jadi tren singkat.

(J)

Editor : ALengkong
#AI #SamAltman #ArtificialIntelligence #openai #mit #Teknologi