Jagosatu.com - Dunia teknologi kembali memanas setelah Tiongkok resmi melarang pembelian chip AI dari Nvidia oleh perusahaan-perusahaan dalam negeri.
Langkah ini langsung disambut Huawei dengan peluncuran infrastruktur kecerdasan buatan (AI) baru yang digadang-gadang akan mengguncang dominasi Nvidia.
Dalam konferensi Huawei Connect 2025 di Shanghai, Huawei memperkenalkan sistem interkoneksi bernama SuperPoD yang dapat menghubungkan hingga 15.000 chip secara serempak.
SuperPoD adalah teknologi yang memungkinkan ribuan chip AI bekerja bersama untuk menjalankan tugas berat seperti melatih model kecerdasan buatan skala besar.
Chip yang digunakan adalah seri Ascend milik Huawei, yang kini dikembangkan dalam roadmap jangka panjang hingga tahun 2028.
Huawei mengumumkan tiga chip baru yaitu Ascend 950, 960, dan 970, yang dirancang untuk memberikan performa tinggi dalam tugas AI berat.
Menurut Reuters, Huawei juga berhasil mengembangkan teknologi high-bandwidth memory (HBM) sendiri untuk menggantikan chip memori dari luar negeri.
Baca Juga: Penemuan Gila! AI Bisa Berpura-Pura Patuh, Tapi Sebenarnya Punya Agenda Rahasia!
HBM adalah komponen penting yang memungkinkan chip AI memproses data dalam jumlah besar dengan kecepatan tinggi.
Langkah ini dilakukan sebagai bagian dari strategi kemandirian teknologi Tiongkok di tengah pembatasan dari pemerintah Amerika Serikat.
Dilansir dari TechCrunch, pemerintah Tiongkok melalui Cyberspace Administration of China memerintahkan perusahaan seperti Alibaba dan ByteDance untuk menghentikan pembelian chip dari Nvidia.
Chip yang dilarang termasuk RTX Pro 6000D, yang sebelumnya dipasarkan secara khusus untuk pasar China sebagai bentuk adaptasi terhadap sanksi AS.
Situasi ini memaksa Nvidia kehilangan pangsa pasar besar di Tiongkok, yang sebelumnya merupakan salah satu pelanggan terbesarnya.
Sebagai gantinya, Huawei melangkah maju dengan mengklaim bahwa infrastruktur barunya bisa menyamai bahkan melampaui kemampuan chip buatan Nvidia.
Teknologi yang digunakan Huawei berbasis pada konsep “supernode + cluster”, yang memungkinkan ribuan chip terkoneksi dalam satu jaringan komputasi masif.
Menurut South China Morning Post, Huawei ingin agar infrastruktur AI ini menjadi pondasi pengembangan kecerdasan buatan nasional Tiongkok.
Dengan kekuatan chip buatan sendiri dan memori lokal, Huawei optimis bisa mandiri dari teknologi asing dalam beberapa tahun ke depan.
Namun, beberapa analis mengatakan masih perlu pembuktian apakah performa Ascend benar-benar bisa menyaingi chip Nvidia seperti H100 atau A100.
Meski demikian, langkah Huawei jelas menunjukkan bahwa Tiongkok serius membangun sistem AI-nya sendiri tanpa tergantung pada AS.
Pengembangan ini juga menunjukkan bahwa perang teknologi antara AS dan China tidak hanya soal pasar, tapi juga soal siapa yang menguasai masa depan AI.
Jika Huawei berhasil, bukan tidak mungkin perusahaan ini akan menjadi pemain utama global dalam teknologi AI skala besar.
Langkah-langkah ini memberi sinyal bahwa era dominasi tunggal dari perusahaan seperti Nvidia bisa jadi akan segera berakhir. (KT)
Editor : ALengkong